Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif
Dendam yang Masih Ada


__ADS_3

Kirana mengerjap matanya beberapa kali. Dia merasa asing dengan ruangan tempatnya berada sekarang. Dia melihat sekeliling, yang dilihatnya hanya tembok berwarnaputih dengan beberapa foto keluarga yang terpajang rapi. Dia mendekati foto itu. Ada seorang laki-laki berusia sekitar 14 tahun bersama anak perempuan berusia 4 tahun sedang saling merangkul dan tersenyum bahagia.


"Ini pasti Syam dan adek nya" Kata Kirana. Dia kembali menyusuri foto-foto di kamar itu. Dia tersenyum saat melihat foto anak perempuan tadi bersama Syam sedang belepotan dengan lumpur.


"Haha, dia ternyata pernah sekonyol itu" Kata Kirana sambil menutup mulutnya.


"Sebentar, kenapa aku merasa tidak asing dengan gadis kecil ini" Kata Kirana kemudian fokus memperhatikan gadis itu.


"Aw" ringis Kirana sambil memegang kepalanya. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Sekelabat ingatan masa kecilnya muncul yang membuat kepalanya begitu sakit saat ini. Dia berusaha menahan rasa sakitnya sambil berusaha meraih apapun di sekitarnya. Meremasnya keras kepalanya seiring dengan munculnya wanita di foto tersebut yang sedang tertawa bahagia di dalam ingatannya.


"Aaaaa" Teriak Kirana sambil meremas kepalanya.


Beruntung saat itu Syam sudah kembali dari meeting. Mendengar teriakan Kirana dia langsung berlari menghampirinya.


"Hey, kamu kenapa?" Tanya Syam yang sudah terlihat khawatir.


Kirana tetap diam, dia sedang berperang dengan dirinya sendiri, meremas kepalanya sambil meringis karena sakit dikepalanya. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis dalam diam dan terus memegang kepalanya yang sakit.


"Hey, kau kenapa?" Tanya Syam, namun tetap saja tidak ada balasan. Kirana hanya meringis sambil menangis. Hingga tiba-tiba dia tidak sadarkan diri.


"Cepat panggil dokter" teriak Syam kemudian membopong Kirana ke kasur. Dia merebahkan Kirana disana. Mengusap pipinya sambil mengatakan kata bangun beberapa kali.


"Hey, bangunlah, jangan menyiksaku seperti ini" kata Syam sambil menepuk-nepuk pipi Kirana pelan.


Dia bisa melihat wajah Kirana yang begitu sembab dan pucat saat ini.


"Leeeon, dimana dokternya, suruh dia cepat, kalau 5 menit lagi dia tidak disini. Pecat dia" Kata Syam sambil menggenggam tangan Kirana.

__ADS_1


"Kak, kakak, jangan tinggalkan aku" Kata Kirana dengan air mata yang menetes dari sela-sela matanya yang masih terlelap.


"Sebenarnya siapa kakak yang kau maksud hingga membuatmu seperti ini. Bangunlah Na, Aku tidak tahan melihatmu seperti ini" Kata Syam sambil mencium tangan Kirana yang ada di genggamannya.


Leon yang sedari tadi melihat Tuannya hanya bisa takjub. Ini pertama kalinya dia melihat Syam mencium tangan seorang wanita.


"Apa tuan sudah jatuh cinta pada gadis itu?" Pikir Leon. Namun dia mencoba menolak pikiran itu. Karena tidak mungkin sekali tuannya mencintai seorang wanita. Karena dia dulu sering mengatakan bahwa dia membenci wanita dan akan menyakitinya tanpa ampun jika dia mengganggu hidupnya kecuali keluarganya.


"Tapi seperti tuan muda sudah berubah" pikirnya lagi. Pikirannya terus berperang antara "iya" dan "tidak" hingga Gladis datang lengkap dengan alat-alat pemeriksaannya.


"Siapa yang sakit?" Tanya Gladis saat sudah sampai di depan pintu.


"Hey, kau lama sekali" Kata Syam.


"Hey, memang kau pikir rumah sakitku di kantormu ini. Kamu juga kenapa tidak membawa gadismu ini ke rumah sakit saja. Merepotkan sekali" Kata Gladis dengan wajah kesal. Dia naik kesini tadi sambil berlari, karena dia pikir sesuatu buruk terjadi pada Syam. Namun, apa balasannya sekarang. Dia sangat kesal. Ingin sekali dia pergi, namun dia masih punya belas kasih.


"Kurang ajar" Kata Syam. Leon hanya menggeleng melihat tingkah mereka. Dia sudah terbiasa melihat mereka bertingkah kekanakan seperti ini. Jadi dia biarkan saja.


"Diamlah dan keluarlah, kau mau aku periksa gadis ini kan, kalau kau masih disini dan ribut aku akan pulang sekaranv" Kata Gladis yang membuat Syam langsung mundur kemudian mendekati Leon dan mengajaknya keluar meninggalkan ruangan membiarkan Gladis menyelesaikan pekerjaannya.


"Kenapa kamu memanggil nenek sihir itu?" Tanya Syam pada Leon. Karena Syam sebenarnya tidak ingin Gladis terlalu ikut campur pada hubungannya dengan Kirana. Gladis sangat dekat dengan papanya. Dan sampai sekarang dia belum tahu hubungan papa nya dengan Kirana sebenarnya. Dia takut Gladis akan menceritakan semua yang terjadi pada papanya. Karena ini yang kedua kalinya Kirana jatuh sakit saat berada di dekatnya.


"Maafkan saya tuan, tadi saya juga panik melihat nona pingsan dan hanya nona Gladis yang saya ingat sebagai dokter terdekat dari sini" Kata Leon yang membuat Syam mengangguk mengerti.


"Iya sudah, tidak apa-apa. Terima kasih" Kata Syam kemudian duduk di sofa sambil melihat kearah pintu kamar tempat Kirana sedang diperiksa.


Beberapa menit berlalu, Gladis terlihat keluar dari kamar itu. Syam langsung mendekatinya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Syam.


"Tenang saja, dia sudah baik-baik saja. Tapi aku sarankan kamu bawa dia ke dokter. Sepertinya dia perlu pemeriksaan lebih lanjut" Kata Gladis yang membuat wajah Syam terlihat merasa bersalah.


"Tenang saja, ini bukan salahmu. Yang aku lihat dia punya trauma masa lalu yang mendalam. Karena dari tadi dia mengigau dan terus menangis" Kata Gladis, dan dibalas anggukan oleh Syam.


"Terima kasih, pulanglah, nanti Leon yang akan mengantarmu" Kata Syam kemudian masuk ke kamar dimana Kirana sedang terbaring lemah.


"Sepertinya dia sudah punya hati" Kata Gladis kemudian mengikuti Leon yang sudah berjalan untuk mengantarnya pulang


***


"Bagaimana? apa yang kau dapatkan?" Tanya Lora pada anak buahnya.


"Gadis itu bersama tuan Syam nyonya. Dia sekarang tinggal dikediaman tuan muda" Kata anak buahnya.


"Haha, sepertinya, Syam sedang menyiksanya disana. Syukurlah, aku jadi tidak perlu mengotori tanganku karena wanita itu" Kata Lora.


Dia beberapa hari ini mengirim anak buahnya untuk memantau Kirana. Dia merasa dendamnya pada Sofi belum terbalaskan. Andre suaminya memang sudah tidak pernah bertemu dengan Sofi kembali. Namun, perasaan cemburunya melihat suaminya berpaling pada wanita lain masih membara. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menyakiti Sofi sesakit-sakitnya melalui anak kesayangannya itu, yaitu Kirana.


"Tapi, tetap awasi gadis itu dan laporkan perkembangannya padaku" Kata Lora.


"Siap nyonya" Kata anak buahnya kemudian berlalu pergi dari sana.


Disisi lain, Gladis yang baru pulang kerja berhenti di belakang pintu rumahnya karena mendengar percakapan mamanya. Dia mendengar nama Kirana disebut-sebut oleh mamanya. Dan apa itu, dia mendengar Kirana disiksa oleh Syam dan mamanya pun ingin menyiksa Kirana. Hal itu pun membuat rasa penasarannya pada Kirana semakin besar.


"Siapa sebenarnya gadis itu?" Tanya Gladis pada dirinya sendiri.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2