
"Jangan tinggalkan aku lagi" Syam menarik tangan Kirana dan menggenggamnya erat-erat yang kemudian membuka matanya.
"Hey, kenapa kau tidur disini?" Teriak Kirana memenuhi ruangan. Dia mencoba bangun namun rasa perih dari kakinya membuatnya mau tidak mau berbaring kembali.
"Kakimu sakit sekali ya?" Tanya Syam yang begitu terlihat khawatir.
"Menurutmu, lihatlah itu" Kata Kirana sambil mengusap matanya yang sedikit berair. Dia bingung, air matanya keluar karena sakit dikakinya, atau melihat kekhawatiran Syam yang mengingatkannya pada Sofi ibunya dan kakaknya sewaktu masih di panti asuhan dulu.
"Kaamu cengeng sekali" Kata Syam mengejek saat melihat mata Kirana yang berair.
"Ish, Terserah, ini juga karenamu" Kata Kirana sambil mengalihkan pandangannya.
"Sebentar aku panggilkan dokter dulu. Diamlah, jangan coba kabur lagi. Lihatkan hasilnya sekarang" Kata Syam kemudian keluar dari kamar untuk mencari Leon.
Setelah keluarnya Syam dari kamar itu, Kirana langsung menangis, mengeluarkan semua beban air mata yang sejak tadi dia tahan. Dia masih bingung kenapa dia menangis. Yang dia tahu, dada nya begitu sesak sekarang dan sangat ingin mengeluarkan air matanya.
"Aku kenapa?" tanya Kirana pada dirinya sendiri sambil terus menghapus air matanya.
"Apa kakiku begitu sakit? tapi aku pernah mengalaminya sebelumnya, dan aku tidak menangis. Hiks, Apa karena aku tidak berhasil kabur? atau karena dia mengingatkanku pada Kak Chang? tidak tidak. Mungkin ini karena aku tidak berhasil kabur darinya lagi. Dia tidak ada mirip-miripnya dengan kak Chang" Kata Kirana lagi.
Selang beberapa lama, Syam terlihat masuk ke kamar Kirana dengan baju kaos dan celana pendek. Dia sudah mengganti baju kotornya tadi serta terlihat sudah mandi. Kirana yang melihat Syam masuk, begitu terpesona dengan personal Syam yang hanya menggunakan kaos biasa. Syam terlihat begitu muda dari biasanya.
"Ternyata dia tidak terihat begitu tua jika menggunakan baju santai seperti itu" Batin Kirana mengagumi Syam.
"Hey, kenapa kau memandangku seperti itu. Apa kau mulai jatuh cinta padaku atau sedang mengagumi ketampananku?" Kata Syam dengan wajah narsisnya.
"Iuhh, kePD an sekali. Ada belek di matamu tu" Kata Kirana mengalihkan.
"Ha? apa belek?" Tanya Syam bingung. Karena memang sejak dia kehilangan ingatannya semasa kecil dulu. Dia tidak pernah diizinkan bergaul dengan siapapun. Bahkan dia mengambil sekolah private di rumahnya.
"Astaga, kamu dari zaman purba mana? belek saja tidak tahu, Haha" Kata Kirana mengejek Syam dengan tawa menggelegar. Syam langsung membungkap mulut Kirana.
__ADS_1
"Perempuan itu tidak baik tertawa kencang-kencang" Kata Syam dengan wajah kesal. Kirana pun lanagsung menggigit tangan Syam karena susah bernafas.
"Aww" Teriak Syam sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Kirana kembali tertawa bahkan menjulurkan lidahnya. Syam menatap Kirana dengan wajah kesal dan sudah tampak memerah. Kirana yang merasa terpojokkanpun langsung bungkam.
"Baiklah, aku minta maaf, belek itu sama dengan kotoran di mata" Kata Kirana dengan wajah tampak serius namun sedang menahan tawa karena melihat wajah Syam yang kebingungan dan langsung memegang matanya.
"Mana ada" Kata Syam dengan polosnya, yang membuat tawa Kirana pecah kembali.
"Hahaha, sudah tua tapi masih saja mau dikibulin" Kata Kirana di sela tawanya. Tanpa pikir panjang Syam langsung mendorong tubuh Kirana dan menindihnya yang membuat Kirana terdiam seketika.
"A-apa yang kau lakukan" Kata Kirana gugup saat melihat Syam yang sedang bergerak mendekatinya.
"Aku ingin membuatmu mulutmu ini diam" Kata Syam kemudian terus mendekati wajah Kirana.
Semakin dekat....
dan....
semakin dekat....
"Tok tok tok" Suara ketukan pintu menghentikan aksi Syam. Kirana langsung bernafas lega dan mencoba menetralkan detak jantungnya yang sudah mau copot sejak tadi.
"Kau beruntung sekali" Kata Syam kemudian pergi membuka pintu. Seorang wanita cantik Dengan baju dokter nya terlihat masuk. Wanita itu tersenyum ramah saat melihat Kirana yang langsung dibalasnya.
"Hallo Nona Kirana" Sapa Gladis.
"Hallo Kak" Kata Kirana sedikit kaku. Dia begitu mengagumi wanita dihadapannya saat ini. Bagaimana tidak, wajahnya yang begitu menawan dengan bibir merah alami dan rambut hitam panjang serta senyuman yang begitu manis membuat Kirana tidak ingin berhenti menatapnya. Sebagai perempuan pun dia begitu kagum apalagi laki-laki yang menatapnya.
"Bagian mana yang sakit?" Tanya Gladis.
"Apa kamu tidak melihat, bagian kakinya ancur begitu" Kata Syam menimpali.
__ADS_1
"Aku tidak bertanya padamu" Kata Gladis dengan nada ketus. Saat melihat luka di telapak kaki Kirana dengan beberapa lebam di bagian tertentu, Gladis langsung dengan sigap mengambil alat P3K yang dibawanya.
"Ini akan sedikit sakit, tahan ya dek" Kata Gladis, tidak lupa dengan senyum manisnya. Gladis pun mulai mengobati luka Kirana. Kirana tampak sesekali meringis karena merasakan perih dikakinya.
"Apa sesakit itu" Kata Syam tiba-tiba.
"Coba kamu rasakan, aku membawa gunting dan pisau untuk merobek kakimu" Kata Gladis disela-sela mengobati Kirana.
"Ogah banget" Kata Syam kemudian mendekati Kirana karena tidak tahan melihat wajahnya yang terlihat menahan sakit. Dia menggenggam tangan Kirana mencoba menguatkannya. Kirana diam saja karena memang rasa sakitnya lebih kuat daripada egonya saat ini.
"Ada beberapa luka yang terbuka, jadi tahan sedikit ya" Kata Gladis. Kirana pun mengangguk dan mulai meremas tangan Syam.
Setelah beberapa lama bertarung dengan rasa sakit. Akhirnya Gladis selesai mengobati luka Kirana. Dia pun langsung memberikan resep obat dan beberapa salep untuk kaki Kirana. Setelah itu dia berpamitan pulang diantar oleh Syam dan Leon.
"Hey, kau apakan anak orang?" Tanya Gladis pada Syam dengan wajah penasaran.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Dia sendiri yang melompat dari tembok rumahku untuk kabur kemudian lari ke hutan" Kata Syam mencoba menjelaskan.
"Apa? gila, aku salut padanya. Untung dia tidak sampai patah tulang. Kamu sih, ngapain kamu kurung dia disini Huh?" Tambah Gladis kembali sambil menyilangkan tangannya.
"Itu bukan urusanmu, pulanglah dan terima kasih" Kata Syam kemudian berlalu pergi meninggalkan Gladis bersama Leon.
"Dasar, Om-om pedofil" Kata Gladis kemudian masuk ke mobil yang sudah disiplan Leon untuknya.
Sebenarnya Syam mendengarnya, namun dia lebih memilih bersikap acuh. Dia sedang malas berdebat dengan siapapun, termasuk sepupunya itu. Gladis adalah sepupu Syam. Gladis sudah tahu semua cerita tentang Syam sejak kecil hingga dia berakhir seperti ini. Dia sangat mengerti kenapa Syam bersikap seperti sekarang ini. Namun jika Syam sudah kelewatan batas, dia yang akan digaris pertama untuk mengomelinya. Ini bukan yang pertama kalinya dia mengobati seorang wanita karena kesalahan Syam. Jadi dia sudah cukup tahu seluk beluk Syam sejak dulu. Untuk itulah dia lebih memilih tidak ikut campur saat ini walaupun dia tahu Syam sedang menyekap seorang gadis dirumahnya.
"Mau aku antar kemana?" Tanya Leon pada Gladis.
"Ke apartemen mu saja" Kata Gladis mencoba menggoda Leon.
"Baiklah, ke rumah sakit" Kata Leon kemudian melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Cih, manusia es" batin Gladis.
-Bersambung-