
Kirana tertawa kencang saat sudah sampai di depan kelasnya. Dia begitu bahagia setelah berhasil mengerjai Syam hari ini.
"Haha, wajahnya begitu lucu tadi. Lihatlah, tanganku sampai tidak bergetar lagi karenanya, haha" kata Kirana sambil memegang perutnya dan tidak berhenti tertawa. Sedangkan teman-temannya terlihat membicarakannya karena berpikir dia gila, tapi dia tidak memperdulikannya. Itulah Kirana, dari dulu sampai hari kelulusannya dia tidak mempunyai teman karena sikap masa bodohnya itu.
Disisi lain, Rian terlihat tengah memperhatikan Kirana dari kejauhan. Dia ikut tersenyum melihat Kirana yang terlihat begitu bahagia.
"Aku tidak pernah melihatmu sebahagia itu sebelumnya" ucap Rian.
Alya yang ada disampingnya hanya bisa mendengus kesal melihat Rian memandang Kirana seperti itu karena mereka sudah membuat perjanjian untuk tidak saling ikut campur pada urusan masing-masing walaupun pernikahan mereka akan segera dilaksanakan setelah kelulusan nanti.
"Sampai kapan kau memandang dia seperti itu?" ucap Alya karena memang benar-benar kesal melihat tingkah Rian.
"Bukan urusanmu" Ucap Rian kemudian berlalu pergi meninggalkan Alya. Tanpa disuruh pun Alya akan selalu mengikuti kemanapun Rian pergi.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Tanya Alya.
"Sampai kamu menghilang dari dunia ini Alya, jangan ikuti aku. Aku ingin ke kamar mandi" Ucap Rian yang membuat Alya langsung terdiam. Dia menatap kepergian Rian dengan tatapan sendu. Hingga tanpa sadar air matanya menetes dan dia pun langsung menghapusnya.
"Kenapa kau begitu membenciku?" Ucap Alya saat Rian sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi.
***
Beberapa jam menunggu, akhirnya pengumuman kelulusan pun tiba. Kirana begitu antusias hingga dia setengah berlari menuju mading tempat akan ditempel pengumuman kelulusan.
"Semoga aku lulus" Batin Kirana sambil berusaha melewati kerumunan siswa yang juga sedang melihat hasil kelulusannya. Dia berusaha mencapai depan mading walaupun sampai kesulitan bernafas karena dia sungguh tidak sabar untuk melihat hasilnya.
Sesampainya di depan mading, dia berusaha mencari namanya.
__ADS_1
"Baris pertama bukan, Baris kedua bukan, Baris ketiga juga bukan. Namaku mana, apa aku tidak lulus?" Ucap Kirana sambil terus berusaha mencari namanya. Hingga dia melihat namanya dibaris ke 10 dia langsung menutup mulutnya dan berlari keluar dari kerumunan.
Setelah keluar dari kerumunan itu, dia langsung berteriak dan loncat-loncat histeris.
"Yeay, aku lulus" Ucap Kirana sambil teriak-teriak tidak karuan. Namun ekspresinya langsung berubah saat melihat beberapa siswa didepannya. Dia tersenyum kecut saat melihat siswa lainnya sedang berpelukan dengan teman-temannya. Sedangkan dia hanya sendiri.
"Tidak apa Kirana, kau masih mempunyai Mama, kak Luna dan " Kalimat Kirana terhenti saat mengingat orang terakhir karena masih malu menyebut nama terakhir yaitu Syam sebagai kekasihnya. Karena sampai sekarang pun, Syam belum menyatakan perasaannya pada Kirana.
"Sudahlah, sebaiknya aku menelpon kak Luna dulu" ucap Kirana kemudian langsung mencari Hp nya dan menelpon Luna.
"Hallo Nona" Kata Luna saat panggilan telpon tersambung.
"Kak Luna coba tebak, aku lulus atau tidak?" Tanya Kirana terlihat antusias.
"Lulus" ucap Luna.
"Tahu lah nona, dari suara nona saja saya langsung tahu" ucap Luna yang membuat Kirana tanpa sadar mengangguk.
"Apa sejelas itu kak? padahal aku mau membohongi Syam dulu" ucap Kirana dengan wajah manyun.
"Iya nona, saran saya, kalau ingin berhasil, nona harus belajar dari sekarang untuk bersikap sedih" Kata Luna
"Oke Kak, aku akan belajar sedih dari sekarang. Oya, kak Luna sudah membeli pesananku kan?" Tanya Kirana.
"Sudah nona" ucap Luna yang membuat Kirana langsung tersenyum bahagia.
"Kalau begitu, kak Luna jemput aku sekarang ya. Kita harus menyiapkan semuanya sebelum Syam pulang" Kata Kirana antusias.
__ADS_1
"Nona tidak merayakan kelulusan nona dengan teman-teman nona dulu?" Tanya Luna.
"Tidak kak, aku tidak mempunyai teman disini" kata Kirana sambil tersenyum kecut.
"Maafkan saya nona, kalau begitu saya akan menjemput nona sekarang" Kata Luna yang membuat Kirana langsung mengiyakan dengan antusias.
Setelah panggilan terputus, Kirana langsung mengambil tasnya dan pergi ke gerbang depan untuk menunggu Luna disana. Namun baru beberapa langkah, dia langsung berhenti saat seseorang terdengar memanggil namanya.
Dia menoleh ke arah suara dan melihat Rian sedang berlari kearahnya.
"Ada apa?" Tanya Kirana ketus.
"Kau mau kemana, kau tidak ingin ikut merayakan kelulusan dengan teman-teman lainnya?" Tanya Rian.
"Bukan urusanmu" Kata Kirana yang membuat Rian langsung terdiam dan tersenyum miris.
"Hehe, maaf. Oya selamat ya Na" Ucap Rian sambil mengulurkan tangannya.
Kirana hanya terdiam tanpa berniat menjabat tangan Rian.
"Terima kasih. Kamu juga" Kata Kirana ketus. Rian membalas dengan senyuman walaupun dalam hatinya masih sakit karena sikap Kirana padanya. Namun dia merasa pantas mendapatkan perlakuan itu jika dibandingkan apa yang dia lakukan pada Kirana.
"Jika tidak ada lagi, aku pergi dulu" ucap Kirana kemudian berlalu pergi meninggalkan Rian.
"Maafkan aku Na. Aku sungguh menyesalinya" ucap Rian saat Kirana sudah tidak terlihat lagi.
-Bersambung-
__ADS_1