
Sesampainya di rumah papanya, Syam langsung disambut oleh papanya yang sedang duduk di depan rumah nya.
"Kau lama sekali" Kata Surya kemudian melipat koran yang sedang dibacanya.
"Papa ngapain nyuruh aku kesini?" Tanya Syam langsung.
"Kau ini, masuk dulu. Nanti kita bicarakan itu. Kamu tidak kangen apa dengan Papamu ini" Kata Surya sambil memegang bahu Syam dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Syam langsung duduk di sofa disusul Surya. Dia menunggu Papanya menjawab pertanyaan nya tadi. Namun Surya hanya diam saja sambil menatap Syam dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Papa ngapain memanggil aku kesini?" Tanya Syam lagi.
"Aku hanya merindukan anakku. Sebentar lagi Alya akan menikah, aku akan sendiri disini. Kau kapan menikah dan bawa istrimu kesini" Kata Surya yang membuat raut wajah Syam langsung berubah karena mengingat sesuatu. Dia diam sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Papanya.
"Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk melamar orang yang aku suka Pa" ucap Syam.
"Siapa wanita yang kau suka? apakah Kirana?" Tanya Surya dengan wajah penasaran. Syam mengangguk mantap yang membuat senyum Surya langsung mengembang.
"Ternyata rencanaku berhasil" Batin Surya.
"Oya, apa Kirana mengatakan sesuatu padamu? aku dengar dia pergi ke Panti asuhan nya dulu" Kata Surya yang membuat Syam mengerutkan dahinya bingung.
__ADS_1
"Papa darimana tahu Kirana pergi ke Panti asuhan?" Tanya Syam. Surya tersenyum kemudian menjawab.
"Tentu aku tahu, mata-mata ku dimana-mana, kau lupa Papamu ini siapa? lagipula, panti asuhan itu kan salah satu Panti yang sering Papa kunjungi dulu" kata Surya. Dia memang sengaja mengungkit masa lalu, agar Syam sedikitnya bisa mengingat masa kecilnya.
"Owh, pantes saja aku merasa tidak asing dengan Panti itu, tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali pernah mengunjungi Panti itu?" ucap Syam yang membuat Surya tersenyum.
"Jika kau begitu penasaran, kenapa kau tidak cari tahu sendiri" Kata Surya.
"Baiklah" Kata Syam. Surya tersenyum kemudian berlalu pergi meninggalkan Syam untuk mengambil sesuatu di laci meja kerjanya.
Beberapa menit berlalu, Surya kembali dengan sebuah kotak kecil di tangannya dan memberikannya pada Syam.
"Apa ini?" Tanya Syam.
"Terima kasih, aku bahkan lupa kalau hari ini ulang tahunku. Aku akan buka dirumah. Aku pulang dulu" Kata Syam yang membuat Surya mendengus kesal.
"Kau baru saja sampai, temani aku makan malam dulu, ini juga sudah sore, kau mandilah dulu di kamarmu" Kata Surya.
"Tidak perlu, Aku mandi dirumah saja nanti" Kata Syam.
"Benar-benar anak durhaka. Datang sekali setahun. Datangpun hanya numpang kentut saja" Kata Surya.
__ADS_1
"Ya sudah, aku makan malam disini" Kata Syam. Surya tersenyum bahagia karena rencananya akan berhasil.
"Kirana juga sedang pergi jalan-jalan. Untuk apa aku pulang cepat" Batin Syam kemudian beranjak menuju kamarnya yang dulu untuk mandi dan berganti baju.
***
Disisi lain, Kirana tengah sibuk menyiapkan kue ulang tahun yang telah dibeli Luna untuknya. Dia juga sedang meniup beberapa balon untuk kejutan nanti malam.
Dia terlihat kesulitan meniup balon satu persatu dengan mulutnya.
"Nona, kenapa tidak meniup dengan menggunakan pompa saja" Kata Luna karena sudah kehabisan nafas meniup balon itu.
"Memang ada pompa?" Tanya Kirana. Karena seingatnya dia lupa meminta Luna membelikan pompa juga.
"Ada nona, tadi saya juga membelinya karena berpikir dirumah tidak ada pompa untuk balon ini" Kata Luna yang membuat Kirana menepuk jidatnya frustasi.
"Kenapa kak Luna tidak bilang dari tadi. Jadi kita tidak perlu capek-capek menghabiskan tenaga untuk balon sialan ini" Kata Kirana kemudian melempar balon itu sembarang. Luna hanya nyengir dan meminta maaf.
"Ya sudah, Kirana minta tolong ambilkan pompanya ya kak" Pinta Kirana.
"Siap nona" Kata Luna kemudian berlari menuju mobil untuk mengambil pompa itu.
__ADS_1
"Kak Luna, Kak Luna. Belum Tua sudah pikun" Kata Kirana sambil menggeleng tidak karuan.
-Bersambung-