
Pagi ini Kirana terlihat sudah rapi dengan baju sekolahnya. Merapikan rambutnya yang dibantu oleh Luna.
"Nona, anda ingin menguncir rambut anda atau dibiarkan tergerai?" Tanyanya sambil terus menyisiri Kirana. Mereka seperti kakak dan adik yang sedang bermain sisir-sisiran. Kirana sengaja menyuruh Luna menyisirinya karena dia sedang merindukan Mamanya. Mamanya sering melakukan ini padanya ketika dia malas menyisir rambutnya.
"Menurut kak Luna aku lebih cantik bagaimana?" Tanya Kirana sambil tersenyum. Luna pun mengatakan jika Kirana akan lebih cantik dengan menggerai rambutnya, sedikit polesan lipstik di bibirnya dan pita di rambutnya.
"Baiklah, kak Luna bantuin biar aku terllihat cantik seperti itu ya" Kata Kirana yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna. Kirana terlihat begitu antusias ke sekolah hari ini. Sudah cukup lama dia tidak pernah ke sekolah. Kira-kira bagaimana tanggapan teman-temannya. Dia terus memikirkan itu semalaman. Apakah guru-gurunya menerimanya bersekolah kembali atau tidak. lagi-lagi pertanyaan itu berputar-putar dikepalanya.
"Huh, aku pasti bisa" Teriak Kirana tiba-tiba yang membuat Luna yang sedang meletakkan pita dikepalanya terlonjak kaget.
"Astaga nona, bikin kaget saja" Kata Luna sambil memegang dada setelah berhasil memasangkan pita di rambut Kirana. Kirana hanya tersenyum dan mengatakan maaf.
"Sekarang lipstik ya nona" Kata Luna yang dibalas anggukan oleh Kirana. Luna menggunakan lipstik berwarna pink. Sangat cocok dengan kulit Kirana yang putih ayu.
"Selesai" Kata Luna kemudian menatap hasil karyanya dengan cukup takjub. Karena ini pertama kalinya dia melakukan semua ini pada orang lain.
"Wah, aku cantik sekali. Hehe. Kak Luna memang hebat. Terima kasih kak" Kata Kirana kemudian memeluk Luna. Luna terilihat mengusap matanya. Karena dia merasa terharu diperlakukan seperti itu oleh Kirana.
"Sama-sama nona" Kata Luna kemudian.
"Kenapa Kak Luna menangis?" Tanya Kirana saat melihat mata Luna yang sedikit berair.
"Tidak apa-apa nona, sepertinya saya merindukan adik saya. Ya sudah, ayo kita turun nona. Tuan muda pasti sedang menunggu nona" Kata Luna.
"Ayo" Kata Kirana kemudian menggandeng tangan Luna. Sebenarnya dia penasaran kenapa Luna sampai menangis ketika mengingat adik nya. Tapi dia sangat menghargai privacy orang lain. Mungkin jika nanti dia ditakdirkan untuk tahu, Luna akan menceritakan sendiri padanya.
Sesampainya di meja makan. Terlihat Syam sedang duduk dan memperhatikannya. Syam melihat Kirana lama kemudian menyuruhnya duduk didepannya.
Mereka pun kemudian makan dalam diam. Karena memang Syam punya etika bahwa saat makan tidak boleh ada pembicaraan. Syam yang duluan menyelesaikan makananannya kemudian memperhatikan Kirana yang sedang makan.
"Hmmm, kamu menggunakan pemerah bibir?" Tanya Syam saat Kirana sudah terlihat menyelesaikan makanannya. Kirana mengangguk kemudian mengambil tasnya.
"Sebentar" Ucap Syam saat Kirana beranjak bangun dari tempatnya.
"Aku sudah telat Syam" Kata Kirana saat melihat Syam berjalan ke arahnya namun dia tetap patuh untuk diam di tempatnya.
Saat sampai di samping Kirana, syam langsung jongkok dan melihat wajah Kirana. Dia mengambil Tisyu makan kemudian mengelap bibir Kirana dan mengambil pita di rambut Kirana.
__ADS_1
"Hey, apa-apa an kau ini?" Protes Kirana.
"Jangan menggunakan ini apalagi berdandan untuk laki-laki lain. Kau hanya boleh melakukannya di depanku. Sekarang berangkatlah. Ingat janjimu dan good luck" Kata Syam kemudian mencium dahi Kirana.
"Hmmm" Kata Kirana kemudian berlalu meninggalkan Syam dengan wajah masam.
"Masih saja seenaknya. Ngapain juga dia mencium-ciumku. Modus sekali. Ishhh, aku kesal dengannya" Oceh Kirana kemudian menutup pintu mobil dengan keras.
Luna yang berada di kemudi mobil hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan Kirana.
"Kak Luna ngetawain aku?" Tanya Kirana sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Hehe, tidak nona" Kata Luna sambil terus fokus menyetir.
"Itu kak Luna ketawa. Ish, semua orang menyebalkan" Kata Kirana kemudian membuang wajahnya dan memilih melihat jalanan saja.
Luna hanya terdiam. Dia kembali fokus menyetir, dia sangat tahu jika nona nya sedang dalam keadaan mood tidak baik. Jadi sangat wajar dia bertingkah seperti itu.
Beberapa saat dia sampai di sekolahnya. Luna langsung memarkirkan mobilnya. Kirana langsung turun dari mobil yang kemudian diikuti Luna.
"Tapi ini perintah tuan muda untuk mengantar nona sampai ke kelas" Kata Luna. Kirana menghembuskan nafas nya kasar. Berusaha menahan rasa kesalnya.
"Tapi nanti teman-teman Kirana akan berpikir yang tidak-tidak kak. Kirana tidak ingin menjadi sorotan satu sekolah hanya karena ini. Jadi Kirana minta tolong. Kak Luna diam disini saja ya. Kirana janji tidak akan kabur" Kata Kirana sambil mengatupkan tangannya di depan dada. Luna tidak enak hati dan kemudian mengangguk tanda setuju.
"Yeay, terima kasih kak Luna. Kirana ujian dulu. Doain semoga lancar ya. Bye bye" Kata Kirana kemudian setengah berlari menuju gerbang sekolahnya. Luna tampak khawatir dengan keputusannya. Tapi dia juga tidak tega melihat wajah sedih Kirana.
"Hmmm, aku harus mengatakan apa pada tuan nanti" Ucap Luna kemudian masuk ke mobilnya.
Sesampainya di kelas, Kirana langsung disambut oleh Alya.
"Wah, anak kampung udah kemana saja ini. Baru sekarang keliatan" Kata Alya. Kirana hanya diam tanpa berniat menyaut kemudian duduk di bangkunya.
"Hey, kau bisu atau tuli? huh?" Teriak Alya yang membuat perhatian orang-orang beralih pada mereka berdua.
Kirana hanya diam kemudian mengeluarkan bukunya. Karena dia belum menyelesaikan belajarnya tadi malam.
"Wah, ngajak ribut loh" Kata Ayla kemudian hendak mengambil buku Kirana namun langsung dihalangi Rian.
__ADS_1
"Rian" ucap Alya kemudian bergelayut manja di lengan Rian. Rian terlihat hanya diam saja.
"Kemana saja kamu?" Tanya Rian. Kirana mendongak kemudian melihat ke arah tangan Kirana yang memegang lengan Rian.
"Aku saja tidak pernah melakukan itu padanya, cih" Ucap Kirana.
Kirana langsung beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah luar, tanpa berniat menghiraukan mereka.
"Kirana" Teriak Rian. Namun tidak dihiraukan Kirana.
"Sepertinya aku tidak perlu mengucapkan kata perpisahan padamu" batin Kirana kemudian pergi ke taman belakang. Rian mengikutinya dari belakang diikuti Alya.
Kirana langsung duduk di bangku kemudian mulai membaca bukunya. Dia sebenarnya masih syok sekarang. Tapi, dia tidak terlalu marah. Dia juga bingung kenapa bersikap seperti itu. Apa perasaannya sudah berubah. Dia malah bersyukur karena bukan dia yang mengkhianati Rian. Tapi sebaliknya.
"Kirana, aku ingin berbicara padamu" Kata Rian dengan Alya disampingnya. Tetap seperti sebelumnya memegang lengan Rian.
"Cepatlah" Kata Kirana, tanpa berniat melihat mereka lagi.
"Aku ingin kita putus" Kata Rian yang membuat Kirana langsung menutup bukunya.
"Apa karena perempuan ini?" Tanya Kirana.
"Kami sudah pacaran" Kata Alya sambil mempererat rangkulan tangannya.
"Owh, sejak kapan?" Tanya Kirana berusaha menguatkan dirinya.
"1 Minggu yang lalu" Ucap Alya. Rian hanya diam saja menatap Kirana yang hanya bertingkah biasa saja.
"Hmm, Selamat" Kata Kirana kemudian kembali membaca bukunya. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Kirana saat ini. Sebenarnya dia sedang menahan perasaan sakitnya. Dia lelah memikirkan Rian selama ini, tapi balasannya seperti ini.
"Terima kasih, ayo sayang" Kata Alya kemudian mengajak Rian pergi meninggalkan Kirana sendiri. Setelah kepergian mereka berdua. Kirana langsung meremas bukunya. Dia sudah tidak tertarik lagi pada bukunya saat ini.
"Aku tidak boleh lemah. Bukannya ini yang aku mau kan" Kata Kirana. Dia terus menguatkan dirinya, mengibas-ngibaskan tangannya agar air matanya tidak keluar. Hingga bel masuk berbunyi.
"Oke, aku bisa. aku pasti bisa. Jangan menangis please. Ayo ujian dulu Kirana. Semangat" Kata Kirana kemudian masuk ke kelasnya.
-Bersambung-
__ADS_1