
Keesokan harinya Annisa membangunkan suaminya. "Mas, bangun! Katanya mau bekerja di perusahaan papa hari ini?" tanya Annisa.
"Lima menit lagi," jawab Abi sambil berbalik badan.
"Subuh udah mau lewat lho. Mas Abi bangun ah! Nanti sholatnya ketinggalan." Annisa menarik tangan Abizar agar dia bangun.
"Iya, iya." Abi pun akhirnya bangun walau matanya masih setengah merem.
"Aku udah siapkan air hangat. Mas Abi langsung mandi sekalian ya!" perintah Annisa seusai memberikan handuk. Abizar berjalan dengan menyeret karena matanya masih sepat.
Hanya sepuluh menit untuk Abi menyelesaikan mandinya. "Lho kok cepet?" tanya Annisa yang selesai merapikan tempat tidur.
"Memangnya butuh waktu berapa lama? Apa aku harus masuk lagi? Lagian nih cium deh udah wangi kok."
"Modus," cibir Annisa sambil menahan senyum.
"Baju sama sajadah udah aku siapkan. Aku tinggal ke belakang dulu ya. Nyiapin sarapan buat Mas," ucap Annisa memberi tahu. Abizar mengangguk paham.
Annisa berjalan keluar. Dia mengoles roti dan selai untuk suaminya. Setelah itu dia menyiapkan kopi susu. Tak lupa Annisa menyiapkan bekal berupa nasi goreng spesial pakai telur yang telah dikemas di wadah plastik.
"Sayang," panggil Abizar.
"Wah suamiku sangat tampan hari ini. Pantas dandannya lama," ledek Annisa.
Abizar mencubit pipi istrinya itu. "Gemes deh habis muji terus ngeledek. Maunya apa sih? Minta cium?" goda Abi. Annisa reflek menyodorkan pipinya. Abizar malah merasa kaget ketika Annisa merespon dengan cepat.
"Ayo! Katanya mau cium?" Annisa menunjuk pipinya yang mulus. Abizar pun memberikan satu kecupan singkat di pipi istri tercintanya.
"Wah jadi semangat keja nih kalau gini," gumam Abi. Annisa terkekeh mendengarnya.
"Dimakan Mas rotinya. Kopinya juga diminum biar nggak ngantuk pas kerja. Terus ini aku bawakan bekal tapi cuma masi goreng pakai telur, nggak apa-apa ya? Soalnya Mas Abi bilangnya mendadak jadi aku nggak persiapan bahan."
Abizar mengusap kepala istrinya. "Ini udah lengkap banget sangat. Ibarat nasi goreng itu udah pakai telur sama lalapan," jawab Abi.
__ADS_1
"Eh nanti aku tambahin lalapan ya bekalnya," kata Annisa cepat-cepat mengambil lalapan yang ada di dalam kulkas. Abizar hanya menggelengkan kepalanya.
Usai sarapan, Abi berpamitan pada istrinya. "Doain ya supaya kerjaan Mas lancar di kantor." Annisa mengangguk.
"Pasti, Mas. Oh iya aku izin ke kafe ya. Selama Mas Abi kerja aku juga ingin punya kegiatan jadi aku mau ngurusi kafe lagi," ujar wanita berhijab itu.
"Iya, boleh. Nanti berangkat sama pulangnya naik taksi saja," pesan Abi sebelum pergi. "Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam," jawab Annisa.
Ketika berada di parkiran mobil, Abizar melihat Arka sekilas. Dia menaruh curiga. "Apa dia tinggal di gedung ini juga?" gumam Abi sebelum menyalakan mobil. Tapi karena dia tak mau terlambat, Abizar segera mengendarai mobilnya menuju ke kantor.
Ting tong
Mendengar suara bel pintu yang ditekan, Annisa mengira ada barang suaminya yang ketinggalan. Annisa pun segera membukakan pintu. Tapi tak berpikir jernih. Seharusnya suaminya bisa masuk tanpa harus menekan bel pintu karena Abi tahu nomor sandi pintu masuk mereka.
Annisa terkejut ketika melihat Arka ada di depan pintu. Dia cepat-cepat menutup pintu, tapi Arka mengganjal pintu itu dengan kakinya. "Mau apa kamu?" bentak Annisa.
Sebelum menjawab Arka mendorong kuat-kuat agar pintu itu terbuka. Annisa terhuyung ke belakang. Untung saja dia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Keluar kamu! Atau aku akan berteriak," ancam Annisa.
Arka mencengkeram dagu Annisa. "Kamu pikir saja sendiri. Jam segini pasti penghuni gedung ini rata-rata sedang bekerja. Jadi meski kamu berteriak tidak akan ada orang yang mendengarkan," bantah Arka.
"Lepaskan aku! Apa maumu? Kenapa selalu menggangguku? Aku tidak akan mengatakan pada siapa pun soal rahasia yang kamu simpan." Annisa mengiba. Dia berharap Arka pergi secepatnya.
Arka melepas tangannya dari dagu Annisa. "Bagus! Aku juga ingin memastikan itu. Kalau kamu sampai bercerita pada siapa pun terutama pada suamimu, maka aku tidak segan-segan menghabisi nyawamu," ancam Arka. Sesaat kemudian dia pergi.
Annisa terduduk lemas dan menangis. Dia merasa ketakutan dengan ancaman yang diberikan oleh Arka. Kemudian Annisa bersiap-siap ke kafe. Dia tidak mau pulang sebelum suaminya pulang. "Nanti aku akan minta Mas Abi buat jemput aku saja," gumamnya sambil mengusap air matanya yang meleleh.
Annisa turun dengan hati-hati. Dia bersikap waspada kalau-kalau dia melihat Arka lagi. "Semoga aku tidak bertemu dengan psikopat itu," gumam Annisa ketika berada di dalam lift.
Setelah berhasil turun, Annisa menunggu taksi yang sempat dia pesan. "Ayo jalan, Pak!" perintah wanita itu ketika dia selesai menutup pintu.
__ADS_1
Annisa tiba di kafe miliknya setengah jam kemudian. Dia langsung menuju ke pantry. Kafe yang buka setiap jam delapan pagi itu sedang sepi pengunjung.
"Assalamualaikum," sapa Annisa pada para pegawainya.
"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Mbak Annisa lama nggak ke sini," ucap Rosmala yang rindu dengan istri pemilik kafe tempat dia bekerja.
Annisa tersenyum. "Iya, Mbak. Mas Abi nyuruh istirahat di rumah setelah saya keguguran," jawab Annisa.
"Inalillahi wainnailaihi roji'un. Kok saya baru tahu, Mbak. Saya turut prihatin ya, Mbak." Annisa mengangguk.
"Belum rejeki saya, Mbak Mala. Oh ya saya menggantikan Mas Abi karena Mas Abi diterima bekerja di kantoran," ungkap Annisa.
"Alhamdulillah. Baik kalau begitu saya balik kerja lagi, Mbak Annisa," pamit Rosmala. Wanita itu masih tetap sama, bersahaja dan bekerja keras demi menghidupi keluarganya.
Annisa memandang Rosmala sebagai wanita yang kuat. Awalnya dia merasa kasihan maka dari itu dia menawarkan pekerjaan padanya. Alhamdulillah berkat kebaikan Annisa itu, perekonomian keluarga Rosmala semakin tercukupi. Rosmala bersyukur dengan membalas kebaikan Annisa. Dia selalu rajin bekerja dan tidak pernah absen.
Sementara itu di kantor milik Zidan, Abizar sedang menghadap ayahnya. "Bagus, kamu datang pagi-pagi sekali," sindir sang ayah.
Abi tiba di perusahaan sekitar pukul setengah delapan pagi. Seharusnya dia tiba pukul tujuh kurang sebelum waktu bekerja dimulai. "Maafkan aku, Pa."
"Ingat jangan sampai ada yang tahu kalau kamu anakku. Bekerjalah dengan serius karena aku akan memperlakukan kamu sama seperti karyawan lain. Aku akan menempatkan kamu di posisi paling bawah karena kamu tidak punya pengalaman kerja. Jadi jangan protes padaku," ucap Zidan dengan dingin.
Abizar kecewa karena dia tidak mendapatkan posisi yang enak di perusahaan ayahnya sendiri. Tapi dia tidak mau menyerah dengan tantangan yang diberikan oleh papanya. Dia percaya kalau dia mampu melewati kesulitan dunia kerja.
Zidan menghubungi seseorang melalui sambungan telepon antar ruangan. "Beni masuk ke ruangan saya!" perintah Zidan pada asisten pribadinya.
Tak perlu menunggu lama, Beni masuk sesuai perintah Zidan. "Tempatkan karyawan baru ini di bagian pemasaran!" perintah Zidan pada Beni.
"Baik, Pak," jawab Beni.
Bagaimana kesan pertama Abizar saat bekerja? Apa ada tantangan atau kesulitan saat dia mulai bekerja untuk pertama kali di perusahaan orang tuanya?
__ADS_1
Ikuti terus ya ceritanya