
Kirana mengerjap matanya beberapa kali. Saat ini dia tengah berada di ruangan serba putih. Dengan infus yang terpasang di tangannya.
"Aku dimana?" Kata Kirana.
"Nona, apa nona sadar?" Tanya Luna yang saat itu berjaga disamping Kirana.
"Aku dimana kak?" Tanya Kirana kembali.
"Nona dirumah sakit, bagaimana kepala nona apa sudah tidak sakit lagi?" Tanya Luna. Kirana memegang kepalanya dan mencoba mengingat-ngingat apa yang sebenarnya terjadi padanya. Hingga membuat air matanya menetes setelah mendapatkan memorinya.
"Nona kenapa? apa masih sakit?" Tanya Luna yang terlihat khawatir.
"Tidak kak. Aku baik-baik saja. Kak apa boleh aku pinjam ponsel kakak?" Tanya Kirana dengan senyum diwajahnya.
"Buat apa nona? saya takut tuan akan murka nanti" Kata Luna yang membuat wajah Kirana langsung berubah sedih.
"Aku hanya merindukan mama kak, tidak boleh ya?" Tanya Kirana kembali.
"Saya tanyakan pada tuan muda dulu ya nona" Kata Luna yang membuat wajah Kirana berubah cemas.
"Jangan kak, dia pasti tidak akan mengizinkan, sekali saja kak" Kata Kirana dengan wajah memohon.
"Baiklah, nona bisa pakai ini" Kata Luna yang membuat wajah Kirana berubah bahagia.
"Oya kak, aku boleh minta tolong lagi tidak?" Tanya Kirana yang dibalas anggukan oleh Luna.
"Aku lapar kak, boleh minta tolong Carikan makanan?" Tanya Kirana dengan tidak lupa menyelipkan senyuman diwajahnya.
"Nona lapar? tunggu sebentar ya nona. Saya carikan dulu" Kata Luna kemudian berlalu pergi. Setelah kepergian Luna, Kirana langsung melepas infus ditangannya secara paksa. Kemudian mengambil tas sekolahnya.
Dengan langkah gontai dia berjalan keluar meninggalkan ruangan tempat dia dirawat. Mencari jalan keluar dari rumah sakit tersebut.
"Brukkk" dia tanpa sengaja menabrak seseorang saat hendak sampai di pintu keluar.
"Ma-maaf" Kata Kirana tanpa melihat orang yang ditabrak karena sibuk melihat sekeliling berharap kali ini dia berhasil kabur. Dia harus memastikan sesuatu sangat penting, untuk itulah kali ini dia akan berusaha keras untuk bisa kabur.
__ADS_1
"Ki-kirana" Kata Laki-laki yang dia tabrak.
"Rian" Kata Kirana namun kemudian menarik tangan Rian untuk sembunyi. Karena dia melihat dikejauhan Luna tengah berjalan kearah mereka.
"Ada apa?" Tanya Rian bingung. Kirana langsung menutup mulut Rian hingga membuat Rian terdiam namun matanya tidak bisa terlepas dari Kirana yang saat ini di depannya tengah memastikan Luna tidak melihatnya.
Setelah Luna menjauh, Kirana langsung menarik tangan Rian dan mengajaknua ke parkiran.
"Kita mau kemana?" Tanya Rian sambil mengikuti langkah Kirana.
"Nanti aku beritahu, kamu bawa mobil kan?" Tanya Kirana, Rian pun mengangguk dan langsung mengajak Kirana masuk ke mobilnya.
Setelah keluar dari rumah sakit itu, Kirana langsung bernafas lega. Rian hanya menatap bingung tingkah Kirana yang menurutnya sangat aneh.
"Jadi, ceritakan aku, kenapa kamu berada dirumah sakit itu dan tadi apa, kamu bersembunyi dari siapa?" Tanya Rian sambil fokus menyetir.
"Hmm, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun, bukannya kita tidak punya hubungan apa-apa lagi, aku hanya minta bantuanmu sekarang antarkan aku ke panti Kasih Bunda. Tenang saja, aku akan membayar biaya tumpangan ini" Kata Kirana sambil melihat ke jendela menatap jalanan.
"Hmmmm, Baiklah, tapi kamu tidak perlu membayar tumpangan ini" Kata Rian kemudian meningkatkan laju mobilnya.
***
Sesampainya di ruangan VIP tempat Kirana di rawat, Luna langsung membuang sembarang makanan yang sedang dibawanya, karena dia tidak menemukan seorangpun disana. Dia langsung berlari ke kamar mandi, berharap Kirana disana. Namun dia juga tidak menemukannya.
"Astaga, nona kemana?" Kata Luna sambil terus mencari.
Dia kemudian keluar untuk mencoba bertanya pas suster dan orang-orang yang berada di dekat ruangan tersebut, namun mereka semua tidak mengetahuinya.
"Nona dimana? aku pasti akan kena marah tuan muda ini, ya ampun, aku harus bagaimana sekarang" Kata Luna yang saat ini sudah sampai di parkiran dan belum menemukan Kirana. Dia berinisiatif menelpon Leon dan menceritakan tentang hilangnya Kirana.
"Astaga, aku lupa jika nona juga tadi meminjam Hp ku, tapi untungnya aku punya dua Hp" kata Luna yang kemudian mencari kontak Leon di Hp nya.
"Astaga, bagaimana bisa hilang sih? kau tidak becus sekali hanya untuk menjaga 1 gadis kecil, kalau tuan muda tahu, kita semua pasti akan kena marah" Kata Leon dengan nada kesal.
"Maaf Leon. Tapi sungguh, tadi nona bilang lapar. Jadi aku dan pengawal pergi membelikan dia makan di luar sebentar. Saat aku kembali nona sudah tidak ada" Kata Luna dengan tangan yang sudah gemetar karena membayangkan kemarahan Syam.
__ADS_1
"Sudahlah, sekarang kamu coba cek CCTV. Aku dan Tuan Muda akan segera kesana. Bersiap sajalah kita menerima amukan dia" Kata Leon dan panggilan telpon pun terputus.
Luna langsung berlari menuju ke tempat monitor CCTV. Dia tidak henti-hentinya merutuki kebodohannya. Bahkan saat dia berhasil menemukan Kirana di monitor CCTV. Dia bahkan berpapasan tadi di pintu masuk.
"Sebentar" Kata Luna saat melihat Kirana tidak sendiri.
"Bukannya itu pacar nona" Kata Luna kemudian semakin merutuki kesalahannya. Dia sangat yakin, Syam akan sangat marah besar sekarang. Karena nona kabur bersama laki-laki tersebut.
"Aku harus bagaimana sekarang? kalau tuan muda melihat cctv ini dia akan semakin marah besar padaku. Tapi, jika aku tidak memberi tahukan dia. Bisa-bisa aku dicincang olehnya" Kata Luna sambil bolak balik tidak jelas di depan monitor itu.
Drrrtttt Drrrttt
"Aduh, tuan muda menelpon" Kata Luna kemudian menggeser tombol hijau.
"Kau dimana?" Tanya Syam dengan nada yang terdengar sangat marah.
"Aku di ruang monitor CCTV Tuan" Kata Luna dan panggilan telpon pun terputus.
Beberapa menit, Syam masuk ke ruangan tersebut sambil mendorong pintu dengan keras. Tangan Luna dan beberapa orang disana terlihat gemetar sekarang.
"Cepat, tunjukkan aku kemana gadis itu?" Tanya Syam dengan rangsang yang sudah mengeras. Luna pun dengan sigap langsung memutar Vidio kejadian tadi.
Syam yang menemukan sosok Kirana langsung mengepal tangannya. Dia melempar monitor itu dengan hp yang dipegangnya saat itu. Membuat semua orang yang disana melongo dibuatnya. Syam memang pemilik dari rumah sakit itu, jadi tidak ada yang akan berani memarahinya.
"Sial, rupanya dia ingin bermain-main denganku, haha" kata Syam yang membuat semua orang diruangan tersebut bergidik ngeri.
"Cepat kerahkan semua pengawal dan orang-orang kepercayaanmu untuk mencari gadis itu dan laki-laki yang bersamanya saat ini. Tangkap mereka hidup-hidup dan bawa kehadapanku segera" Kata Syam pada Leon.
"Baik Tuan" kata Leon kemudian menelpon semua anak buahnya.
"Berani-beraninya kau. Aku pastikan kau akan terima akibatnya" Batin Syam.
-Bersambung-
OTW perang dunia ini guys, wkwk
__ADS_1