
Syam terlihat mengerjap matanya beberapa kali. Sudah hampir 8 jam Syam tidur dan tidak sadarkan diri. Dia melihat langiy-langut kamarnya, mengingat kembali semua kejadian dimasa kecilnya yang sudah hampir sepenuhnya kembali.
"Kau sudah bangun?" Tanya Kirana yang saat ini baru keluar dari kamar mandi. Syam mengangguk dan tersenyum. Ingin sekali dia langsung memeluk Kirana sekarang, namun tubuhnya ntah mengapa terasa tidak bertenaga.
"Aku ambilkan makanan dulu. Kata Kak Leon kau belum makan sejak dari rumahku" Kata Kirana kemudian berjalan keluar meninggalkan Syam.
Setelah kepergian Kirana, Syam kembali menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
"Apa Kirana sudah mengingat masa kecilnya. Haruskah aku menanyakannya. Tapi aku takut, jika ini akan menjadi beban untuknya" batin Syam sambil memijat dahinya.
"Kepalamu sakit?" Tanya Kirana yang saat ini sudah datang bersama nampan ditangannya. Dia langsung meletakkan nampan tersebut kesisi tempat tidur dan memegang kepala Syam memastikan dia baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja" kata Syam sambil memegang tangan Kirana.
"Tap tadi aku melihatmu memegang dahimu" Kata Kirana yang terluhat khawatir. Syam tersenyum kemudian mengatakan lagi jika dia baik-baik saja.
"Syukurlah. Sekarang makan dulu ya" Kata Kirana kemudian mencoba membangunkan Syam.
Saat akan bangun untuk mengambil makanan untuk Syam, tangannya dicegat oleh Syam dan ditarik ke dalam pelukannya. Kirana begitu terkejut mendapatkan perlakuan mendadak seperti itu, namun dia memilih diam dan membalas pelukan Syam.
"Syam, kau kenapa?" Tanya Kirana saat merasakan ada yang tidak beres dengan sikap Syam.
"Biarkan seperti ini sebentar. Aku sangat merindukanmu" Kata Syam sambil mempererat pelukannya. Lama mereka pada posisi tersebut hingga,
"Kriuukkk" suara perut Syam membuat mereka harus melepaskan pelukannya.
"Sepertinya perutku tidak bisa diajak kompromi" ucap Syam yang membuat Kirana terkekeh. Dia langsung mengambilkan makanan yang ada di nampan dan menyuapi Syam sedikit demi sedikit.
"Oya, bagaimana bisa kau ada disini?" Tanya Syam saat suapan pertama habis.
__ADS_1
"Nanti saja aku ceritakan, sekarang habiskan dulu makanmu" Kata Kirana.
"Tapi aku ingin tahu sekarang" ucap Syam manja yang membuat Kirana menatap Syam aneh.
"Sepertinya kau masih sakit. Habiskan makanmu cepat selanjutnya minum obat" Kata Kirana. Syam tersenyum kemudian mencubit pipi Kirana gemas.
"Kau sudah seperti istri yang merawat suamimu" ucap Syam.
"Iya, ini aku sedang latihan" ucap Kirana pelan.
"Kau bilang apa barusan?" Tanya Syam.
"Tidak ada, makanlah" Kata Kirana kemudian menyuapkan makanan ditangannya dengan cepat ke mulut Syam. Syam tersenyum sambil mengunyah makanan dimulutnya.
Setelah selesai makan, Kirana langsung meletakkan nampan itu kembali ke tempatnya. Tepat saat Kirana akan pergi untuk mengambil obat Syam langsung menarik tubuh Kirana dan memeluknya dari belakang.
"Aku juga tidak tahu, sepertinya aku tidak bisa jauh darimu sekarang" Kata Syam sambil menempelkan kepalanya dipunggung Kirana.
"Aku ingin mengambil obat untukmu, jadi lepaskan dulu" ucap Kirana sambil mencoba melepaskan tangan Syam dipinggangnya, namun Syam tidak mau melepaskannya.
"Kau ada disampingku saja aku sudah merasa baikan" Ucap Syam kemudian membalikkan tubuh Kirana sehingga mereka berhadapan sekarang.
"Kau kenapa? tidak biasanya kau seperti ini. Kau menjadi lebih alay sekarang" ucap Kirana sambil terkekeh pelan.
"Terserah kau bilang apa. Intinya, aku tidak akan mengizinkanmu pergi" Kata Syam.
"Kau perlu minum obat, jadi lepaskan dulu sebentar saja, oke" pinta Kirana namun Syam malah menggeleng. Kirana mendengus kesal kemudian mencubit tangan Syam keras.
"Aw" Ucap Syam kemudian melepaskan tangannya. Kirana yang mendapatkan peluang langsung berlari menjauh dari Syam.
__ADS_1
"Hey, kau nakal sekali" ucap Syam.
"Ini demi kebaikanmu juga" Kata Kirana sambil mengambil obat dan air minum yang dimaksud.
"Ini, minumlah" ucap Kirana sambil menyodorkan air putih dan obat untuk Syam. Syam langsung menggeleng dan mengalihkan wajahnya.
"Lah, kau marah?" Tanya Kirana.
"Aku tidak akan minum obat sebelum kau berjanji untuk tinggal disini lagi" Kata Syam yang membuat Kirana langsung menghembuskan nafasnya berat. Kirana pun meletakkan kembali obat dan gelas ditangannya di meja, kemudian duduk di samping Syam.
"Sini lihat aku" ucap Kirana sambil memegang tangan Syam. Syam pun langsung melihat Kirana.
"Untuk sekarang aku belum bisa tinggal disini lagi kak Syam. Bukannya aku tidak mau, tapi aku juga harus menghargai mama yang telah menjagaku sejak kecil. Bukannya kak Syam sudah setuju dan berjanji untuk menjemputku dengan baik-baik. Aku datang kesini pun tadi dengan berbohong dulu pada Mama mengatakan jika temanku kecelakaan dan aku harus menemaninya di rumah sakit dan aku tidak ingin seperti ini terulang terus. Aku mohon banget pengertian kak Syam" Kata Kirana sambil menatap Syam sedih.
Syam menatap Kirana dan mengelus rambutnya sayang.
"Maafkan aku karena egois. Baiklah, Setelah aku minum obat kau pulanglah. Minta Luna mengantarmu. Setelah aku merasa baikan aku akan ke rumahmu lagi" Kata Syam yang membuat Kirana langsung tersenyum.
"Terima kasih kak Syam karena sudah mengerti" Ucap Kirana yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Syam.
"My pleasure. Oya, Siapa yang mengajarimu berbohong dan senakal ini huh?" Tanya Syam sambil mencubit pipi Kirana.
"Berbohongnya sedikit kok kak, hehe" ucap Kirana.
"Tapi membohongi orang tua itu tidak boleh sayang. Jangan diulangi lagi ya" Ucap Syam yang dibalas anggukan oleh Kirana.
"Siap Kak" ucap Kirana sambil tersenyum.
-Bersambung-
__ADS_1