Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif
Kejutan yang Gagal


__ADS_3

"Happy birthday to you"🎶


Suara merdu Alya dan Surya mulai mengalun indah memenuhi ruang makan.


Syam yang baru saja bangun untuk menikmati makan malam begitu kaget melihat kondisi ruang makan yang penuh balon saat itu.


"Aku bukan anak SD lagi" Kata Syam sambil menatap kesal kedua orang kesayangannya itu.


"Kamu memang besar. Tapi di mata Papa kau masih anak bayi. Cepatlah menikah dan buatkan aku anak bayi maka aku tidak akan menganggapmu anak bayi lagi" kata Surya.


"Terserahlah, aku sangat lapar" kata Syam kemudian berlalu begitu saja ke meja makan melewati balon-balon yang berserakan.


"Hey, Kak Syam sialan. Tiup dulu lilin ini baru kau boleh makan. Aku saja dari tadi menahan diri untuk memakan kue ini" Kata Alya yang membuat Surya hanya menggeleng.


"Kau makan saja kuenya" Kata Syam yang membuat Alya semakin kesal.


"Tidak menghargai sekali" ucap Alya yang membuat Syam langsung bangun dan meniup semu lilin itu habis.


"Terima kasih ya" Kata Syam kemudian mencium kening Alya.


"Terima kasih juga Pa" ucap Syam yang dibalas senyuman oleh Surya.


Surya begitu terharu melihat perubahan sikap Syam. Dari dulu dia memang tidak suka merayakan hari ulang tahunnya. Entah kenapa, hanya dia yang mengetahuinya. Jika merayakan ulang tahunnya, dia akan bersikap acuh seperti itu. Tapi Alya dan Surya tetap berusaha merayakan ulang tahun Syam. Berharap dia akan berubah nantinya. Dan benar saja, hari ini Syam berubah menjadi sedikit lembut. Surya yakin bahwa ini pasti dikarenakan kehadiran Kirana di hidup Syam lagi.


"Jadi sekarang ayo makan. Kau makanlah kue itu, aku yakin bayimu pasti sedang meronta-ronta disana" kata Syam yang membuat Kirana tersenyum miris dan mengangguk.


Merekapun makan dalam diam.

__ADS_1


Disisi lain, Kirana terlihat duduk di sofa bersama Luna. Dia terus memandang ke arah pintu berharap Syam pulang namun tidak kunjung datang. Dia bahkan melupakan makan siang dan makam malam hanya untuk menyiapkan kejutan untuk Syam.


"Nona makan lah dulu, Tuan pasti khawatir nanti jika tahu nona belum makan sejak siang tadi" Kata Luna. Kirana menggeleng sambil memegang perutnya.


"Aku tidak lapar kak" Kata Kirana.sambil tersenyum namun Luna sangat tahu bahwa itu senyum yang dipaksakan.


Luna menghembuskan nafasnya berat kemudian pergi untuk menelpon seseorang.


"Hallo" Ucap Luna saat panggilan telpon tersambung.


"Iya?" Kata Leon.


"Kau dan Tuan Syam dimana?" Tanya Luna.


"Kami sedang dirumah Pak Surya" Kata Leon yang membuat Luna mendengus kesal.


"Baiklah, aku akan menyampaikannya pada Tuan muda sekarang. Kau urus lah Nona, Bujuk dia makan. Kalau tidak tuan muda akan marah besar padamu" Kata Leon dan sambungan telponpun terputus.


Luna memasukkan lagi Hp nya ke saku celananya dan kembali ke ruang tamu untuk membujuk Kirana makan.


Namun saat sampai disana. Dia melihat Kirana tengah tertidur pulas di sofa dengan beralaskan bantal sofa.


"Astaga, nona kan belum makan. Tapi aku juga tidak enak membangunkannya" Kata Luna.


Dia memilih duduk di sofa lainnya sambil menunggu Kirana bangun atau Syam yang pulang. Dia bahkan sudah menyiapkan dirinya untuk menerima kemarahan Syam nantinya.


Beberapa menit dan jam berlalu. Hingga Luna juga merasa mulai mengantuk. Namun dia menahannya sekuat tenaga rasa kantuknya karena dia takut kemarahan tuannya akan double jika menemukan dia juga tertidur.

__ADS_1


Suara mobil datang membuatnya langsung tersenyum dan kehilangan kantuknya. Dia bangun saat melihat suara langkah kaki bergerak semakin dekat.


"Kucing nakalku" kata Syam sesaat setelah membuka pintu rumahnya. Dia melihat Kirana tengah tertidur di sofa bersama kue lengkap dengan lilin-lilinnya di meja dan beberapa balon yang sudah beterbangan kemana-mana. Tanpa aba-aba dia langsung bergerak cepat mendekati Kirana dan menggendongnya ke lantai atas menuju kamarnya tanpa sepatah katapun.


"Bersiaplah kau" Kata Leon yang membuat Luna langsung tertunduk sedih.


Syam langsung membaringkan Kirana di tempat tidur secara perlahan. Dia mengelap beberapa keringat di dahi Kirana sambil menatap wajah Kirana sendu.


"Kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini" kata Syam sambil melihat bibir Kirana yang memucat. Entah mengapa, dia merasa begitu bersalah sekarang. Bahkan dia terus menyalahkan dirinya sendiri sekarang. Hingga dia tiba-tiba merasakan pipinya basah.


Dia menangis. Dia terdiam sesaat kemudian menatap Kirana lagi.


"Kenapa aku begitu cengeng saat menghadapimu" kata Syam sambil mengelus rambut Kirana.


Kirana hanya terdiam sambil menutup matanya. Sebenarnya dia sudah bangun sejak Syam menggendongnya. Namun dia berpura-pura tertidur lagi karena memang dia sangat lelah dan berniat mengerjai Syam. Dia merasa bersalah saat mendengar perkataan Syam tadi.


"Aku belum buka sepatu" Batin Syam kemudian berniat beranjak pergi namun tangannya langsung dipegang Kirana.


"Hey, kau sudah bangun" Tanya Syam sambil memegang tangan Kirana yang memegang tangannya tadi, kemudian mengelusnya lembut. Kirana mengangguk dan tersenyum.


"Happy birthday kak Syam" Kata Kirana yang membuat Syam tersenyum lembut.


"Iya sayang, terima kasih" Kata Syam kemudian mengecup tangan Kirana lembut.


"Hmmm, tapi aku sedih karena kejutanku gagal" Kata Kirana yang membuat Syam tertunduk karena merasa bersalah.


"Maafkan aku" ucap Syam. Kirana tersenyum kemudian menggenggam tangan Syam lembut.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2