Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Perpisahan


__ADS_3

"Lovely? Apa iya?" tanya Mama Safa. Memang dia kurang jelas melihat wajah wanita yang makan bersama suaminya itu.


"Ck, kamu menaruh curiga padaku? Apa aku ada tampang selingkuh?" tanya Zidan.


"Ada," jawab Mama Safa.


"Mana ada. Aku ini setia sama kamu, Ma," jawab Zidan sambil menarik pinggang istrinya itu. Mama Safa terkejut tapi dia berusaha tenang.


"Apaan sih? Malu udah jadi kakek-kakek juga," ledek Mama Safa sambil menahan tawa.


"Memangnya kenapa kalau aku berbuat seperti ini padamu? Apa kamu mau aku melampiaskan hasratku pada wanita lain di luar sana?" goda Papa Zidan.


"Awas saja kalau berani," ancam Mama Safa.


***


Sudah hampir sebulan Abizar meninggalkan Annisa. Wanita itu merasa rindu. "Katanya cuma sebentar?" protes Annisa pada suaminya yang tengah berbincang melalui sambungan telepon.


"Maaf sayang, ternyata tidak sesuai perkiraanku. Banyak masalah yang muncul jadi aku belum bisa pastikan kapan aku pulang. Kamu yang sabar ya? Oh iya, bagaimana kandungan kamu?" tanya Abizar.


"Aku masih mual muntah. Besok jadwal ke dokter jadi belum tahu dia di dalam perutku seperti apa? Doakan dia tumbuh kembang dengan baik ya Mas."


"Pasti sayang. Sudah dulu ya, kamu baik-baik di rumah. Aku mau lanjut kerja. Jangan lupa kabari hasil pemeriksaan besok."


"Baik, Mas. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Abizar.


"Annisa," panggil Bu Fatimah. Sudah seminggu Annisa tinggal di rumah orang tuanya.


"Ada apa, Bu?" tanya Annisa.


"Bantu ibu mengupas wortel. Nanti kita masak sayur sop kesukaan kamu." Annisa mengangguk paham.


Di tempat lain, Abizar sedang melanjutkan meeting bersama investor usai menelepon Annisa. Mereka sedang berbicara serius. "Saya tertarik pada proyek yang anda kerjaan. Baiklah kita bisa jalin kerjasama. Saya harap proyek ini bisa berjalan sesuai rencana dan mendatangkan banyak keuntungan untuk kita," ucap investor tersebut.


"Pasti saya akan jamin!" ucap Abizar dengan yakin. Setelah itu mereka menandatangani kontrak kerjasama secara bergantian.


"Alhamdulillah tembus, Do," ucap Abizar bersyukur ketika kontrak kerjasama sudah ada di tangan.


"Alhamdulillah, Bos." Edo ikut senang.


"Habis ini kita bisa pulang, Do. Gue kangen sama istri gue," ucap Abizar. Edo merasa iri. Wajahnya jadi cemberut.

__ADS_1


"Lo kenapa, Do? Dapat rejeki kok malah murung gitu?" tanya Abizar.


"Saya nggak ada yang ngangenin, Bos," jawab Edo. Abizar tertawa mendengar jawaban Edo.


"Makanya cepat cari jodoh."


"Yagh kalau tampang saya ganteng kaya si Bos sih cewek mana aja mau. Tapi kalau muka pas-pasan mana laku, Bos," kata Edo.


"Sekali-kali main ke salon," ledek Abizar diiringi tawa mengejek.


Abizar memesan tiket untuk kepulangannya. Dia ingin memberi surprise pada sang istri. Tapi cuaca buruk menyebabkan jadwal penerbangannya tertunda. "Ck, ada-ada saja," gumam Abizar kesal.


"Yang sabar, Bos." Edo juga ikut pulang malam itu juga.


"Kayaknya kita akan bermalam di bandara, Do," ucap Abizar.


"Belajar jadi gembel ya, Bos," ucap Edo sambil tertawa lantang tapi sedetik kemudian tawanya terhenti mengingat Abizar dulu sama-sama menjadi bawahan seperti dirinya.


"Kalau boleh tahu kenapa Bos dulu pura-pura jadi karyawan biasa?" tanya Edo penasaran.


"Aku juga nggak pengen, Do. Tapi orang tuaku yang menginginkan aku bekerja dari nol. Lalu seenaknya memberikan tantangan padaku untuk mengurus anak perusahaannya yang hampir bangkrut. Aku jadi jarang berkomunikasi dengan istriku," ungkap Abizar.


"Mungkin Pak Zidan ingin Bos jadi atasan yang mengerti bawahan. Biar nggak sombong karena udah ngerasain gimana nggak enaknya jadi karyawan biasa," balas Edo.


"Terus buat menyambung hidup bagaimana?" tanya Edo penasaran. Kalau dipikir tidak mungkin untuk dijalani.


"Untungnya Annisa wanita yang baik. Aku beruntung menikahi dia. Sebagian uang tabungannya digunakan untuk mengontrak rumah."


"Waktu itu Bos kerja apa? Sebelum kerja di perusahaan?" tanya Edo lagi. Dia seolah wartawan yang sedang mewawancarai nara sumber.


"Cerita nggak ya," goda Abi.


"Wah saya sih nggak maksa. Kalau mau cerita saya dengarkan tapi kalau nggak mau saya nggak maksa, Bos," balas Edo. Namun, Abizar bukan orang yang pelit. Dia menceritakan apa saja yang dia alami.


"Kamu percaya kalau aku pernah jadi kuli panggul di pasar?" Edo terkejut mendengar pengakuan atasannya itu.


"Serius?" tanya Edo balik. Abizar mengangguk dan tersenyum kecut. Dia sendiri malu tapi itulah hidup kadang di atas kadang di bawah.


"Aku sudah melamar banyak pekerjaan di perusahaan yang membuka lowongan kerja. Tapi tidak satupun yang menerima aku. Lalu aku bertemu dengan seseorang yang aku kenal ketika kami makan bareng di warteg. Saat itu aku putus asa. Tidak mungkin aku mengandalkan tabungan istriku. Aku merasa malu. Jadi aku terpaksa menjadi kuli. Aku tidak punya pilihan saat itu. Asal halal aku bersedia melakukannya demi Annisa."


Plok plok plok


"Bangga banget punya atasan kaya si Bos," puji Edo. Abizar meninju lengan Edo pelan.

__ADS_1


"Hidup banyak lika-likunya. Tergantung bagaimana kita menjalani. Intinya maju terus pantang mundur," ucap Abizar memberi semangat pada bawahannya.


Setelah lelah bercerita, Abizar dan Edo menghabiskan waktu untuk tidur. Penerbangan masih menunggu sekitar lima jam lagi.


Setelah lima jam berlalu Edo membangunkan Abizar. Tapi Edo terkejut ketika Abizar tidak bergerak sama sekali. Edo pun panik. Dia memanggil layanan kesehatan.


"Sudah tidak bernafas," ucap petugas kesehatan di bandara saat itu. Edo terduduk lemas. Baru saja semalam dia bercerita panjang lebar dengan Abizar ternyata itu adalah kali terakhir mereka bisa mengobrol.


Edo bingung menyampaikan bagaimana memberi tahu keluarga atasannya. Apalagi dia ingat kalau istrinya sedang hamil. Tapi Edo berusaha tenang kemudian menghubungi Beni, asisten Zidan.


Dia menceritakan sedetail mungkin agar bisa diterima oleh keluarganya. Beni menyampaikan kabar buruk itu pada Zidan. "Pak, saya mendapatkan kabar dari Edo kalau Pak Abizar telah meninggal dunia."


Brak


"Omong kosong apa ini? Kamu mau ngeprank saya pagi-pagi hah?" bentak Zidan. Beni menggeleng. Edo menelepon saya dari bandara. Pak Abizar meninggal ketika menunggu penerbangan yang ditunda akibat cuaca buruk malam tadi," jawab Beni.


Zidan meraup mukanya kasar. Dia tak kuasa menahan tangis. "Maafkan papa Abi, ini semua salah papa. Papa menyesal," gumam Zidan di sela-sela tangisannya.


Setelah beberapa saat menenangkan hatinya, dia pulang ke rumah. "Pa, kenapa muka papa merah seperti habis menangis?" tanya Mama Safa. Zidan memeluk istrinya erat.


"Ma, papa dapat berita buruk," jawab Zidan sambil memeluk sang istri.


Hati Mama Safa merasa tidak enak. "Apa terjadi sesuatu pada Abizar?" tebak Mama Safa. Perlahan papa Zidan mengurai pelukannya.


"Zidan sudah pergi untuk selamanya," jawab Zidan lirih. Mama Safa terkejut hingga pingsan. Namun, papa Zidan segera menangkap tubuh istrinya itu.


Papa Zidan meminta Beni menyampaikan kabar duka itu pada Annisa yang tinggal di rumah orang tuanya. Annisa terduduk lemas dan menangis. Dia juga memegang perutnya. Bu Fatimah memeluk Annisa agar lebih tenang.


"Kamu tidak boleh begini Annisa. Kamu harus kuat demi anak yang ada di dalam kandungan kamu," ucap Bu Fatimah menguatkan anaknya.


Annisa tak menjawab. Dia berusaha menenangkan diri. "Antar aku menemui suamiku!" perintahnya pada Beni.


"Jenazah masih dalam perjalanan. Saya antar Anda menuju ke rumah Pak Zidan," kata Beni.


Annisa pun masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan pandangannya kosong. Laki-laki yang dia cintai harus pergi untuk selamanya. Perih sekali hatinya. Di saat dia hamil tidak ada seorang suami yang menemani. Namun, Annisa percaya semua ini sudah diatur oleh Allah.


Setelah menunggu cukup lama, jenazah Abizar tiba di rumah duka. Annisa tak kuasa menahan tangis. Dia memeluk peti jenazah suaminya. "Mas Abi kamu telah menepati janji. Kamu mencintaiku hingga akhir hayatmu. Aku pun begitu akan selalu mengenangmu di hatiku. Kamu tidak tergantikan," ucap Annisa.


Semua orang yang mendengar ucapan Annisa tak kuasa menahan tangis. Mereka juga merasakan sesak kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidup mereka.


...♥️♥️♥️...


Othor ucapkan banyak terima kasih buat yang mengikuti cerita ini dari awal.

__ADS_1


Lanjut bab berikutnya ya tentang kisah Annisa menghidupi anaknya.


__ADS_2