
Setelah mengingat tentang cctv yang dia pasang di beberapa sisi rumahnya. Syam langsung berlari ke arah ruang monitor CCTV. Dia menaiki anak tangga dengan berlari bahkan melupakan lift yang biasa dia pakai.
Syam langsung memutar CCTV ke beberapa menit yang lalu dan melihat Kirana berlari keluar rumah. Dia terlihat berlari ke taman belakang. Tanpa basa basi, Syam pun langsung berlari ke taman belakang. Dia takut Kirana akan lompat lagi melewati tembok seperti sebelumnya.
Sesampainya di taman belakang, Syam langsung mencari keberadaan Kirana. Hingga dia sampai di sebuah bangku dekat kolam renang. Dia melihat seseorang tengah menangis di bangku hijau di samping kolam itu. Syam langsung mendekatinya dan memeluknya.
Kirana begitu terkejut karena pelukan tiba-tiba yang diterimanya. Dia merasakan tubuh kekar yang tidak asing sedang menempel di tubuhnya.
"Maafkan aku" Kata Syam sambil mempererat pelukannya. Kirana memegang tangan Syam yang saat ini memeluk pinggangnya berusaha melepaskannya. Namun Syam tidak ingin melepaskannya. Bahkan memeluknya lebih erat. Dia membaringkan kepalanya di punggung Kirana.
"Syam, lepaskan, hiks" Kata Kirana.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memaafkanku" Kata Syam. Kirana terdiam sebentar, kemudian mencubit tangan Syam sehingga membuat Syam mengaduh namun tidak juga melepaskan pelukannya.
"Syam, aku susah bernafas" Kata Kirana. Syam pun melonggarkan pelukannya namun tetap memeluk Kirana. Bahkan mencium leher Kirana.
"Syam, apa yang kau lakukan" Kata Kirana karena merasa geli.
"Maafkan aku dulu" Kata Syam.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan memaafkanmu" Kata Kirana sambil berusaha menjauhkan tubuhnya dari Syam.
Syam tetap diam tanpa melepaskan pelukannya di tubuh Kirana. Hingga Kirana lelah dan membiarkan mereka pada posisi seperti itu untuk beberapa lama.
Selang beberapa lama, Kirana merasakan ada yang aneh pada punggungnya. Dia merasakan punggungnya basah dan mendengar Syam mendengus hidungnya.
"Syam apa kau menangis?" Tanya Kirana karena dia merasakan punggungnya yang semakin basah. Syam hanya diam, hingga Kirana berinisiatif membalikkan badannya. Syam pun langsung memalingkan wajahnya tanpa berniat melepaskan Kirana.
"Kau menangis?" Tanya Kirana sambil memegang wajah Syam. Syam menggeleng tanpa berniat menatap Kirana.
"Lihat aku!" Kata Kirana sambil mengarahkan wajah Syam untuk menatapnya. Syam pun mau tidak mau menatap Kirana. Terlihat jelas matanya berair dan memerah. Mata Kirana pun sama, matanya terlihat sembab sehabis menangis.
"Aku memaafkanmu, tapi jangan ulangi lagi" Kata Kirana sambil menghapus bekas air mata di wajah Syam. Syam hanya diam saja, sambil terus menatap wajah Kirana sendu.
Berada sedekat ini membuat jantung mereka tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ada sebuah kehangatan terpancar Dimata Syam yang memandang Kirana saat ini. Hatinya menghangat karena perlakuan Kirana padanya tadi. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan hal seperti ini dari seorang wanita.
Tatapan Syam tiba-tiba beralih ke bibir Kirana. Walaupun dia masih SMA, Kirana bisa mengerti arti dari tatapan Syam itu. Namun dia hanya diam saja. HinggaSyam mulai mendekati wajahnya secara perlahan yang membuat wajah mereka sampai hanya berjarak satu cm. Meraka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing menerpa wajah mereka.
"Hmmmm" Ucap Kirana setelah berhasil mengalihkan wajahnya. Syam pun langsung mendaratkan sebuah ciuman di pipi Kirana. Syam kemudian tersenyum dan mencubit pipi Kirana gemas.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah memaafkanku" Kata Syam kemudian menarik Kirana kedalam pelukannya. Kirana mengangguk dan membalas pelukan Syam.
"Astaga, aku lupa" kata Syam kemudian melepas pelukannya.
"Apa?" Tanya Kirana.
"Leon dan anak buahku sedang mencarimu" Kata Syam kemudian mengambil HPnya dan menelpon Leon. Kirana tersenyum melihat tingkah Syam yang terlihat begitu kekanakan beberapa detik yang lalu, dan sekarang dia terlihat begitu tegas saat menelpon Leon.
Setelah mematikan panggilan telpon. Syam langsung mengajak Kirana masuk kedalam dan memintanya untuk beristirahat di kamarnya. Karena dia harus menyelesaikan masalah adiknya.
"Aku ikut" rengek Kirana. Namun Syam langsung menggeleng cepat.
"Istirahatlah. Aku tidak ingin kau melihat mantan pacarmu lagi" Kata Syam sambil memegang rambut Kirana.
"Posesif sekali" Kata Kirana kemudian pergi meninggalkan Syam dengan perasaan kesal.
Syam hanya tersenyum kemudian menelpon kepala pelayan untuk membuatkan makanan karena dia tadi tidak sengaja mendengar suara perut Kirana saat memeluknya di taman belakang.
-Bersambung-
__ADS_1