Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif
Kerinduan Sofi


__ADS_3

Sofi terlihat sedang duduk merenung di depan rumahnya. Dia memikirkan anak semata wayangnya yang mungkin sedang berjuang untuk menghadapi laki-laki arogan dan terkenal sebagai pemain wanita.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jenny. Namun Sofi masih terdiam saja. Jenny sangat tahu apa yang sedang dirasakan Sofi sekarang. Namun dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Beberapa Minggu yang lalu, mereka memberanikan diri pergi ke rumah Surya. Karena Surya menurut orang-orang memiliki perangai baik jika dibandingkan anaknya. Ntah darimana sifat Syam diturunkan. Dia sangat berbeda jauh dengan ayahnya. Walaupun memang kenyataan ayahnya masih sering bermain-main dengan wanita muda. Tapi dia memiliki sikap kasihan yang tidak dimiliki Syam.


-Flashback-


"Apa kamu yakin dengan apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Jenny.


"Sebenarnya tidak, tapi demi Kirana. Aku akan memberanikan diri" Kata Sofi dengan senyum dan tangan mengepal penuh semangat.


"Baiklah, jika terjadi apa-apa berteriaklah. Aku tunggu kau disini" Kata Jenny.


"Kau tidak ikut masuk?" Tanya Sofi terlihat kaget, karena ini bukan dari rencananya untuk masuk sendiri.


"Tidak, kau saja. Aku mana berani masuk ke tempat seperti itu. penjaganya banyak sekali. Belum lagi cowok-cowok bertubuh kekar dengan kulit hitam itu sudah melototi kita dari jauh. Kau sajalah" Kata Jenny kemudian duduk di trotoar.


"Kau yakin mau menungguku disini?" Tanya Sofi kembali, karena dia memang takut jika masuk sendiri.


"Yakin, sana masuklah cepat" Kata Jenny. Sofi pun langsung menuju pintu gerbang dan memencet bel beberapa kali hingga seorang satpam datang menghampirinya.


Dia terlihat ragu ketika ingin menyampaikan maksudnya, namun dia sudah bertekad, jadi dia harus melakukannya.


"Mencari siapa buk?" Tanya satpam itu.


"Enak saja dia memanggilku ibu-ibu. Wajahku masih muda begini" Batin Sofi dengan wajah terlihat kesal. Belum apa-apa moodnya sudah buruk karena perlakuan satpam di depannya ini.


"Saya ingin bertemu dengan pak Surya" Kata Sofi.


"Apa anda sudah membuat janji dengan Tuan" Kata satpam itu.

__ADS_1


"Belum, tapi saya sangat ingin bertemu dengannya, karena ini menyangkut nyawa anak saya" Kata Sofi dengan wajah yang mulai di buat memelas. Dia mencoba merayu satpam itu dengan berakting sedih.


"Jika anda ingin meminta sumbangan, jangan disini buk" Kata satpam itu.


"Lah, saya kesini ingin bertemu pak Surya, bukan mencari sumbangan" Kata Sofi dengan teriak karena tidak terima dengan ucapan satpam itu.


"Lah, salah ibu sendiri kenapa memasang wajah memelas seperti tadi, haha" Kata satpam itu.


"Wah cari masalah ini orang" Batin Sofi kemudian melepas sendalnya dan memukul kepala satpam itu.


"He, Cari mati kamu ha?" Kata satpam itu kemudian mengambil tongkatnya berniat membalas dendam pada Sofi. Namun belum sempat terlaksana, seseorang terlihat keluar dari rumah.


"Ada apa ini ribut-ribut" Kata Surya dengan wajah penasaran.


"Ini Tuan, ada orang gila yang ingin bertemu dengan tuan. katanya berkaitan dengan anaknya" Kata satpam itu.


Saat melihat Surya, Sofi langsung memperbaiki bajunya kemudian tersenyum ramah padanya. Surya pun membalas dengan senyuman kemudian meminta satpam itu membukakan pintu gerbang untuk Sofi.


Sofi pun patuh dan mengikuti Surya dari belakang. Namun sebelum itu dia mencari kesempatan untuk menendang kaki satpam itu kemudian berlari masuk ke dalam. Satpam itu terlihat marah dan kesal namun dia membiarkannya.


Saat di dalam rumah, Sofi langsung di persilahkan duduk di ruang tamu.


"Bik, Tolong buatkan minum untuk tamu saya" Kata Surya.


"Tidak perlu repot-repot tuan" Kata Sofi dengan senyum semanis mungkin.


"Sudah, tidak perlu sungkan. Oya, ada apa kamu ingin bertemu dengan saya?" Kata Surya yang membuat Sofi kembali teringat pada Kirana. Dia mulai sedih dan menundukkan kepalanya.


"Hmmm, jadi begini tuan. Beberapa Hari yang lalu, anak saya Kirana tiba-tiba menghilang. Saya mencarinya kemana-mana. Hingga seseorang datang ke rumah saya. Namanya kalau tidak salah Layen. Katanya dia asisten anak tuan" Kata Sofi.

__ADS_1


"Leon?" Tanya Surya memastikan.


"Owh iya itu maksudnya. Dan dia mengatakan pada saya bahwa Kirana sedang bersama anak tian dan meminta saya untuk tidak mencari nya. Tapi saya sangat menyayangi anak saya" Kata Sofi dengan wajah sedih.


Surya terdiam sebentar kemudian tersenyum dalam hati. Rencananya ternyata berjalan lancar. Namun dia tidak pernah berharap anaknya melakukan hal sekejam itu. Memaksakan kehendaknya pada gadis kecil yang baru SMA, apalagi sampai memisahkannya dengan keluarganya. Walaupun dia sendiri tahu bahwa yang di depannya sekarang bukan ibu kandung dari Kirana.


"Saya mewakili anak saya ingin memohon maaf atas kejadian yang menimpa kamu. Tapi sepertinya saya tidak bisa membantu banyak, karena anak saya sangat keras kepala. Dia paling tidak suka diganggu apalagi jika berhubungan dengan miliknya. Terutama sepertinya anak saya menyukai anak ibu. Jadi ini akan sangat sulit untuk membawa anak ibu kembali ke rumah ibu. Tapi saya bisa pastikan anak ibu akan baik-baik saja bersama Syam" Kata Surya dengan lemah lembut. Sofi terlihat begitu kecewa dengan jawaban yang dia dapat. Tapi dia berusaha setegar mungkin. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang kaya ini.


"Apa anda benar-benar tidak bisa membantu saya?" Tanya Sofi dengan wajah sedih dan hampir meneteskan air mata yang sudah dia tahan sekuat tenaga.


"Saya minta maaf" Kata Surya, yang membuat Sofi langsung bangkit dari duduknya.


"Oke, kalau begitu saya harus menggunakan cara lain. Saya akan menelpon polisi dan melaporkan hal ini sebagai upaya penculikan" Kata Sofi. Sebenarnya dia hanya menggertak, dia juga sangat takut untuk melapor polisi dan berurusan dengan keluarga yang terkenal kejam ini.


"Hahaha, saya pikir kamu lebih tahu akibat yang akan kamu dapatkan jika berurusan dengan Syam. Aku saja sebagai ayahnya berpikir 100 kali untuk mengurusi urusannya. Tapi jika melihat dari tekadmu itu, aku akan mencoba membantumu membicarakan ini pada anak saya Syam" Kata Surya sambil tersenyum melihat Sofi.


"Apa anda serius tuan?" Tanya Sofi dengan mata berbinar.


"Tentu" Kata Surya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sofi.


"Terima kasih banyak tuan" Kata Sofi sambil membungkuk yang dibalas anggukan oleh Surya. Surya tidak menyangka jika Sofi begitu menyayangi Kirana. Tapi dia juga bersyukur karena Kirana mendapatkan ibu yang tepat.


"Minumlah, aku lihat kamu keringat dingin tadi. Haha" Kata Surya yang membuat pipi Sofi bersemu merah menahan malu.


Flashback off


"Aku merindukan Kirana" Kata Sofi dengan air mata menetes membasahi pipinya.


"Aku juga. Oya, apa kamu sudah dihubungi oleh Surya? bukannya dia bilang akan membantumu" Tanya Jenny. Sofi hanya menggeleng kemudian menatap kosong ke gerbang rumahnya. Tempat dimana Kirana akan selalu tersenyum menyapanya saat pulang sekolah.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2