
Setelah mengantar Gladis, Syam pun pergi ke kamar Kirana lagi. Kirana terlihat sedang melamun menatap langit-langit kamar. Syam langsung mendekatinya kemudian memeriksa kaki Kirana.
"Apa kamu lapar?" Tanya Syam yang membuat Kirana melihat ke arah Syam. Kirana tampak ragu, namun dia kemudian mengangguk. Syam tersenyum kemudian mengacak rambut Kirana.
"Baiklah, tunggu disini, aku siapkan dulu" Kata Syam kemudian pergi ke dapur dan meminta maid membuatkan makanan untuk Kirana.
"Buatkan makanan untuk Kirana, cepat dan antarkan ke kamarnya segera, aku tunggu disana" Kata Syam kemudian berlalu ke kamar Kirana kembali.
"Hey, makananku mana?" Tanya Kirana.
"Sebentar masih dibuatkan, kau sungguh tidak sabaran" Kata Syam kemudian duduk di samping ranjang Kirana kembali. Syam menatap kaki Kirana, perasaan bersalahnya muncul lagi.
"Maafkan aku" Kata Syam.
"Maaf untuk apa?" Kata Kirana dengan raut wajah tidak percaya.
"Karena aku mengurungmu disini, kau akhirnya berakhir seperti ini" Kata Syam. Namun Kirana hanya diam. Dia bingung harus bersikap apa. Karena ini bukan sepenuhnya kesalahan Syam. Dia sendiri yang memilih untuk kabur dengan jalan ini. Melihat Syam merasa bersalah seperti itu ntah mengapa membuatnya sedih.
"Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Oya, bukannya kau bisa menelpon pelayanmu jika kau memesan makanan. Kenapa repot-repot ke dapur. Bukannya dapurmu jauh" Kata Kirana mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia sungguh tidak suka kecanggungan.
"Oya, kenapa aku bodoh sekali" Kata Syam karena memang dia melupakan sistem kerja di rumahnya. Apa karena rasa bersalahnya dan pikirannya yang dipenuhi Kirana sejak tadi sehingga dia bertindak bodoh.
"Haha, aku baru tahu ada orang sebodoh dirimu. Sepertinya kau sudaha mulai pikun. Maklum lah faktor usia" Kata Kirana kemudian tertawa.
"Heyyy, apa kau bilang, enak saja kau mengataiku tua" Kata Syam dengan nada kesal.
__ADS_1
"Memang kau tua, lihat saja wajah keriputmu itu" Tambah Kirana kembali sambil menahan tawanya.
"Enak saja" Kata Syam kemudian berlari ke meja rias untuk melihat cermin memperhatikan wajahnya dari berbagai sisi.
"Hahahaha" Tawa Kirana pecah seketika melihat ekspresi Syam.
"Hey, kau membodohi ku?" Kata Syam kemudian berlari ke ranjang Kirana dan menggelitiknya.
"Hahaha, maaf-maaf, hahaha, udah geliii" Kata Kirana.
"Ini balasan untukmu karena berani membodohiku" Kata Syam sambil terus menggelitik pinggang Kirana, hingga dia terpeleset dan jatuh ke tubuh Kirana. Yang membuat wajah mereka terpaut begitu dekat. Syam menatap mata Kirana yang berjarak hanya beberapa centi dari wajahnya kemudian turun ke bibirnya. Jantung mereka saling berpacu seiring dengan bibir Syam yang mengarah ke bibir Kirana.
"Aw" rintih Kirana saat kaki Syam tidak sengaja menyenggol kaki Kirana. Syam langsung tersadar dan bangun dari posisinya.
"Maafkan aku" Kata Syam kemudian kembali duduk diposisi ya semula. Ada perasaan menyesal karena tidak bisa menyelesaikan adegan tadi. Namun dia juga bersyukur karena itu tidak terjadi, kalau tidak bisa-bisa dia melakukan lebih. Dia masih tetap ingat janjinya untuk menunggu Kirana lulus SMA dulu.
"Makanlah" Kata Syam kemudian berpindah duduk di sofa.
"Apa kau tidak makan?" Tanya Kirana ragu.
"Aku bisa makan nanti" Kata Syam. Kirana pun mengangguk dan memakan makanan di depannya dengan lahap. Syam memperhatikan Kirana yang sedang makan seperti tidak pernah makan seminggu.
"Pelan-pelan, aku tidak akan mengambil makananmu" Kata Syam. Namun Kirana tidak memperdulikannya. Dia lanjut makan hingga piring di depannya habis.
"Sudah" Kata Kirana. Syam pun bangkita dan mengambil nampan di tangan Kirana. Dia membaringkan Kirana kembali kemudian mencium dahi Kirana.
__ADS_1
Kirana yang saat itu belum siap, begitu kaget ketika mendapatkan ciuman di dahinya. Dia bahkan mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya.
"Hey, kau mencari kesempatan dalam kesempitan ya?" Kata Kirana. Syam tidak menjawab dan malah berlalu begitu saja meninggalkan Kirana yang masih protes.
"Sekarang kau tahu kan rasanya didiamkan" Batin kemudian berlalu meninggalkan kamar Kirana.
***
Malam harinya, Syam kembali ke kamar Kirana untuk mengobati dan mengecek keadaanya. Namun saat tiba di kamarnya, dia menemukan Kirana sudah tertidur. Dengan hati-hati dia mendekati ranjang Kirana.
"Selamat tidur" bisiknya kemudian mencium dahi Kirana kemudian mengelus kepalanya pelan.
"Maafkan aku, tapi sepertinya mulai sekarang, aku tidak bisa melepaskanmu, selamat malam gadis kecilku" Kata Syam lagi, kemudian berlalu pergi meninggalkan Kirana.
Setelah kepergian Syam, Kirana langsung membuka matanya. Menarik nafasnya dalam-dalam. Kalimat Syam bahwa dia tidak akan melepaskannya membuat Kirana sedikit khawatir. Dia memikirkan Rian pacarnya dan Mamanya. Walaupun sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini.
"Aku merindukan mereka" Batin Kirana dengan air mata yang sudah menetes sejak tadi.
Dia sangat merindukan Mamanya dan Rian. Namun dia lebih merindukan Mamanya, tapi ntah mengapa membayangkan mamanya setuju dia disini membuatnya kesal. Tapi tetap saja, Mamanya adalah orang yang telah menjaganya sejak masih kecil. Menyayangi dan membesarkannya seperti sekarang ini.
"Aku ingin tahu alasan kenapa Mama membiarkanku berakhir dengan laki-laki itu. Apa mama ingin aku menjadi wanita penggoda sepertinya. Menggoda laki-laki kaya seperti laki-laki itu. Hiks. Tidak, tidak mungkin. Mama tidak mungkin seperti itu" Batin Kirana beberapa saat sebelum akhirnya dia terlelap setelah lelah menangis dalam diam.
-Bersambung-
Terima kasih sudah mengikuti cerita author sampai episode ini. Semoga terhibur ya.
__ADS_1
Sehat selalu semuanya