Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif
Amarah


__ADS_3

"Bagaimana kabar gadis itu?" Tanya Syam pada Leon sambil melihat laporan yang di kirimkan sekretarisnya baru saja.


"Dia sedang belajar tuan" Kata Leon sambil fokus menyetir mobil.


"Buat apa dia belajar, wajahnya bloon begitu, percuma saja" Kata Syam.


"Jangan salah tuan, nona selalu juara kelas di sekolahnya. Dan nona juga sebentar lagi akan ujian kelulusan. Jika nona tidak belajar, nona tidak akan bisa lulus Tuan" Kata Leon. Syam berpikir sejenak kemudian mengangguk tanda mengerti.


"Hmm, Ya sudah, biarkan saja. Oya, kita ke rumah Kakek tua itu dulu" Kata Syam karena mengingat janjinya mdengan Surya hari ini. Padahal dia sudaha sangat merindukan gadis kecilnya, namun karena gadis kecilnya sedang belajar, jadi dia tidak akan mengganggunya hari ini.


Sesampainya di rumah Surya, Syam langsung disambut oleh ayahnya di ruang tamu. Surya begitu bahagia melihat anak sulungnya datang kerumahnya lagi. Alya yang saat itu sedang di ruang tamu juga bersama Rian langsung berlari memeluk Syam.


"Kakak" Teriak Alya dan langsung berlari ke pelukan Syam. Syam hanya terdiam memandangi laki-laki yang saat ini sedang duduk di ruang tamu, tanpa berniat membalas pelukan Alya. Dia masih ingat betul bagaimana Alya memperlakukan Kirana terakhir kali.


"Kakak" Panggil Alya manja sehingga membuat Syam mau tidak mau melepaskan pandangannya dari laki-laki itu, yang dia tahu pasti namanya Rian pacar Kirana.


"Ada apa?" Tanya Syam ketus.


"Ishh, kakak tidak merindukanku?" Tanya Alya.


"Tidak. Oya, siapa itu? kenapa kalian berduaan disini Huh?" Tanya Syam sambil menatap kesal Adik kandungnya itu. Dia memang tidak suka Kirana bersama dengan Rian, tapi dia juga tidak terima jika ada laki-laki yang mempermainkan Kirana.


"Issh, kakak macam apa kau ini. dia temanku kak. Namanya Rian. Tapi otw jadi pacar" Kata Alya sambil tersenyum malu.


"Masih bocah juga. Aku tidak menyetujuimu dengannya. Suruh dia pulang. Aku tidak suka melihatnya disini" Kata Syam kemudian berlalu meninggalkan Alya yang terlihat bingung.

__ADS_1


"Hey, apa maksudmu. Ini rumah ayah, kenapa jadi kau yang sewot. Aku juga tidak butuh restumu. Pergi sana pergi, jangan pernah kembali ke rumah ini bila perlu" Kata Alya sambil menendang-nendangkan kakinya ke atas. Dia bahkan melupakan Rian yang saat ini sedang melihatnya.


"Kau sungguh tidak tahu malu" Teriak Syam kemudian berlalu menuju kamarnya. Kamar lamanya yang jarang sekali dia tempati. Kamar dengan sejuta kenangan masa kecilnya. Tidak ada yang berubah dari kamar itu sejak dulu, dia sengaja tidak merubahnya karena ingin mengenang masa-masa kelamnya dulu saat masih kecil. Dia ingin terus mengingat kenangan itu sehingga dia tidak akan merasa bersalah karena membenci mamanya sampai saat ini.


Perlakuan buruk yang dia dapatkan semasa kecil mendidiknya menjadi laki-laki dingin seperti sekarang ini. Pukulan dan cacian yang diberikan oleh mamanya setiap ayahnya keluar bekerja membuatnya begitu membenci wanita. Mamanya memang tidak pernah menginginkannya sejak dulu, sehingga dia berakhir seperti ini.


Dia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur empuk miliknya saat sekelabak memori masa kecilnya terlintas begitu saja. Dia juga begitu bingung kenapa dia begitu ingin melindungi Kirana disaat perempuan lain begitu ia benci. Pada adiknya sendiri saja dia mampu bersikap sedingin itu, tapi kenapa pada Kirana dia kadang bersikap lembut dan bisa bercanda dengannya.


"Hmmmmm, sepertinya aku perlu berendam sebelum menemui papa" Kata Syam kemudian beranjak ke kamar mandi.


Selang waktu berlalu, Syam dan Surya terlihat duduk berhadapan di ruang kerjanya.


"Ada apa papa memanggilku?" Tanya Syam to the point.


"Aku ingin bertanya padamu dan kamu harus menjawab jujur" Kata Surya.


Di amplop itu, ternyata ada fotonya bersama dengan Kirana. Dia mulai bertanya-tanya darimana papanya mendapatkan foto itu.


"Jadi selama ini papa mengawasiku?" Tanya Syam dengan rahang yang sudah mengeras.


"Tidak, untuk apa aku mengawasiku? huh" Kata Surya.


"Lalu ini apa?" Tanya Syam sambil memegang foto-foto itu.


"Sekarang bukan itu masalahnya, Papa hanya ingin bertanya, untuk apa kamu mengurung Kirana dirumahmu Huh? dia bukan burung atau peliharaanmu" Kata Surya.

__ADS_1


"Sejak kapan papa peduli dengan urusanku. Aku semakin penasaran, ada hubungan apa papa dengan gadis itu?" Tanya Syam.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaanku dulu, kenapa kamu mengurung Kirana di rumahmu? apa kamu memperlakukannya dengan baik?" Tanya Surya.


"Sepertinya itu bukan urusan Papa. Tanpa mengurangi rasa hormat, Syam izin pulang. Aku akan mencari tahu sendiri kenapa papa begitu tertarik dengan gadis itu" Kata Syam kemudian beranjak dari duduknya. Ntah kenapa pikiran buruk tentang gadis itu mulai bermunculan. Sebenarnya siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan Papa. Pertanyaan itu terus bermunculan dikepalanya. Namun jawabannya tetap sama. Entah darimana pikiran buruk tentang Kirana selalu muncul yang membuat Syam sekarang terlihat begitu kesal dan murka.


"Bawa aku ke gadis itu" Kata Syam pada Leon saat sudah masuk di mobilnya. Dia bahkan mengabaikan panggilan Alya karena sedang menahan emosinya.


"Seberapa jauh kau menjadi wanita penggoda, Huh? Bahkan Papaku sendiri kau goda" Batin Syam dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah.


Leon yang melihat Tuannya sedang marah hanya bisa diam dan berdoa agar semuanya baik-baik saja. Sehingga dia tidak perlu menambah daftar pekerjaannya hari ini.


Sesampai dirumahnya, Syam langsung turun dengan membanting pintu mobil.


"Dimana gadis itu?" Tanya Syam pada salah satu pelayan. Pelayan langsung menjelaskan jika Kirana sedang ditaman belakang. Tanpa pikir panjang Syam langsung ke Taman belakang. Dan benar saja, Kirana sedang duduk disana bersama Luna dengan beberapa buku di depannya.


Syam langsung mencekal tangan Kirana dan menariknya.


"Hey, apa-apa an kau ini" Teriak Kirana sambil meringis dan terus memberontak berusaha melepaskan tangannya. Syam yang saat itu dikuasai amarah, tanpa pikir panjang langsung menggendong Kirana. Kirana pun hanya bisa pasrah karena dia rasa akan percuma juga.


Luna yang melihat amarah diwajah tuannya hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan rasa khawatir.


"Semoga nona baik-baik saja" Batin Luna sambil merapikan buku-buku Kirana yang berantakan akibat adegan tadi.


"Lepaskan aku" Teriak Kirana terus-terusan, hingga mereka sampai di kamarnya. Syam langsung menghempaskan tubuh Kirana di ranjang dan menindihnya.

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan?" Kata Kirana dengan wajah yang sudah memucat.


-Bersambung-


__ADS_2