Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif
Jangan sentuh aku


__ADS_3

"Aaaaa" Teriakan Kirana memenuhi kamar mandi. Syam langsung menutup mulut Kirana dengan tangannya.


"Kalian keluarlah" Perintah Syam pada Luna dan Leon. Mereka pun langsung keluar dan menghilang saat terdengar pintu tertutup. Kirana yang sadar jika saat ini hanya Syam dan dirinya di sana langsung memegang dadanya. Berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan cara apapun.


"A-apa yang Om ma-mau lakukan?" Tanya Kirana gugup.


"Menurutmu apa Ha?" Kata Syam dengan senyum yang begitu menyeramkan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kirana.


"Om-om jika a-aku sa-salah, maafkan aku, ta-tapi tolong jangan lakukan itu" Kata Kirana sambil mencoba menjauhi Syam sebisa mungkin.


"Lakukan apa?" Kata Syam sambil terus mendekatkan wajahnya ke Kirana.


"To-tolong Om" Hanya kata itu yang bisa diucapkan Kirana sekarang. Dia sudah terpojok dan tidak bisa berpindah kemanapun.


"I-ikut aku" Kata Syam kemudian menarik tangan Kirana keluar dari Bathtub. Kirana menarik tangannya, dia sungguh tidak bisa keluar dari Bathtub yang penuh busa itu. Karena saat ini dia sedang tidak menggunakan sehelai benangpun.


"Aku tidak menggunakan apapun" Kata Kirana.


"Lalu?" Kata Syam dengan senyum devilnya.


"A-aku malu" Kata Kirana.


"Hahaha, aku sudah sering melihat tubuh wanita, bahkan yang jauh lebih sexy darimu. Kamu tidak seberapa, aku tidak akan mungkin tertarik padamu. Cepat keluarlah, kamu harus diberi pelajaran" Kata Syam.


"Apa? Om ungin menghukumku? salahku apa?" Tanya Kirana sambil tetap menutup bagian penting tubuhnya.


"Banyak, keluarlah cepat dari sana" Kata Syam dengan wajah yang tampak khawatir karena melihat bibir pucat Kirana.


"Tidak, aku tidak akan keluar dari sini, lebih baik aku mati disini saja" Kata Kirana.


"Hmmm, keras kepala sekali" Kata Syam kemudian mendekati Kirana dan menggendongnya secara paksa dalam keadaan tanpa busana.


"Haaa, turunkan aku" Teriak Kirana. Namun Syam malah membawa Kirana keluar dari kamar mandi kemudian mengelap tubuh Kirana dengan handuk. Kirana terus memberontak hingga membuat Syam kewalahan memasangkan handuk di tubuh Kirana.


"DIAM" Teriak Syam. Kirana pun langsung terdiam. Kirana mengikuti perintah Syam dalam diam. Hingga badannya sudah terlilit handuk sempurna.


"Keringkan rambutmu sendiri" Kata Syam kemudian meninggalkan Kirana sendiri begitu saja di kamar.


"Ternyata dia benar-benar tidak tertarik padaku" Batin Kirana.


"Syukurlah, ini adalah hal yang baik untukku" Kata Kirana kemudian lanjut mengeringkan rambutnya.


Beberapa menit berlalu, Kirana sudah terlihat menggunakan dress merah muda motif bunga-bunga. Saat itu juga Luna terlihat masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Nona, anda diminta ke ruang makan oleh tuan muda" Kata Luna.


"Hmm, Baiklah, sebentar kakak punya ikat rambut tidak?" Tanya Kirana.


"Ada di laci nona" Kata Luna. Saat sudah menemukan barang yang dia cari, Kirana langsung mengikat rambutnya khas kuncir kuda sehingga memperlihatkan lehernya yang begitu putih mulus.


"Ayo kak" Kata Kirana sambil menggandeng tangan Luna.


"Apa nona ini tidak takut sama sekali dengan orang asing" Batin Luna saat melihat senyum Kirana yang tidak luntur di wajahnya.


"Oya kak, kita belum kenalan, namaku Kirana" Kata Kirana kemudian menjulurkan tangannya.


"Iya Nona, saya sudah tahu. Saya Luna" Kata Luna kemudian menjabat tangan Kirana.


"Jangan panggil Nona kak, panggil aku Kirana saja, oke" Kata Kirana sambil menautkan jarinya membentuk emoji oke.


"Maaf nona, saya tidak bisa. Ini sudah perintah dari tuan muda" Kata Luna sambil tersenyum kikuk.


"Hmmm, terserahlah. Mood ku jadi memburuk ketika kakak menyebut namanya. Ayolah kita makan, aku lapar" Kata Kirana yang dibalas anggukan oleh Luna.


"Aku butuh banyak makanan untuk berpikir tentang rencanaku besok" batin Kirana dengan senyum diwajahnya.


Saat di depan meja makan dia langsung di sambut oleh pelayan yang sedang berbaris di sekitar meja, Kiran pun l duduk di salah kursi di sana sambil melihat sekitar, mencari keberadaan laki-laki yang dianggap tuan muda disana.


"Om-om gila itu" Kata Kirana kemudian.


"Maaf nona, apa yang nona maksud tuan muda?" Kata Luna.


"Hmmm" Kata Kirana sambil memakan hidangan di depannya.


"Tuan muda sudah pulang ke rumah tuan besar nona" Kata Luna.


"Tuan besar? siapa lagi itu?" Tanya Kirana. Dia tidak habis pikir, kenapa nama seseorang diganti dengan sebutan yang susah dimengerti.


"Tuan besar adalah ayah dari tuan muda" Kata Luna sambil tersenyum ramah.


"Owh, oke2" Kata Kirana.


"Syukurlah dia tidak ada disini" Batin Kirana. Dia pun langsung memakan semua makanan di depannya dengan lahap. Luna hanya bisa melihatnya sambil geleng-geng kepala.


***


Kirana terlihat sudah rapi dengan rok abu-abunya, rambutnya dia gerai begitu saja, tanpa riasan seperti biasanya.

__ADS_1


"Nona sudah siap?" Tanya Luna.


"Tentu, ayo" Kata Kirana dengan semangat membara. Dia sudah merancang misinya sejak tadi malam untuk kabur, dan dia sangat yakin akan berhasil untuk kabur.


"Apa nona yakin? nona terlihat pucat sekali" Kata Luna.


"Biarkan saja, ayo, nanti aku telat" Kata Kirana kemudian mengambil tasnya dan berjalan mendahului Luna.


"Baiklah nona" Kata Luna kemudian berjalan mengikuti Kirana.


"Aku pasti bisa" batin Kirana mencoba menguatkan diri.


Kirana pun ke sekolah dengan diantar oleh Luna dengan beberapa bodyguard yang mengikutinya tanpa sepengetahuan Kirana. Kirana memandang takjub jalanan yang dilaluinya. Dia baru sadar jika jalan ke rumah Syam harus melalui hamparan kebun teh yang begitu indah.


"Astaga apa ini, kita juga akan melewati hutan" Batin Kirana. Dia sungguh lupa pernah melewati jalan ini. Mungkin karena kemarin dia terlalu asik ribut dengan Syam jadi dia melewatkan pemandangan ini.


"Hmmm, bye bye pemandangan indah" Batin Kirana.


Sesampainya di sekolah dia langsung berlari masuk. Dia meminta untuk diturunkan beberapa meter dari gerbang sekolah. Karena, dia takut jika akan dibicarakan satu sekolah karena diantar dengan mobil mahal tersebut.


"Baiklah, saya tunggu disini ya nona sampai nona pulang sekolah" Kata Luna.


"Ha? kalian mau menunggu terus disini? aku pulang jam 2 loh" Kata Kirana.


"Tidak apa-apa nona, itu sudah perintah dari tuan muda" Kata Luna yang langsung dibalas anggukan oleh Kirana.


"Baiklah, selamat menunggu" Kata Kirana sambil terkekeh pelan.


"Menunggu lah sampai lumutan, aku tidak akan balik kesini lagi" Batin Kirana kemudian berlari ke gerbang sekolahnya dengan wajah yang begitu bahagia.


"Hey Rian" Sapa Kirana saat melihat Rian sedang berjalan menuju kelasnya. Namun Rian hanya terdiam, bahkan tanpa berniat untuk menoleh Kirana.


"Hey, sayang" Panggil Kirana lagi, namun Rian tetap fokus ke depan.


"Heyyy" Teriak Kirana yang membuat Rian langsung melihatnya dengan mata yang sudah memerah.


"Astaga Yan, kamu kenapa?" Tanya Kirana kemudian memegang tangan Rian.


"Jangan sentuh aku" Kata Rian kemudian menepis tangan Kirana.


"Ma-maaf, tapi kamu kenapa? apa ada masalah?" Tanya Kirana khawatir. Rian memejamkan matanya sebentar, mencari kekuatan dihatinya, air mata pun tiba-tiba mulai merembet membasahi pipinya, dia langsung memalingkan wajahnya.


"Hmmm, biarkan aku sendiri dulu" Kata Rian kemudian berlalu meninggalkan Kirana.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2