
Hari ini Annisa belanja banyak tapi dia belanja di pasar lain. Annisa tidak mau jika dia berpapasan dengan Abizar. Dia takut menyakiti hati suaminya. Jadi Annisa berpura-pura tidak mengetahui pekerjaan Abizar. Dia akan menunggu Abizar sendiri yang bercerita.
Annisa mulai jualan sekitar pukul sepuluh pagi. Pada siang hari jualannya bertambah ramai karena bertepatan dengan jam pulang sekolah. Kemudian dia tutup jualan pukul dua siang. Hari ini sangat melelahkan bagi Annisa.
"MasyaAllah, capeknya." Annisa mengusap peluhnya dengan lengan. Dia benar-benar sibuk karena setelah berjualan dia harus menyiapkan pesanan untuk nanti malam.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. "Assalamualaikum."
"Mas Abi, kok tumben jam segini sudah pulang?" tanya Annisa.
"Mas sengaja pulang cepat untuk membantu kamu," jawab Abizar. Annisa merasa terharu dia jadi berkaca-kaca.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Abizar.
"Mas Abi nggak makan dulu?" tanya Annisa. Sesaat kemudian dia menepuk jidatnya. "Maaf, Mas. Aku sampai nggak sempat masak," ucapnya sedikit menyesal.
"Nggak apa-apa. Mas sudah makan tadi beli di luar," jawab Abi berbohong.
"Kalau begitu tolong kupaskan buah ini. Apa Mas Abi bisa?" tanya Annisa. Abi mengangguk.
Sayangnya baru memegang pisau lalu mencoba mengupas buah nanas tangannya sudah terluka. "Aw." Abizar meringis kesakitan.
Annisa cepat-cepat membersihkan luka Abizar. "Mas aku ambil plester dulu ya."
"Maaf ya aku malah mengganggu pekerjaan kamu."
"Tidak, Mas. Tidak apa-apa. Nanti Mas Abi bantu menata dalam cup yang sudah aku sediakan saja." Abizar mengangguk setuju.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul lima sore semua bahan yang akan dibawa ke tempat pemesan sudah siap. "Apa kita antar sekarang?" tanya Abizar.
"Iya, Mas. Sebaiknya begitu. Soalnya acaranya habis maghrib."
"Biar aku saja yang bawa." Abizar menawarkan diri. Keduanya membawa barang-barang pesanan pembeli itu sambil berjalan beriringan.
"Wah Mbak Annisa sama suaminya mesra banget," tegur Bu Siti.
Annisa berhenti sejenak lalu tersenyum pada Bu Siti. "Selamat sore, Bu. Kami mau mengantar pesanan Bu Inggrid," jawab Annisa.
__ADS_1
"Wah, alhamdulilah ya Mbak. Semoga jualannya selalu laris."
"Kalau begitu kami permisi," pamit Annisa dengan sopan.
"Kamu sudah akrab ya sama tetangga di sekitar sini?" tanya Abi.
"Iya, Mas. Sejak aku membagikan makanan waktu itu. Mereka juga baik padaku," jawab Annisa.
Setelah mendapatkan uang dari Bu Inggrid, Annisa dan Abi langsung pulang. "Mas, nanti kita sholat berjamaah lagi kan?" tanya Annisa. Dia berharap Abi mau menjadi imam sholatnya setiap hari.
Abi mengusap kepala Annisa. "Tentu saja." Begini saja sudah membuat hati Annisa senang. Walau sebenarnya dia berharap lebih pada suaminya.
Usai sholat maghrib, Abizar mengajak istrinya keluar. "Kita mau ke mana, Mas?" tanya Annisa.
"Sekali-kali makan di luar. Bagaimana apa kamu mau? Kita cari tempat makan yang nggak jauh dari sini," usul Abizar pada istrinya. Annisa mengangguk setuju. Dia cenderung senang karena ini pertama kalinya mereka jalan berdua.
"Bagaimana kalau kita beli bakso di depan itu?" tunjuk Abi pada sebuah tenda yang menjual bakso dan mi ayam.
"Boleh," jawab Annisa.
"Pak, baksonya dua mangkok ya." Abi memesan bakso pada penjual.
Abizar mengajak istrinya duduk. "Kamu tahu tidak, aku tidak menyangka kalau hidupku akan mengalami masa seberat ini. Aku pikir selamanya aku akan bisa menikmati fasilitas mewah. Tapi Tuhan Maha membolak-balikkan keadaan. Ayahku mengusirku secara terang-terangan." Annisa bisa melihat kesedihan di mata suaminya.
"Mas Abi menyesal menikah denganku?" tanya Annisa. Jujur dia tidak siap jika jawaban suaminya itu akan menyakitkan di telinganya.
Abi menggeleng. Dia memegang tangan Annisa. "Aku sangat bersyukur menikah dengan kamu Annisa. Dari awal pernikahan, kamu selau sabar menjalani hidup denganku. Aku tidak pernah mendengar kamu mengeluh. Kamu juga membuat aku bersemangat mencari pekerjaan. Terima kasih. Hanya itu yang bisa aku berikan." Abizar menunduk malu.
Annisa mengangkat tangannya kemudian menumpuk tangannya di atas tangan Abizar. "Mas aku akan selalu ada buat kamu." Abizar tersenyum penuh haru.
"Ehem." Penjual bakso yang sedang memegang dua buah mangkok itu berdehem untuk menyela pembicaraan Annisa dan Abi.
"Baksonya Den."
"Makasih, Pak."
Keduanya pun menikmati semangkuk bakso yang masih panas itu. Sederhana dan penuh kebahagiaan. Kehidupan Abi yang sekarang sangatlah berbeda dengan yang dulu.
__ADS_1
Dulu setiap malam dia habiskan untuk mabuk dan bermain perempuan di klub malam. Tapi kini walau hanya berada di sebuah tenda bakso, Abi merasa lebih bahagia dari sebelumnya.
Sesaat kemudian seseorang menyapa Abizar. "Abi," panggil Bang Anton.
Abizar jadi tersedak ketika melihat wajah Bang Anton. "Bang, Abang ngapain di sini?" tanya Abi panik. Dia takut Anton akan menceritakan soal pekerjaannya selama ini.
"Ya beli baksolah. Itu istri kamu ya?" Anton menoleh ke arah Annisa.
"Iya, ini Annisa," jawab Abizar.
"Wah, cantik banget. Kaya bidadari," puji Anton.
"Ck, jaga pandangan, Bang!" Abizar merasa cemburu.
Anton ingin bergabung tapi Abizar buru-buru mengajak Annisa pulang. "Bang, kita duluan ya," pamit Abi.
Abi menarik tangan Annisa. "Mas jalannya kenapa buru-buru?" tegur Annisa.
"Mas takut teman Mas godain kamu," ucapnya berbohong.
Sesampainya di rumah, Abi baru melepas tangannya. Mereka kaget ketika melihat orang tua Abi ada di teras rumahnya. "Papa," ucap Abi lirih.
Zidan sengaja mampir usai pulang kerja. "Kamu tidak menyuruh papa masuk?" tanya Zidan.
Abi segera membuka pintu rumah kontrakannya. "Masuk, Pa."
Annisa menyalami tangan Zidan. Setelah itu dia mendekat pada suaminya. "Mas aku ke belakang dulu buatin minum untuk papa," pamit Annisa.
"Apa kabar, Pa?" tanya Abizar berbasa-basi.
"Justru papa yang seharusnya bertanya padamu. Bagaimana rasanya menjadi miskin? Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan?" tanay Zidan.
"Apa papa ke sini hanya untuk meledekku? Bukankah papa sudah mengusirku kenapa masih menyempatkan diri datang ke sini?"
Zidan tersenyum sinis. "Papa hanya ingin tahu apa kamu masih hidup atau mati?" sarkas Zidan.
"Maaf pa kalau aku menyela. Mas Abi sudah banyak berubah. Dia suami yang bertanggung jawab, Pa. Jadi papa jangan khawatir." Annisa yang baru saja dari dapur mendengar mertuanya itu meremehkan suaminya. Jujur dia tidak terima. Sejauh ini Annisa tidak melihat keburukan yang ditunjukkan oleh suaminya.
__ADS_1
Zidan berdiri. "Baiklah, aku sudah mendapatkan jawaban. Kalian baik-baik di sini," pesan Zidan sebelum pergi.
Abizar terduduk lemas setelah bertemu ayahnya.