
Menjalani hidup seorang diri tanpa suami sangatlah sulit bagiku. Apalagi aku harus bekerja setelah melahirkan anakku yang kini usianya menginjak enam bulan.
Aku terpaksa menitipkan dia pada Bu Fatimah, ibu kandungku. Beliaulah yang selama ini merawat dan menjaga Dennis, putraku, buah cintaku bersama almarhum Mas Abizar.
Menyebut namanya saja sudah membuat dadaku terasa sesak. Apalagi kalau ingat saat-saat dia masih hidup. Rasanya senyumnya tidak pernah menghilang ketika aku memejamkan mataku.
Walaupun kami sudah beda alam, tapi aku selalu mendoakan dia. Meninggal dalam keadaan tidak sakit menjadi pertanda kalau dia memang orang baik.
Perih hati ini ketika dia meninggalkan aku di saat aku hamil besar. Padahal kurang beberapa minggu saja aku melahirkan, tapi dia dipanggil lebih dulu oleh Yang Maha Kuasa.
Tidak ada yang tahu kapan saatnya seseorang meninggal. Mereka tidak bisa memprediksi. Mereka juga tidak akan menyangka jika datangnya secara tiba-tiba. Aku hanya bisa menerima takdirku sebagai janda.
Memiliki anak yang kini perlu aku tanggung segala kebutuhannya membuatku harus bekerja di luar rumah. Untung saja orang tuaku mendukung. Aku mengajar sebagai guru les di sebuah lembaga bimbingan belajar. Selain itu aku juga mahasiswa sebuah perguruan tinggi karena aku meneruskan pendidikan ke tingkat S2.
__ADS_1
Jika dipikir aku sangat sibuk. Bahkan membagi waktu dengan anakku saja aku agak kesulitan. Menurutku waktu dua puluh empat jam sehari bagiku kurang. Jika pagi hari aku mengikuti kuliah hingga selesai, sore hari aku akan mengajar anak-anak di kelas bimbel.
Aku baru selesai pada malam hari. Itupun anakku sudah tertidur ketika aku pulang. Miris memang anakku tidak pernah merasakan kasih sayangku saat dia bangun. Aku hanya bisa menemani dia ketika dia tidur.
Terkadang di malam hari aku harus bangun karena dia lapar. Aku tidak pernah mengeluh soal itu. Walaupun capek tapi aku nikmati. Menjaga Dennis adalah caraku mencintai mendiang suamiku. Keduanya sama-sama berarti.
"Maafkan mama ya, Sayang. Mama tidak bisa menemani kamu main saat pagi hingga sore hari," gumamku ketika tengah menggendong putraku.
Usai dia tertidur kembali, aku oun ikut merebahkan diri di sampingnya. Bagiku mencium aroma tubuhnya membuatku menghilangkan rasa stressku seharian.
"Aku heran kenapa aku mencium bau minyak telon setiap kali aku dekat denganmu?" tanya salah seorang temanku. Aku memang tidak menceritakan kalau statusku adalah janda beranak satu.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Tiara.
__ADS_1
"Selamat pagi," sapa dosenku yang mengisi mata kuliah pagi ini. Aku selalu mengikuti kuliah dengan serius. Bahkan saking seriusnya nilaiku tidak pernah jeblok. Dosen-dosen banyak yang menyukaiku karena aku termasuk mahasiswa yang pandai.
Tapi ada satu dosen yang paling menyebalkan di antara semua dosen yang aku kenal. "Annisa, bisa tolong bawakan tugas-tugas teman-teman kamu yang ada di meja?" Dosen itu menyuruh begitu saja. Dia pergi setelah memberikan perintah padaku.
Aku tidak tahu maksudnya apa? Kenapa selalu menindasku begini? Itu yang selalu ada di pikiranku. Dari sekian banyak mahasiswi yang mengikuti kuliahnya, hanya aku yang selalu diperintah oleh Pak Raka.
"Tiara, maaf banget ya. Aku harus antar ini ke ruangannya Pak Raka," ucapku berpamitan dengan sahabatku.
"Aku curiga kalau Pak Raka suka sama kamu," tuduh Tiara.
"Terserah kamu aja. Tapi kalaupun tidak ada stok laki-laki lagi di dunia ini, aku tidak akan memilihnya walau terpaksa."
...***...
__ADS_1
Assalamualaikum aku lanjutin lagi ya cerita ini, semoga kalian suka