
Leon menghentikan mobilnya di depan sebuah gang yang cukup sempit.
"Kenapa berhenti disini, rumah gadis itu dimana?" Tanya Syam.
"Maaf tuan, tapi mobil tidak akan bisa masuk kesana, jika tuan ingin ke rumah Nona Kirana, Tuan harus turun dan jalan kaki" Kata Leon.
"Gila saja, untuk apa aku jalan kaki hanya untuk seorang gadis, memang dia pikir dia siapa. Ya sudah, kita pulang saja, yang penting aku tahu rumahnya dimana" Kata Syam.
"Anda yakin tuan?" Tanya Leon.
"Tentu, pulanglah" Kata Syam. Namun belum sempat Leon melajukan mobilnya, Kirana terlihat keluar dari gang itu dengan raut wajah yang begitu bahagia, dia terlihat memberhentikan sebuah angkot, kemudian masuk kedalamnya.
"Mau kemana gadis itu?" kata Syam.
"Mana saya tahu tuan" Kata Leon.
"Aku tidak bertanya padamu, ikuti dia" Perintah Syam.
"Jelas-jelas dia tadi berbicara padaku. Disini juga hanya aku, memang dia bisa berbicara dengan hantu apa, hmm. Sabar Leon sabar" Batin Leon. Dia pun langsung melajukan mobilnya dan mengikuti Kirana.
Setelah melewati beberapa belokan, Kirana terlihat turun di sebuah pusat perbelanjaan. Seorang laki-laki terlihat menghampirinya, tanpa rasa canggung laki-laki itu langsung memeluk Kirana dan Kirana pun membalasnya.
Syam yang sedang berada beberapa meter dari Kirana terlihat mengepal tangannya kesal, matanya memerah menahan amarah. Tanpa berbicara panjang, dia langsung beranjak dari tempatnya, berniat keluar dari mobilnya, namun dengan sigap Leon menahannya.
"Tuan, anda mau kemana?" Tanya Leon.
"Yang jelas, aku ingin mengambil gadisku" Kata Syam.
"Bukannya anda sudah berjanji untuk tidak mengganggu nona sampai dia lulus SMA" Kata Leon.
"Aku tidak peduli" Kata Syam kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Kirana.
"Terserah anda saja tuan" Kata Leon sambil mengamati apa yang akan dilakukan Tuannya setelah ini.
"Hey" Kata Syam kemudian menarik lengan Kirana dan memeluknya.
"Oom" Kata Kirana Kaget, dia langsung menarik dirinya dari tubuh Syam.
"Om-om, aku tidak setua itu, ikut aku" Kata Syam kemudian menarik tangan Kirana.
"Tidak mau" Kata Kirana sambil terus mencoba melepaskan lengannya yang dicekram Syam.
__ADS_1
"Lepaskan dia" kata Brian.
"Jika aku tidak mau bagaimana?" Tanya Syam
"Aku tahu kamu tuan Syam, tapi laki-laki tidak sepantasnya memperlakukan wanita seperti itu" Kata Brian.
"Apa urusanmu, dia adalah gadisku. Kamu tidak pantas mengaturku" Kata Syam kemudian memberi kode pada Leon untuk mendekatinya. Brian terdiam membisu, karena dia sangat tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya jika berurusan dengan Syam Alexander.
Leon yang sudah berada di depan mereka, langsung terkesima karena Syam menggendong Kirana ala bridge style menuju mobilnya.
"Lepaskan aku" Teriak Kirana sambil memukul-mukul lengan Syam.
"Kak Brian tolong aku" teriak Kirana, namun Brian hanya diam saja.
"Dosa apa yang kau lakukan sampai kamu berurusan dengannya Kirana" Kata Brian sambil menatap kepergian Kirana. Brian adalah teman Kirana sejak di pantai asuhan. Dia bekerja sebagai OB di salah satu anak perusahaan Syam. Dia sudah tahu bagaimana watak bosnya itu, untuk itulah dia sangat takut berurusan dengannya.
"Maafkan aku Na" Kata Brian saat mobil Syam tidak terlihat lagi.
-Di mobil-
Kirana tidak henti-hentinya meronta di pangkuan Syamdan meminta untuk turun.
"Tidak mau, turunkan aku" Kata Kirana.
"Baiklah, tapi kamu harus diam setelah ini" Kata Syam. Kirana langsung mengangguk. Dia sudah memikirkan ide untuk keluar dari mobil.
"Jangan memikirkan hal aneh. Aku tahu isi kepalamu itu. Kamu tidak akan bisa kabur" Kata Syam.
"Aku tidak memikirkan apapun. Ayo turunkan aku Om" Kata Kirana.
"Aku tidak setua itu" Kata Syam kemudian menjitak kepala Kirana.
"Hmm, Terserah. Turunkan aku" Kata Kirana.
"Panggil namaku dengan benar dulu" Kata Syam.
"Maaf ya Om, aku tidak tahu namamu" Kata Kirana sambil memalingkan kepalanya.
"Hmmm, namaku Syam" Kata Syam.
"Aku tidak bertanya" Kata Kirana kemudian turun dari pangkuan Syam ketika Syam lengah.
__ADS_1
Leon terlihat menahan senyumnya melihat tingkah Kirana. Karena ini pertama kalinya ada wanita yang berani memperlakukan tuannya seperti itu.
"Kurang ajar, aku belum memperbolehkanmu turun, berani sekali kau, sepertinya aku terlalu baik padamu" Kata Syam dengan seringai di wajahnya.
Namun Kirana acuh, dia menghadap jendela dan menatap ke arah luar. Dia pikir sekarang dia sedang menghadapi orang gila. Menurutnya hanya akan menghabiskan waktu berbicara dengan Syam.
"Dia mengabaikan ku, lihat saja nanti sampai mana kamu menolakku" Kata Syam dan memilih membiarkan Kirana dulu seperti itu.
"Mau kemana kita?" Tanya Kirana karena saat ini dia sedang melewati jalan tol. Syam hanya diam tanpa berniat menjawab Kirana.
"Hey, aku bertanya padamu" Kata Kirana. Namun Syam tetap diam.
"Ya sudah jika kau tidak memberitahuku, sekarang turunkan aku. Aku ingin pulang, besok aku sekolah" Kata Kirana.
"Kamu berhenti sekolah saja" Kata Syam.
"APA? kamu gila?" Tanya Kirana dengan mata melotot.
"Iya, memang gila, udah diam saja. Kamu membuat telingaku panas saja" Kata Syam.
"Mas-mas ganteng, turunkan aku dong" kata Kirana yang saat ini berbicara pada Leon.
"Hey, dia kamu panggil Mas ganteng, aku kamu panggil Om" Kata Syam tidak mau terima.
"Terserah aku lah, mulut-mulutku, lagi pula dia memang ganteng" Kata Kirana. Syam mengepal tangannya kuat, dia sungguh kesal dan tidak habis pikir dengan sikap wanita di depannya ini. Bahkan Kirana lebih memilih Leon dari pada dirinya.
"Kesabaranku mulai habis" Kata Syam kemudian mencekal lengan Kirana. Mengunci tubuhnya dan men**** bibirnya secara paksa. Bibirnya menyentuh bibir Kirana secara kasar, melampiaskan semua amarahnya.
"Hmmm" gumam Kirana dengan air mata yang sudah mengalir dan tangan yang masih dicengkram keras.
Syam mengakhiri ****nnya dengan gigitan kecil di bibir Kirana hingga membuat bibir Kirana berdarah.
"Aku sudah bilang, jangan main-main denganku. Kalau tidak aku bisa melakukan lebih dari itu" Kata Syam kemudian menyenderkan kepalanya di mobil. Mencoba mengatur nafas dan emosinya.
Kirana langsung mengelap bibirnya sekuat tenaga, berharap bisa menghapus bekas ciuman Syam. Perih di bibirnya dia tahan, air mata terus merembes dari matanya, karena dia sungguh membenci ciuman itu. Ini adalah ciuman pertamanya. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya untuk memberikan ciuman pertamanya untuk Rian nanti setelah mereka menikah. Namun, harapan itu sudah sirna. Bahkan sekarang, dia tidak tahu nasib nya selanjutnya.
"Jangan menangis, atau kamu ingin aku melakukannya lagi" Kata Syam dengan mata yang masih terpejam di samping Kirana.
"Ma, sepertinya nasibku akan lebih buruk darimu" Batin Kirana sambil menghapus air matanya yang mulai memenuhi pipinya.
-Bersambung-
__ADS_1