
Selang beberapa lama menunggu, Leon terlihat datang bersama Gladis dan Luna. Gladis datang lengkap dengan alat kedokterannya.
"Kau apakan lagi gadis itu?" Tanya Gladis saat baru sampai. Syam langsung menatap Gladis kesal. Dia tidak habis pikir, kenapa Gladis langsung menuduhnya seperti itu, walaupun memang sebenarnya setiap kali dia memanggil Gladis pasti saat Kirana terluka akibat dari perbuatannya.
"Aku memintamu kesini untuk memeriksa Alya" Kata Syam.
"Ha? Alya? Dia kenapa?" Tanya Gladis yang terlihat terkejut. Syam diam saja tanpa berniat menjawab pertanyaan Gladis. Dia kemudian meminta Leon untuk membawa Alya dan Rian ke sana.
"Baik tuan" Kata Leon kemudian berlalu pergi. Gladis terlihat bingung dengan sikap Syam.
"Adiknya sakit, namun dia terlihat biasa saja" batin Gladis.
Beberapa menit berlalu, Leon datang bersama Alya dan Rian dibelakangnya.
"Hey, kenapa mereka dari ruang bawah tanah, kau meletakkan adik mu disana?" Tanya Gladis yang telihat bingung.
"Banyak bicara kau ini. Kau kesini untuk memeriksa dia, bukan untuk mengurusi urusan orang lain, kau ingin aku mencabut gelar dokterku itu huh?" Kata Syam yang membuat Gladis langsung diam, karena Syam memang selalu menepati setiap ucapannya. Syam kemudian bangun dan melepaskan tali yang mengikat tangan adiknya. Dia meminta Alya duduk di sofa, begitu pun dengan Rian.
Alya terlihat bingung dengan perubahan sikap kakak nya yang tiba-tiba lembut padanya.
__ADS_1
"Dia kesambet apa sampai bisa bersikap selembut ini" Batin Alya kemudian duduk di samping Gladis.
"Kak"ucap Alya sambil bergelayut manja di tangan Gladis. Syam yang melihat itu hanya mendengus kesal. Dia sangat tahu bahwa Alya akan mengatakan apa ke Gladis setelah itu.
"Kamu sakit apa Alya?" Tanya Gladis.
"Sakit hati kak, kak Syam tega mengurungku di ruang bawah tanah dan juga menyita Hp ku" Ucap Alya. Gladis hanya mendengus.
"Drama apalagi ini" Batin Gladis. Dia sungguh malas berurusan dengan kakak beradik ini. Namun dia juga sayang pada mereka berdua, jadi mau tidak mau dia harus menjadi penengah untuk masalah mereka.
"Syam, apa benar yang dikatakan Alya?" Tanya Gladis. Syam melihat Alya yang sedang bergelayut manja di tangan Gladis dengan malas.
"Kau bercanda Syam, Alya hamil?" tanya Gladis kemudian. Syam hanya diam saja. Gladis pun langsung melihat Alya dan menanyakan hal tersebut pada Alya. Alya menunduk dan memilih diam. Dia pun juga kaget bahwa ternyata dia dipanggil hanya untuk memeriksa kehamilannya. Dia terlihat cemas karena pasti Syam akan tahu kebohongannya jika Gladis benar-benar memeriksanya.
"Alya, jawab kakak!" Teriak Gladis memenuhi ruangan. Alya hanya diam saja sambil meremas bajunya dengan gemetar.
"Bagaimana ini, aku harus bagaimana sekarang. Apa kebohonganku akan terbongkar secepat ini" Pikir Alya.
"Cepatlah periksa dia, dia tidak akan menjawab pertanyaanmu, kau buktikan saja sendiri sana" Ucap Syam sambil melihat gerak gerik Alya yang terllihat cemas. Dia mulai curiga akan kehamilan Alya. Dia sangat tahu Alya seperti apa sejak dulu. Kenapa dia bisa lupa sifat adiknya yang sering berpura-pura dan berbohong sejak kecil. Mungkin karena pikiran kalutnya tadi saat Kirana menghilang dan kabur bersama-sama laki-laki itu. Sehingga otak cerdasnya tertutup begitu saja.
__ADS_1
"Kamu benar juga Syam, ayo ikut kakak ke kamar Alya" Ucap Gladis. Alya menurut dan mengikuti Gladis di belakang sambil tertunduk.
"Matilah aku" Ucap Alya sambil meremas roknya.
Disisi lain, Rian hanya tertunduk dengan tatapan kosong. Pikiran nya melayang entah kemana. Bayangan Kirana yang tidak mau menerimanya lagi sedang menari-nari di kepalanya. Wanita yang begitu dicintainya dan sangat ingin dia miliki hilanglah sudah. Kesempatannya untuk bersama Kirana sudah tidak ada lagi.
Beberapa menit lamanya, Gladis dan Alya tidak kunjung keluar. Syam mulai kesal dan meminta Luna memeriksa mereka. Setelah Luna beranjak menyusul mereka ke kamar, Alya terlihat keluar bersama Gladis disampingnya.
"Bagaimana?" Tanya Syam. Gladis terdiam sebentar kemudian menatap Syam ragu.
"Alya memang hamil" ucap Gladis namun terlihat ragu.
"Tapi, aku sarankan untuk membawanya ke rumah sakit" Kata Gladis.
Syam pun mengangguk, walaupun jauh di dalam dirinya, dia masih belum yakin dengan kehamilan Alya. Namun untuk sekarang dia akan membiarkan kehamilan Alya dan meminta Rian bertanggung jawab dengan cara menikahi Alya sehingga Rian tidak akan mengganggu Kirana lagi.
Alya tersenyum karena rencananya berhasil, sedangkan Rian terlihat lesu. Dia yakin Alya pasti akan memenangkan permainan ini sejak tadi. Jadi sekarang, dia sudah pasrah atas apapun yang terjadi pada dirinya. Karena dia pun tidak memiliki kesempatan lagi bersama Kirana.
-Bersambung-
__ADS_1