Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Annisa menerima Raka


__ADS_3

Selama Annisa mengikuti kuliah Raka mengajak Dennis jalan-jalan di sekitar kampus. "Wah Pak Raka mendadak jadi bapak," ledek salah satu mahasiswa.


"Kenapa? belum pantas ya?" tanya Raka.


"Pantes kok Pak," jawab Mahasiswa tersebut. "Ibunya yang mana, Pak?" lanjutnya lagi.


Raka tersenyum saat Annisa berjalan mendekat ke arahnya. "Itu ibunya," tunjuk Raka dengan dagunya. Mahasiswa itu menoleh ke arah Annisa.


"Wah ibunya cantik sekali," goda mahasiswa tersebut. Raka langsung melayangkan pukulan di kepala pemuda itu.


"jangan coba-coba dekati ibunya karena calon ayah bayi ini akan marah," ucap Raka. mahasiswa tersebut tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Setelah itu Raka dan berjalan sambil menggendong Dennis menghampiri Annisa. "Apa dia rewel?" tanya Anisa. Raka menggelengkan kepalanya.


"Dia sama sekali tidak rewel," jawab Raka sambil memberikan Dennis pada Annisa.


"Kita pulang sekarang?" tanya Raka.


"Boleh tidak kita mampir ke suatu tempat?" Raka menganggukkan kepala.


Annisa mengajak Raka ke pemakaman. Raka ingat ketika dia meminta Annisa mengajaknya ke makam almarhum suami Annisa.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengajak aku ke sini?" tanya Raka pura-pura tidak ingat dengan permintaannya dulu.


"Bukankah kamu ingin meminta izin pada almarhum suamiku untuk menjadikan aku pasanganmu? Atau mungkin Mas Raka sudah tidak lagi memiliki keinginan itu? Kalau begitu kita pergi saja dari sini."


Raka langsung menggandeng tangan Annisa mendekat ke makam suaminya. Annisa mengulum senyum. "Apa di sini makamnya?" tanya Raka. Annisa mengangguk. Mereka berjongkok. Dennis juga diajak ke makam itu.


"Assalamualaikum Mas Abi, aku datang bersama Dennis dan juga Mas Raka."


"Abi, aku ingin kamu merestui kami. Karena aku akan menikahi mantan istrimu," ucap Raka di depan pusara Abizar.


"Mas, maafkan aku karena aku tidak setia padamu. Semoga kamu tidak marah." Annisa mencium Dennis kemudian dia bangun. Annisa menengadahkan wajahnya agar air matanya tidak menetes.


"Jangan menangis! Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan kamu meneteskan air mata." Annisa tersenyum pada Raka.


"Kapan Mas Raka akan meresmikan hubungan kita?" tanya Annisa.


"Apa kamu sudah tidak sabar?" tanya Raka.


Annisa menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku hanya ingin kita pacaran setelah menikah seperti apa yang aku lakukan bersama almarhum suamiku dulu."


Sementara Raka berfikir positif meski Annisa membandingkan dirinya dengan orang yang sudah mati. "Baiklah, seperti keinginanmu kita akan melanjutkan pacaran setelah menikah. Aku akan menyampaikan kabar bahagia ini pada kedua orang tuaku dulu agar mereka bersiap untuk hari pernikahan kita."

__ADS_1


Annisa mengangguk setuju. "Bolehkan acara pernikahan kita diadakan secara sederhana? Sejujurnya aku malu menikah untuk kedua kalinya apalagi jarak setelah suamiku meninggal belum terlalu lama."


Raka tersenyum. "Apa yang kamu inginkan pasti akan aku kabulkan, Annisa, calon istriku." Raka menekankan dua kata terakhir. Annisa jadi bersemu merah.


"Dennis ingin pulang. Dia sudah mulai mengantuk." Annis berjalan lebih dulu ke mobil. Sedangkan Raka tersenyum melihat tingkah Annisa yang sangat menggemaskan itu.


Raka pun menyusul dengan langkah panjangnya. Dia membuka kunci mobil setelah itu membukakan pintu untuk Annisa. "Terima kasih, Mas." Raka mengangguk.


Sepanjang jalan menuju ke rumah Annisa mereka sama sekali tidak ada pembicaraan. Raka tidak tahan lagi akhirnya dia pun memulai pembicaraan lebih dulu. "Kapan kita beli cincin?" tanya Raka.


"Mas Raka saja yang beli. Aku harus mengerjakan tugas. Setelah itu mengecek laporan kafe yang beberapa bulan ini aku abaikan karena banyaknya masalah di keluargaku.


"Soal kafe apa kamu tidak ingin berhenti mengurusnya lalu menjual pada orang lain saja. Aku lihat kamu banyak sekali kegiatan."


Annisa mengernyitkan dahi. "Mana bisa aku menjual kafe itu pada orang lain. Aku dan Mas Abi membangun kafw itu dari nol hingga memiliki banyak cabang." Annisa sedikit tersinggung dengan perkataan Raka.


"Baiklah, maafkan aku! Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya peduli sama kamu Annisa."


"Aku tahu, Mas. Tapi menjual kafe otu tidak mungkin. Bagaimana pun kafe itu memiliki kenangan saat Mas Abi masih hidup."


Raka menghela nafas. Dia menyadari rupanya cinta Annisa pada Abizar sangat besar walau jasadnya sudah terkubur di dalam tanah. 'Apakah nanti kamu akan mencintai aku sebesar cintamu pada mantan suamimu?' gumam Raka dalam hati. Dia merasa ragu.

__ADS_1


__ADS_2