
3 hari berlalu, kaki Kirana sudah mulai sembuh. Dia bahkan sudah terlihat menerima Syam. Perhatian Syam pada Kirana membuatnya sedikit luluh. Namun perasaannya masih sama. Dia masih tetap memikirkan Rian pacarnya. Jika Rian tahu semua ini, dia pasti akan sangat kecewa. Tapi, apapun yang terjadi, Kirana sangat yakin. Dia tidak akan bisa keluar dari tempat ini.
"Kenapa?" Tanya Syam yang saat ini sedang duduk disamping ranjang sambil menyuapi Kirana.
"Hmmm, besok aku ujian sekolah" kata Kirana sambil menatap Syam.
"Lalu?" tanya Syam. Walaupun dia tahu maksud dari Kirana, tapi dia hanya ingin menggodanya.
"Aku ingin ikut ujian" tambah Kirana sambil memegang tangan Syam. Ini pertama kalinya dia memegang tangan Syam duluan.
"Hmmm, kau bisa ikut ujian dari rumah, nanti aku yang mengaturnya" kata Syam.
Kirana tertunduk, dia berpikir lagi. Memang tidak buruk jika ujian di rumah, tapi dia merindukan Rian. Setidaknya dia ingin mengucapkan kata pisah pada Rian. Karena dia tidak tahu sampai kapan terjerat di tempat ini. Dia tidak ingin Rian khawatir atau menunggunya. Dia sudah memikirkannya matang-matang tadi malam, untuk mengakhiri hubungannya dengan Rian. Dia memang akan terlihat kejam. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sejauh apapun dia berusaha kabur, dia akan kembali lagi ke tempat ini.
"Kenapa?" tanya Syam sambil memegang dagu Kirana agar Kirana manatap wajahnya.
"Aku ingin ujian di sekolah. Ini momen-momen terakhirku bersama teman-teman" Kata Kirana kembali. Syam terlihat berpikir sejenak kemudian tersenyum jahil.
"Baiklah, tapi ada syaratnya" Kata Syam yang membuat Kirana langsung mengerutkan keningnya.
"Apa?" Tanya Kirana yang mulai sedikit curiga karena melihat senyum aneh Syam.
"pertama cium aku" Kata Syam yang membuat mata Kirana melotot seketika.
__ADS_1
"kedua kau tidak boleh bertemu dengan laki-laki itu"
"Ketiga, Luna harus menemanimu sampai ujian selesai" kata Syam.
"Lebih baik aku ujian di sini" Batin Kirana. Namun dia benar-benar harus menyelesaikan urusannya dengan Rian. Dia sangat mencintai Rian, namun dia tidak mungkin egois dengan meminta Rian mempertaruhkan nyawanya hanya untuk dia.
"Baiklah-baiklah, tapi untuk syarat kedua, aku tidak bisa. Karena aku ingin bertemu dengannya untuk memutuskan hubungan kami" Kata Kirana yang membuat Syam langsung kesal.
"Aku sudah bilang. Kamu sekarang milikku. Jangan pernah bertemu laki-laki lain. Kamu tidak perlu mengucapkan kata-kata putus dengannya. Karena ketika kamu menginjakkan kakimu disini. Kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengannya" Kata Syam dengan nada sedikit tegas.
"Hmmm, tidak bisa begitu Syam. Aku dulu pacaran dengan dia baik-baik jadi aku ingin mengakhiri hubunganku juga dengan baik-baik" Kata Kirana tidak mau kalah.
"Jangan pernah sebut-sebut dia pacarmu, cuma aku yang boleh ada dipikiran dan hatimu, dan cuma aku pacarmu, mengerti!" Kata Syam lagi, yang membuat Kirana terdiam dan mulai meneteskan air mata. Melihat itu Syam langsung terdiam dan merasa bersalah.
Beberapa saat hanya keheningan diantara mereka, karena Kirana masih berusaha mengendalikan air matanya. Dan Syam yang masih dipenuhi rasa bersalah.
"Maafkan aku" Kata Syam. Kirana memukul-mukul lengan Syam dan menangis di dalam pelukannya.
"Kamu jahat, kamu jahat. kamu egois, egois hiks. Aku hanya ingin menyelesaikan masalahku. Apa salah? aku hanya tidak ingin menyesalinya dikemudian hari. Aku tidak ingin menyakiti orang lain. Aku sudah berkorban untuk melepaskan dia, hiks. Aku hanya ingin bertemu dengan dia untuk mengatakan kata pisah. apa salah huh?. Aku sudah menerima hidupku seperti ini. Aku sudah memutuskan untuk tidak kabur lagi. Tapi apa balasanmu, huh? hiks. hiks" Kata Kirana sambil terus menangis di dalam pelukan Syam.
"Maafkan aku, aku melakukan ini karena....." ucap Syam namun terhenti karena dia juga tidak tahu karena apa.
"Karena apa? hiks" Tanya Kirana sambil mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Lupakan, ya sudah besok kamu boleh ke sekolah atau bertemu dengannya. Tapi ingat, itu terakhir kalinya aku mengizinkanmu bertemu dengannya. Jika tidak, kau tahu sendiri apa yang akan ku lakukan padanya" Kata Syam sambil menghapus air mata Kirana. Kiranapun mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di dada Syam. Ntah mengapa perasaannya sedikit tenang sekarang. Apakah karena Syam memperbolehkannya bertemu dengan Rian atau karena pelukan Syam saat ini.
"Lalu bagaimana dengan syarat pertama?" Tanya Syam sambil tersenyum jahil. Tanpa aba-aba Kirana langsung mendongak dan memberikan ciuman singkat dibibir Syam kemudian kembali membenamkan wajahnya di dada Syam.
Syam begitu syok, terllihat jelas dari wajahnya yang memerah sekarang. Jantungnya pun sudah berpacu begitu kencang. Kirana bisa mendengar dan merasakan perubahan Syam. Dia kemudian melepaskan pelukannya, kemudian tertidur kembali dan membenamkan dirinya di selimut.
"Hey" Kata Syam kemudian menarik selimut yang menutupi wajah Kirana.
"Kau gadis nakal" Kata Syam sambil mencubit pipi Kirana gemas. Kemudian mengelus bibirnya. Kirana diam saja, dia pun sekarang sedang berperang dengan jantungnya sendiri. mereka bertatapan begitu lama. Ada rasa keinginan kuat di mata Syam untuk menyatukan bibir mereka. Namun dia tampak ragu, padahal hanya untuk berciuman saja, dia sudah melakukannya dengan banyak gadis bahkan lebih.
Tapi, keinginan dalam dirinya mengalahkan segalanya. Dia mulai mendekatkan bibirnya hingga membuat hembusan nafas Kirana terasa jelas menerpa wajahnya.
"cup" ciuman singkat mendarat dihidung Kirana. Syam pun langsung bangun dan kembali ke posisi semula.
"A-aku harus pergi bekerja. Kamu istirahatlah. Kalau lapar tinggal bilang pada Luna" Kata Syam kemudian berlalu pergi meninggalkan Kirana yang masih terdiam.
Kirana langsung memegang hidung dan dadanya sambil tersenyum. Dia sedikit kecewa karena Syam menciumnya di hidungnya.
"Apa yang aku pikirkan. Ingat Kirana, kamu belum resmi putus dengan Rian. Ingat Rian, ingat Rian" Ucap Kirana sambil berusaha menghapus bayang-bayang Syam di wajahnya.
Disisi lain, Syam juga terlihat sedang senyum-senyum sendiri sambil mengingat kejadian tadi.
"Padahal tadi sedikit lagi" kata Syam sambil meremas rambutnya. Leon yang saat itu sedang menyetir, melihat Tuannya yang seperti orang gila dari kaca spion hanya bisa menggeleng. Beberapa hari ini, Syam memang memiliki mood yang berubah-ubah. Kadang senyum-senyum sendiri. Kadang tertawa sendiri. Kadang marah-marah tidak jelas. Dan pastinya, Leon yakini itu karena Kirana.
__ADS_1
"Sepertinya tuan susah mendapatkan cinta sejatinya" pikir Leon sambil terus fokus menyetir.
-Bersambung-