Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
End


__ADS_3

Annisa dan Raka sudah menjalani pernikahan selama lebih dari empat bulan lamanya. Annisa sudah telat seminggu karena seharusnya dia sudah datang bulan Minggu ini. Dia pun mengecek urinnya dengan alat tes kehamilan setelah bangun tidur. Annisa menunggu hasilnya setelah beberapa menit kemudian. Wajahnya terlihat sendu karena tespek itu hanya menunjukkan satu garis. Setelah itu Annisa keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya sang suami. Raka melirik ke bawah ada sesuatu yang dipegang oleh Annisa. Lalu dia mengambilnya. "Tidak apa-apa, kita masih punya kesempatan lagi untuk memiliki momongan," ucapnya untuk menenangkan sang istri. Raka memeluk Annisa dan mengusap punggungnya.


Hari ini Annisa pergi ke kafe. Rosmala, karyawan di kafe milik Annisa tak sengaja memperhatikan bentuk tubuh atasannya yang semakin berisi. "Sepertinya setelah menikah anda agak gemukan, Bu."


Annisa memegang pipinya. "Oh ya? Aku sudah lama tidak menimbang berat badanku," jawabnya.


"Apa mau saya pesankan makanan siang ini?" tanya Rosmala.


"Boleh. Tapi hari ini rasanya pengen makan yang pedas. Tolong belikan bumbu rujak. Tidak usah makan berat, aku ingin menjaga berat badanku," perintahnya pada Rere.


Setelah menyelesaikan pekerjaan Rosmala pergi ke supermarket membeli gula merah dan cabai. "Siang-siang gini makan rujak buah? Ada-ada saja Bu Annisa ini," gumam Rosmala dengan lirih. Setibanya di kafe, Rosmala membuatkan rujak buah untuk pemilik kafe tempat dia bekerja. Annisa memakan buah dan bumbu itu dengan lahap.


Ketika waktu menunjukkan pukul dua siang, Raka datang menjemput. "Mbak Ros, makasih ya rujaknya enak."


Di sepanjang perjalanan pulang, Annisa diam saja. Dia lemas karena belum makan nasi. Apalagi tadi siang dia hanya memakan buah yang tidak mengenyangkan perutnya. "Mas, kita mampir makan di restoran dulu ya. Aku sangat lapar." Raka menuruti permintaan istrinya.

__ADS_1


Sesampainya di restoran Annisa memesan banyak makanan. Dia makan sangat lahap. Raka sampai terheran-heran karena melihat istrinya makan dengan rakus. "Pelan-pelan sayang makannya." Raka mengingatkan istrinya.


Usai mencuci tangannya di toilet Annisa mengajak suaminya pulang. Sesampainya di rumah, dia dikejutkan oleh masakan Bu Rahmi yang begitu banyak terhidang di atas meja.


"Ma, apa akan ada tamu yang datang ke rumah kita?" tanya Raka yang penasaran. Mamanya tak pernah memasak sebanyak ini sebelumnya.


"Iya, akan ada tamu di rumah kita," jawab Bu Rahmi dengan kiamat ambigu. Pagi tadi asisten rumah tangganya mendapatkan alat tespek yang dibuang di tempat sampah. Ternyata alat tes kehamilan itu menunjukkan garis dua. Bu Rahmi senang melihatnya. Dia pun menyiapkan banyak makanan untuk menantunya.


Raka menunggu kedatangan tamu mamanya itu. Nyatanya tidak ada seorang pun yang datang. "Annisa ayo makan!" perintah Bu Rahmi.


Annisa yang tak tega langsung duduk di meja makan lalu memakan masakan Bu Rahmi. Raka kembali dibuat heran. Bagaimana bisa Annisa menghabiskan makanan yang sangat banyak itu. Sedangkan Bu Rahmi tersenyum senang. Mereka sangat menantikan kehadiran anggota baru di keluarga mereka.


Sesampainya di dalam kamar, Raka menanyai istrinya. "Sayang, hari ini kamu makan seperti orang yang seminggu tidak makan. Apa terjadi sesuatu denganmu?" tanya Raka curiga.


"Entahlah, rasanya sayang kalau melewatkan makanan seenak masakan mama," jawab Annisa. Meski jawabannya logis tapi Raka masih menaruh curiga. Bukankah setiap wanita selalu menjaga berat badannya, pikir Raka.


Mulai saat itu, Annisa membawa camilan dan bekal yang disiapkan oleh Bu Rahmi. Dia sangat menyukai masakan mama mertuanya itu. Bu Rahmi tentu saja senang kalau menantunya mau memakan masakan yang dia buat.

__ADS_1


Raka yang masih penasaran akhirnya menemui temannya yang bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit. "Bisa jadi sih itu tanda-tanda kehamilan. Kalau hasil tespeknya masih samar kamu bisa menyuruh istrimu mengujinya kembali. Lakukan tepat setelah bangun tidur. Kalau masih belum yakin kamu bisa datang ke sini untuk memeriksakan kondisi istrimu, apakah sedang hamil atau tidak."


"Baik aku akan coba saranmu."


Raka pun membicarakan hal tersebut pada Annisa. "Kan kemarin udah dites hasilnya negatif Mas," tolak Annisa.


"Apa salahnya tes ulang. Mungkin hasilnya samar. Atau kita periksa ke dokter saja, Annisa." Raka begitu bersemangat. Annisa pun mengangguk setuju.


Akhirnya Annisa memilih langsung periksa ke dokter kandungan sesuai saran Raka. "Sesuai dugaanku. Istri kmu hamil, Raka. Usia janinnya sudah mencapai lima minggu."


Annisa dan Raka saling pandang. Setelah itu Raka memeluk istrinya. "Dennis akan punya adik. Terima kasih Annisa."


"Aku terharu, Mas. Aku kira kita tidak akan diberi momongan secepat ini."


"Selamat untuk kalian."


...Tamat...

__ADS_1


__ADS_2