Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif
Mencoba kabur 1


__ADS_3

"Biarkan aku sendiri" Kalimat itu terus terngiang-ngiang di pikiran Kirana saat ini. Satu jam pelajaran berlalu dia habiskan hanya untuk memikirkan penyebab sikap Rian berubah padanya.


Hingga bel pulang pun berbunyi, Kirana langsung merapikan tasnya dan berlari ke kamar mandi. Walaupun masalah dengan Rian belum selesai, dia harus tetap fokus menjalankan rencananya untuk kabur dari Syam. Dia berlari ke halaman belakang dimana tempat biasa ibu kantin berjualan.


"Bik bik" Panggil Kirana pada Bik Sumi pemilik Kantin.


"Iya nak, ada yang bisa bibik bantu" Tanya Bik Sumi.


"bibik ada tangga atau kursi?" Tanya Kirana.


"Ada nak, itu di belakang, buat apa?" Tanya Bik Sumi dengan mata mengintimidasi.


"Ada deh bik, pinjam ya bik" Kata Kirana kemudian mengambil tangga di belakang, dia sedikit kesusahan saat mengangkat tangga yang begitu tinggi sendiri.


"Terima kasih bik" Kata Kirana kemudian setengah berlari menuju tembok belakang.


"Ada-ada saja anak sekarang, diberikan gerbang bagus malah memanjat tembok" Kata Bik Sumi sambil menggelengkan kepalanya.


Kirana langsung meletakkan tangga tersebut berdiri di tembok. Dia mulai menaiki satu persatu secara perlahan sambil melirik ke kiri dan ke kanan.


"Oke aman" Kata Kirana dengan senyum yang mengembang.


Saat sudah smpai di atas, dia melihat ke bawah di balik tembok. Sekali lagi dia melirik ke kiri dan ke kanan.


"Tinggi juga" pikirnya saat melihat ke tanah yang akan dia pijak.


Dia mengumpulkan keberanian sebanyak mungkin untuk turun.


"Demi Rian dan Mama" kata Itu terus dia ucapkan sambil mengumpulkan keberaniannya.


Dia pun mulai menghitung,


1


.


2

__ADS_1


.


3


.


dan dia langsung melompat ke bawah sambil memejamkan matanya.


"Hmm, sebentar, kenapa aku tidak merasakan kakiku menyentuh tanah?" pikirnya dan mulai meraba-raba dibagian sampingnya.


"Sebentar, kenapa perasaanku tidak enak" pikirnya lagi saat merasakan ada tangan seseorang yang sedang dia pegang. Dia pun memberanikan diri membuka matanya.


"Aaaaaa" Teriak Kirana saat melihat Syam sedang tersenyum padanya. Dia langsung memberontak meminta untuk diturunkan oleh Syam. Namun Syam mengelak, dia mempererat tangannya yang sedang menggendong Kirana.


"Diam, atau kau akan tahu akibatnya" Kata Syam kemudian membawa Kirana ke mobilnya. Diam menutup mulutnya rapat-rapat sambil menyembunyikan wajahnya menggunakan tangannya. Karena dia sangat yakin, pasti orang-orang sedang memperhatikannya saat ini.


Saat sudah sampai di mobil. Syam langsung menghempaskan Kirana di kursi mobil, mengabaikan jeritan Kirana yang mengasuh kesakitan karena tangannya membentur bagian tajam di sabuk pengaman. Syam kemudian duduk di samping Kirana dalam diam. Walaupun terlihat jelas sekali bahwa dia sedang menahan amarahnya saat ini.


"Turunkan aku" Teriak Kirana sambil memukul lengan Syam. Syam tidak merespond sama sekali, dia lebih memilih diam daan memejamkan matanya. Namun Kirana tidak menyerah, dia berusaha segala cara untuk bisa keluar dari mobil itu. Mulai dari mendorong-dorong pintu, hingga memukul-mukul kursi. Syam yang sedari mencoba menetralisir amarahnya, sudah tidak tahan lagi ditambah dengan sikap Kirana saat ini. Dia langsung menggenggam tangan Kirana dan mencekal tangannya kuat-kuat.


Matanya yang saat ini menatap Kirana membuat siapapun takut melihatnya. Mata merah dengan sorot mata membunuh membuat siapapun akan kehilangan keberaniannya bahkan hanya untuk bernafas.


Syam tetap tidak bersuara, dia terus mendekati Kirana hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi. Syam langsung menyatukan bibirnya dengan milik Kirana, ********** kuat dan tangannya pun mulai menggelayari tubuh Kirana. Kirana berusaha meronta, namun tangannya sudah terkunci dibelakang oleh satu tangan Syam.


Syam terus menciumi bibir Kirana, hingga turun ke leher. Memberikan sedikit tekanan dan gigitan di beberapa titik. Yang membuat pemiliknya mengerang kesakitan.


"To-tolong le-lepaskan aku, nggghhh" pinta Kirana saat merasakan telapak tangan Syam menyentuh miliknya. Bahkan Kirana saat ini sudah meneteskan air matanya. Melihat Kirana yang sudah tidak berdaya, Syam langsung menghempaskan tubuh Kirana dan menghentikan aksinya.


Syam terlihat kalut, dia menarik rambutnya frustasi kemudian kembali ke posisi dimana dia menyenderkan kepalanya dikursi mobil dan memejamkan matanya. Disisi lain, Kirana terus menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Bahkan dia terdengar sesegukan sekarang. Semua kata-kata kasar dan sumpah serapan sedang dia ucapkan sekarang. Lagi dan lagi menggosok bibirnya sendiri berusaha menghilangkan bekas bibir Syam ditubuhnya. Hingga mereka sampai di rumah Syam kembali.


Dia langsung turun dan meninggalkan Kirana sendiri. Kirana terdiam sendiri masih menetralkan dirinya.


"Untunglah dia pergi, aku pasti bisa kabur dari sini" Batin Kirana. Dia melirik ke sekitar mencoba membuat rencana yang akan digunakan untuk kabur lagi.


"Nona, ayo masuk" Kata Luna dari balik pintu mobil. Kirana menurut saja, lagipula jika dia memberontak lagi kemungkinan besar dia akan mengalami hal yang sama seperti yang tadi.


Dia baru sadar jika rumah ini begitu luas. Bahkan kakinya mulai terasa pegal sekarang karena berjalan terlalu jauh, apalagi menggunakan tangga. Dari kemarin dia hanya menggunakan lift untuk naik dan turun.

__ADS_1


"Kak Luna, kenapa kita menggunakan tangga?" Tanya Kirana.


"Ini perintah dari tuan Nona" Kata Luna sambil terus berjalan di depan Kirana.


"Sial, dia sengaja ingin mengerjaiku setelah apa yang dia lakukan padaku tadi, dia pikir aku takut apa padanya, lihat saja pembalasanku nanti, aku tidak akan membiarkannya menciumku, aku akan menggigitnya atau tidak menendang selangkangannya. Astaga, kenapa aku baru kepikiran sekarang" Batin Kirana saat menyadari kebodohannya sendiri.


"Nona, kenapa?" Tanya Luna saat melihat tingkah Kirana yang mengacak-ngaca rambutnya sendiri.


"Ha? tidak ada, ayo" Kata Kirana kemudian berjalan lebih cepat dan mendahului Luna.


***


Saat jam makan malam, Syam terlihat tengah duduk sendiri di ruang kerjanya. Di depannya sudah ada Luna yang sedang menyampaikan hasil kerjanya.


"Baiklah, terima kasih. Beritahu aku hal sekecil apapun yang dilakukan gadis itu, dan aku tidak ingin hal seperti tadi siang terulang lagi" Kata Syam yang lagi diiyakan oleh Luna.


"Panggil dia, aku ingin makan malam bersamanya" Kata Syam.


"Baik tuan" ucap Luna kemudian berpamitan pergi meninggalkan Syam sendiri.


"Aku belum bisa melakukan apapun padamu sampai kamu lulus SMA, karena janji bodohku di masa lalu. Kenapa hatiku sekacau ini hanya karena gadis kecil sepertimu" Kata Syam sambil memandang foto Kirana yang ada di mejanya saat ini.


Luna yang saat ini ada di depan ruangan Kirana, langsung masuk setelah mengetuk beberapa kali namun tidak adaa tanggapan dari dalam.


"Ternyata nona sedang mendengarkan lagu" Katanya saat melihat Kirana dengan headset dan sedang sibuk- menulis sesuatu.


Kirana terlihat begitu kaget saat menyadari jika Luna sedang di sampingnya sekarang.


"A-ada apa" Kata Kirana sambil menutup bukunya.


"Nona diminta turun oleh tuan muda untuk makan malam" Kata Luna.


"Ba-baiklah, tunggu aku diluar" Kata Kirana kemudian menyimpan bukunya di tas sekolahnya kembali. Luna terlihat curiga, namun dia akan mencari tahu apa yang disembunyikan Kirana nanti.


"Ayo" Kata Kirana kemudian menggandeng tangan Luna. Sepertinya mood nya sudah baik lagi. Namun saat mood nya tiba-tiba baik seperti inilah yang membuat Luna semakin curiga pada Kirana.


"Apa?" Tanya Kirana dengan senyum diwaajahnga saat melihat Luna tiba-tiba diam dan menatapnya.

__ADS_1


"Tidak ada, ayo nona" Kata Luna kemudian berjalan beriringan ke ruang makan.


-Bersambung-


__ADS_2