
Mobil mereka sudah sampai di sebuah rumah mewah dengan dinding pembatas yang sangat tinggi. Bahkan gerbang yang tadi di laluinya, membuat Kirana menganga saking tingginya.
"Turun" Kata Syam yang saat ini sudah di depan pintu mobil.
"A-aku tidak mau, ini bukan rumahku" Kata Kirana.
"Ini terlalu indah untuk disebut sebagai rumah" batin Kirana.
"Turun, atau kamu ingin aku melakukan hal yang lebih buruk lagi?" Tanya Syam dengan nada kesal.
"Dasar tukang paksa" batin Kirana.
"Aku hitung sampai 3, jika tidak" kata Syam kemudian memajukan wajahnya ke Kirana.
"Ti-tidak, aku akan turun" Kata Kirana kemudian mendorong Syam dan turun dari mobil.
"Ikut aku" Kata Syam. Namun Kirana hanya terdiam di tempatnya sambil menautkan tangannya.
Syam yang melihat Kirana hanya terdiam menghela nafasnya. Dia pun langsung menarik Kirana dan menggendongnya.
"Turunkan aku! aku ingin pulang!" Teriak Kirana.
"Diam!" Bentak Syam dengan mata penuh emosi. Kirana langsung terdiam dan menangis dalam diam.
Saat sudah sampai di sebuah kamar bernuansa merah muda, Syam langsung menghempaskan Kirana di tempat tidur dan meninggalkannya begitu saja.
"Diam disini, jangan berteriak, menangis, atau berusaha kabur" Kata Syam kemudian berlalu pergi.
"Pedofil" teriak Kirana dari dalam kamar.
"Hmmm, Luna urus dia" Perintah Syam.
"Baik Tuan" Kata Luna.
Luna pun masuk ke kamar Kirana, berniat mengecheck keadaan nonanya.
"Astaga, dia benar-benar masih SMA" Batin Luna saat melihat Baju seragam Kirana yang sudah lecek karena Syam.
"Maaf Nona, saya kesini diminta membawa baju ganti untuk nona, ini nona, silahkan diganti" Kata Luna kepada Kirana. Namun Kirana bergeming.
"Nona" Panggil Luna lagi, yang membuat Kirana tersadar.
"Kak, tolong aku, aku ingin keluar dari sini, hiks, Mama pasti mengkhawatirkanku jika aku tidak pulang" Pinta Kirana dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Luna yang melihat itu mulai mendekati Kirana. Dia menghapus air mata gadis di depannya. Ntah mengapa, hatinya ikut merasa sakit ketika melihat air mata yang mengalir dari sela mata gadis itu.
"Maafkan aku nona, aku tidak bisa membantumu, tidak ada bisa melawan perintah tuan muda" Kata Luna sambil memeluk Kirana.
__ADS_1
"Hiks, aku kangen mama, aku ingin pulang, hiks" Kata Kirana sesegukan. Sedangkan Luna hanya bisa menenangkan Kirana dengan mengelus punggungnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena memang dia tidak bisa berbuat apapun.
"Aku haus" Kata Kirana tiba-tiba setelah beberapa lama menangis.
"Nona ini lucu sekali, mood nya berubah begitu tiba-tiba" Batin Luna
"Sebentar Nona" Kata Luna kemudian menelpon seseorang.
"Bawakan air minum ke kamar nona" Kata Luna kemudian menaruh Hp nya ke tempat semula.
"Sebenarnya siapa mereka? mereka bahkan berkomunikasi lewat Hp hanya untuk mengambilkan air minum. Apa dapur sejauh itu?" Batin Kirana.
Selang beberapa lama, terdengar suara BIP dan beberapa pelayanpun terlihat masuk dengan 10 gelas air bermacam warna beserta nampan ditangan mereka.
"Wah" Kata Kirana takjub dengan mulut menganga.
"Aku hanya memesan segelas air putih karena haus sehabis menangis, namun kalian menyuguhkanku begitu banyak minuman" Kata Kirana.
"Maaf Nona, kami tidak tahu apa kesukaan nona" Kata pelayan.
"Lalu, minuman jenis apa saja itu?" Tanya Kirana.
"Ini air putih, jus alpukat, jus nanas, jus pepaya, jus mangga, jus stroberi, jus jeruk, es teh, dll" Kata Pelayan.
"Astaga, aku hanya ingin air putih, kalian minumlah semuanya" Kata Kirana kemudian berlari ke arah pelayan yang membawa air putih.
Pelayan terlihat terdiam ditempatnya setelah melihat Kirana minum. Dia tengah menanti perintah selanjutnya dengan wajah plat.
"Pergilah" Kata Luna.
"Baik" Kata pelayan serempak.
Kirana kembali ke tempat tidur dan berbaring disana. Meratapi nasibnya saat ini. Dia tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa dia akan berakhir seperti ini. Bagaimana bisa aku terkurung di tempat om-om gila itu. Batin Kirana sambil melirik tangannya yang sedikit memar karena berusaha kabur di mobil tadi.
"Nona, ayo bersihkan banda anda dulu, bukannya besok anda akan menggunakan seragam itu lagi untuk ke sekolah" kata Luna.
"Ha, besok aku akan ke sekolah? jadi aku bisa pulang?" Tanya Kirana yang saat ini sudah bangun dan terlihat antusias.
"aku pikir aku akan berakhir seperti di novel-novel, aku akan dikurung selamanya oleh lelaki aneh seperti dia" Batin Kirana.
"Iya nona, tuan muda berpesan untuk mengantar anda sekolah besok. Namun anda harus tetap tinggal disini sampai hari kelulusan nona" Kata Luna.
"Ha? aku tidak mau disini. Mama pasti akan mencariku" Kata Kirana sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Kami sudah memberi tahu mama anda. Dan dia setuju dengan penawaran kami" Kata Luna.
__ADS_1
"Apa penawaranmu?" Tanya Kirana.
"Maaf nona, saya tidak bisa memberitahu anda. Jika anda penasaran Anda bisaa menanyakan pada tuan muda" Kata Luna.
"Melihatnya saja aku enggan, apalagi berbicara dengannya. Hmm baiklah aku akan mandi, simpan bajunya disana, dan kamu keluarlah" Kata Kirana.
"Baik nona" Kata Luna kemudian pergi meninggalkan Kirana.
"Hmmm, kenapa kepalaku tidak bisa berpikir positif. Apa mama menjualku?" Batin Kirana.
"Ahh, tidak mungkin. Mama tidak mungkin melakukan itu. Aku sebaiknya mandi dan besok aku akan memikirkan bagaimana cara kabur saat di sekolah" Kata Kirana kemudian mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
***
"Bagaimana dengan gadis itu?" Tanya Syam sambil melihat berkas di depannya. Membolak-balik
"Terakhir kali, Luna melaporkan jika nona sedang mandi di kamarnya" Kata Leon.
"Baiklah, layani dia dengan baik" kata Syam.
"Siap Tuan" Kata Leon kemudian beranjak untuk pergi.
Drrt Drrtt
Sebuah panggilan masuk ke Hp Leon.
"Hallo? APA?" Kata Leon.
"Ada apa?" Tanya Syam.
"Nona tidak keluar-keluar dari kamar mandi Tuan, Luna beberapa kali memanggil nona dan tidak ada sautan, kamar mandi terkunci dari dalam" Kata Leon.
"APA? sial. Batalkan rapat siang ini, kita ke sana sekarang" Kata Syam kemudian keluar dari ruangannya menuju parkiran.
"Menjaga satu wanita saja kalian sungguh tidak becus" Teriak Syam yang saat ini sudah di rumah pribadinya. Dia pun berlari menuju ke lantai 3 dengan menggunakan tangga, bahkan dia melupakan lift yang sering dia gunakan. Leon dengan patuh mengikutinya dari belakang.
"Ambil pistolku di kamar kerjaku" Perintah Syam. Leon pun langsung berlari dan dalam hitungan beberapa detik langsung kembali lagi dan menyerahkan pistol ditangannya kepada Syam. Dengan sekali tarikan, pistol tersebut berhasil merusak gagang pintu.
Dia berlari masuk, dan menemukan Kirana sedang terbaring di bathtub dengan earphone di telinganya. Dia terlihat terlelap di dalam bathtub yang penuh dengan busa sabun.
Syam langsung melepaskan earphone di telinga Kirana yang membuat Kirana langsung terbangun dengan mata sayu sambil menguap.
"Ada apa?" Tanya Kirana sambil menguap
"Nona" Panggil Luna, dia pun melihat Luna dan kemudian membuat Kirana tersadar bahwa sekarang dia sedang di depan Syam dalam keadaan telanjang.
__ADS_1
"Haaaaaaaaaaaaa" teriak Kirana memenuhi kamar mandi.
-Bersambung-