Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif
Maafkan Aku Kirana


__ADS_3

Setelah selesai ujian, Kirana langsung pulang.


Namun belum sampai halaman sekolah, tangannya langsung dicekal oleh seseorang.


"Hey" Teriak Kirana, dia ingin memberontak namun saat melihat siapa yang menggenggam tangannya, dia langsung terdiam.


"Apa lagi?" Tanya Kirana saat Rian melepaskan tangannya.


"Aku ingin bicara" Kata Rian sambil terus menatap Kirana.


"Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi" Kata Kirana kemudian hendak ingin pergi namun dihadang Rian.


"Minggir" Bentak Kirana dengan mata yang sudah memerah.


"Hmmm, baiklah, sepertinya hubungan kita memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi" Kata Rian yang membuat Kirana langsung menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan merah penuh amarah.


"Haha, kamu mau selamatin apa lagi huh? kamu sendiri yang putusin aku, Ehh salah, kamu yang SELINGKUH, aku udah capek-capek mikirin kamu, eh taunya, haha, aku bodoh banget sih. Udah lah, semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu. Jangan hubungi atau coba ngomong sama aku lagi. Ini terakhir kalinya" Kata Kirana kemudian mendorong tubuh Rian dan pergi meninggalkannya.


Kirana setengah berlari, sambil terus menghapus air matanya yang terus mengalir. Sesampainya di gerbang, seorang laki-laki berjas hitam lengkap dengan kaca mata hitamnya langsung menarik tangannya. Jangan tanyakan itu siapa. Yups, dia adalah Syam. Sejak 2 jam yang lalu dia sudah berdiri menunggu Kirana disana. Bahkan dia membatalkan beberapa rapat nya. Karena membayangkan Kirana bersama laki-laki lain saja sudah membuatnya naik darah.


"Hey" teriak Kirana. Namun Syam tetap menarik Kirana ke dalam mobilnya. Mau tidak mau Kirana memang harus menurut, karena dia juga sedang berada pada mood yang buruk.


"Bagaimana tadi ujianmu?" Tanya Syam saat mereka sudah di dalam mobil.


"Lancar" Kata Kirana kemudian menyenderkan kepalanya di kursi mobil.


"Lancar? tapi kenapa dengan wajahmu itu? apa kau habis menangis" Tanya Syam.


"Hmmm, aku sedang malas bicara" Kata Kirana kemudian memejamkan matanya. Tanpa disadari itu membuat setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


"Hey, kamu kenapa?" Tanya Syam sambil memegang pipi Kirana. Kirana membuka matanya kemudian beralih memeluk lengan Syam dan memejamkan matanya di sana yang membuat Syam langsung terdiam.


"Kenapa jantungku harus berdetak lebih cepat saat bersama dia" batin Syam. Dia pun beralih mengusap rambut Kirana membiarkannya terlelap disana.


"Apa kamu menangis karena laki-laki itu?" Tanya Syam. Kirana menggeleng kemudian mempererat pelukannya.


"Entahlah, aku nyaman berada pada posisi seperti ini dengannya, dia terasa tidak asing" batin Kirana, hingga akhirnya dia terlelap. Mungkin karena otak dan hatinya bekerja terlalu keras hari ini.


Syam yang menyadari Kirana sudah tertidur kemudian memindahkan kepala Kirana agar berbaring di pangkuannya. Sebenarnya dia melakukan itu agar lebih leluasa melihat wajah Kirana. Benar saja, sekarang dia sedang menatap wajah Kirana mulai dari mata hingga bibirnya.


"Kenapa dia menjadi cantik sekali seperti ini, dan lihatlah bulu mata ini. Kenapa lentik sekali?" Kata Syam sambil mengusap-ngusap bulu mata Kirana pelan.


"Tuan, kita mau kemana?" Tanya Leon yang saat ini di kemudi mobil.


"Ke kantor saja. Aku ada rapat lagi sekarang" Kata Syam.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan nona?" Tanya Leon.


"Nanti dia bisa tidur di kantor. Oya, suruh Luna membawakan makan siang" Kata Syam kemudian menatap Kirana dan mendaratkan ciuman di dahinya yang membuat Kirana tersenyum.


"Bisa-bisa nya kau tertidur secepat ini dan pada posisi seperti ini" Kata Syam.


Sesampainya di kantor, Syam langsung menggendong Kirana menuju ruangannya yang membuat beberapa pasang mata terlihat memperhatikannya. Mereka terlihat penasaran kenapa bosnya bisa membawa anak SMA ke kantornya yang membuat beberapa spekulasi buruk tentangnya.


"Apa bos sekarang sudah berpindah haluan ya?" Kata seorang OB disana.


"Berpindah haluan bagaimana?" Kata pekerja lainnya.


"Dia sekarang menjadi pedofil. Mungkin dia sudah bosan menyakiti wanita-wanita dewasa dan berpindah haluan ke gadis remaja" kata OB itu.


"Hush, tidak boleh suudzan, mungkin dia adik nya" kata si pekerja.


Sesampainya di ruangannya Syam langsung membaringkan Kirana di kasur. Syam mempunyai sebuah ruangan yang memang lengkap dengan kasur dan bantal tempat dia bisa beristirahat saat lelah.


"Tidurlah" Kata Syam kemudian mencium hidung Kirana dan meninggalkannya sendiri karena dia harus menghadiri rapat.


***


Rian sedang mengajari Alya tentang rumus-rumus matimatika. Namun dia terlihat tidak fokus. Kejadian tadi siang masih menghantuinya. Saat dimana dia harus kehilangan wanita yang selama ini dia sayangi. Dia tidak pernah menginginkan ini. Namun insiden kesalah pahaman itu membuatnya harus menanggung semua ini. Dia harus berpura-pura mencintai dan menjadi pacar Alya.


Flashback


"Ini Yan" Kata Alya sambil menyodorkan jus jeruk pada Rian.


"Terima kasih" Kata Rian sambil fokus memeriksa hasil jawaban Alya.


"Diminum dulu yan, jangan terlalu serius, nanti cepat tua loh" Kata Alya sambil melihat Rian dengan senyum menggodanya seperti biasa.


Rian yang masih fokus dengan kertas-kertas di depannya, langsung meminum jus itu, tanpa curiga sedikitpun. Hanya dalam beberapa menit, Rian terlihat bereaksi yang membuat Alya senyum penuh kemenangan.


Matanya terlihat sayu, ada sebuah hasrat yang tidak bisa dibendung disana.


"Ada apa denganku" batin Rian. Dia melihat Alya yang saat ini tengah tersenyum puas padanya.


"A-apa yang kau masukkan disana" Tanya Rian dengan suara yang sudah parau. Alya pun mendekati Rian kemudian membisikkan sesuatu di telinga Rian.


"Aku pikir kamu sudah tahu" bisik Alya yang membuat tubuh Rian meremang seketika.


"Kamu ingin aku bantu mengobati itu?" Tanya Alya sambil melirik bagian bawah Rian.


"Tidak" Kata Rian sambil mendorong Alya. Dia berusaha menahan gejolak di dalam dirinya. Dia berlari sekuat tenaga ke kamar mandi, namun kamar mandi terkunci.

__ADS_1


"Apa kau mencari ini Yan?" Tanya Alya yang membuat Rian langsung menoleh. Saat ini Alya sedang berdiri didinding dekat kamar mandi sambil memperlihatkan kunci kamar mandi.


"Kau tidak akan bisa menolakku lagi" Kata Alya kemudian meletakkan kunci tersebut di dadanya.


"Ambillah" Kata Alya. Rian yang saat itu dikuasai nafsu, langsung mengambil kunci tersebut dan meremas dada Alya, yang membuat Alya langsung mengerang. Rian tersadar dan berusaha mengendalikan dirinya. Dia yang sudah mendapatkan kunci kamar mandi langsung membukanya dan masuk ke sana, meninggalkan Alya yang mengumpat kesal.


"Sial" Umpat Alya kemudian mengambil HP yang sejak tadi dia taruh di pojok untuk merekam kejadian itu.


"Tidak apa-apa, aku sudah mendapatkannya" Kata Alya sambil tersenyum jahat.


Beberapa jam di kamar mandi, Rian terlihat keluar dengan rambut basah. Alya langsung menyodorkan handuk padanya kemudian duduk di sofa. Rian menerimanya, bahkan dia terlihat biasa saja. Walaupun sebenarnya di hatinya dia sedang mengumpat. Tapi dia tipikal orang yang tidak bisa menyakiti wanita. Tapi dia sudah berjanji untuk tidak akan bertemu dengan Alya lagi setelah ini.


"Aku minta maaf yan. Aku salut padamu Yan, pertama kalinya aku menemukan laki-laki yang sekuat itu menahan nafsunya, haha, namun karena itulah aku mencintaimu" Kata Alya sambil meminum jus jeruk yang tadi belum sempat dia minum.


"Tapi aku tidak mencintaimu. Aku mungkin memafkanmu akan kejadian tadi. Tapi sepertinya aku harus mengundurkan diri, aku tidak bisa mengajarimu les lagi. Tolong jangan dekati atau hubungi aku lagi" Kata Rian dan hendak mengambil tasnya namun terhenti karena teriakan Alya.


" Kau tidak akan pernah bisa melakukan itu padaku. Haha, kau lihat ini?" Kata Alya sambil menyodorkan Hp nya.


Rian terlihat begitu terkejut saat melihat dirinya disana sedang memegang dada Alya dan hendak mencium bibir Alya.


"Ini akan tersebar besok pagi, satu sekolah akan tahu semuanya termasuk Kirana. Tidak hanya itu saja, aku akan mengirimkan ini pada Umi dan Abimu" Kata Alya yang membuat Rian terdiam seketika. Seketika terlintas penyakit jantung uminya. Jika Uminya tahu, dia takut penyakit jantung uminya kambuh lagi.


"Bagaimana ini?" batin Rian sambil menarik rambutnya frustasi


"Tapi aku tidak melakukan apapun padamu" Kata Rian.


"Haha, kau tadi memegang dadaku loh sayang" Kata Alya dengan suara manjanya.


Rian memejamkan matanya. Dia terlihat berpikir keras. Menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha berpikir jernih untuk mencari solusi. Namun tidak ada satupun yang muncul hingga dia memutuskan untuk mengikuti rencana Alya.


"Apa yang kau mau?" Tanya Rian.


"Aku ingin kamu jadi pacarku dan putusin Kirana" Kata Alya yang membuat wajah Rian memerah karena marah.


"Tidak, kamu gila. Aku sangat mencintainya" Kata Rian setengah berteriak.


"Ya sudah, besok Vidio ini akan aku kirimkan pada umi dan Abimu" Kata Alya dengan wajah yang sangat menjengkelkan. Rian kembali menarik rambutnya frustasi. Apakah ini sudah jalan hidupnya, dia akan berakhir dengan wanita kejam ini, dan harus meninggalkan semua impian yang sudah dia bangun bersama Kirana. Tapi dia tidak boleh egois, karena ini menyangkut nyawa uminya.


"Hmmmm, Baiklah. asalkan jangan sebar Vidio itu" Kata Rian yang membuat Alya langsung tersenyum bahagia dan memeluk Rian.


"Lepaskan, kita mungkin pacaran. Tapi kamu tidak boleh memelukku atau berlaku lebih" Kata Rian.


"Baiklah, terima kasih sayang" Kata Alya dengan senyum yang merekah.


"Aku akan pikirkan nanti, bagaimana caranya menghapus Vidio itu dan menjauh dari wanita ini. Maafkan aku Kirana sayang" Batin Rian.

__ADS_1


-Flashback Off-


-Bersambung-


__ADS_2