Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Berkat Mama


__ADS_3

"Mas mau mengerjakan apa saja yang kamu perintahkan."


"Termasuk melakukan itu?" tanya Annisa.


"Itu apa?" tanya Abi tidak jelas.


"Ngangkat galon!" Annisa menunjuk beberapa galon yang belum dibawa masuk ke dalam. Abizar terkekeh.


"Kirain apa," gumamnya lirih. Abizar pun mulai mengangkat galon satu per satu ke dalam rumah. Tadi siang Annisa membeli air dari tukang galon yang baru beberapa hari jadi langganannya. Annisa pikir tidak mungkin masak air untuk berjualan. Jadi lebih praktis beli air galon.


"Andai saja kita punya kulkas ya, Mas." Annisa bergumam.


"Mas akan cari uang agar kita bisa beli kulkas," tutur Abizar yang merasa bersalah karena tidak dapat memberikan fasilitas yang lengkap pada Annisa.


"Eh, nggak usah, Mas. Kita beli nanti kalau kita udah ngumpulin banyak uang dari berjualan." Annisa takut suaminya kembali bekerja kasar. Annisa tidak tega suaminya yang tampan itu menjadi seorang kuli panggul.


"Tapi bukankah kita butuh?" tanya Abi.


"Nanti aku cari pemasok es batu saja, Mas. Lagipula kalau buat sendiri butuh biaya besar, belum beli kulkasnya, nanti listriknya bayar mahal, air juga habis banyak. Belum lagi tenaga banyak terbuang, padahal harus ngerjain yang lain. Jadi lebih efesien kalau kita cari pemasok."


Abizar sangat bangga pada Annisa. Dia selalu berpikir efisien. "Kamu hebat Annisa. Aku saja tidak sampai berpikir sejauh itu."


"Wanita memang diciptakan dengan daya pikir yang kreatif dan imajinatif. Jadi banyak hal yang dipikirkan jika akan melakukan sesuatu," ucap Annisa.


"Iya, percaya."


Keesokan harinya, Annisa janjian bertemu dengan Safa di ruko yang akan digunakan untuk membuat kafe. Hari ini jualan Annisa libur. Dia sudah bilang pada Rosmala sebelum pergi. Annisa juga mengajak Abizar.


Keduanya sampai lebih dulu di tempat yang diberitahu. Tak lama kemudian Safa datang dengan menggunakan mobil mewahnya. "Abi," seru Safa ketika melihat putra bungsunya berdiri di hadapannya.


Abizar memeluk sang mama. "Apa kabar, Ma?" tanya Abi. Sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu.


"Baik, kamu apa kabar? Mama dua kali datang ke rumah kontrakan kamu tapi kamu tidak ada," ujar Safa.


"Aku bekerja, Ma," jawab Abi.

__ADS_1


"Lantas sekarang kenapa kamu ada di sini?" tanya Safa. Annisa menyela lebih dulu membantu menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu.


"Mas Abi dan aku akan mengelola kafe ini bersama, Ma. Nanti kami juga akan dibantu sama karyawan," jawab Annisa.


"Kamu beruntung mendapatkan istri seperti Annisa. Dia begitu mandiri dan sangat kreatif. Istri kamu ini sangat bersemangat. Jadi kamu juga harus membantunya." Safa memberikan ceramah panjang lebar.


"Iya, mamaku sayang. Bagaimana transaksi jual belinya, Ma."


"Pak Hadi akan datang ke sini membawa surat bukti pembelian ruko. Mama akan menyerahkannya padamu."


Tak lama kemudian Pak Hadi datang. "Maaf, saya telat. Ini dokumen serta kunci ruko." Pak Hadi menyerahkan kedua benda itu pada Safa.


"Serahkan pada Abi. Dia yang akan menempati ruko ini," perintah Safa. Pak Hadi pun menurut.


Abizar sangat girang mendapatkan hadiah dari ibunya. "Makasih banyak, Ma. Mama yang terbaik," puji Abizar.


Setelah itu Abizar membuka ruko. "Kita perlu beli barang-barang untuk pelengkap nih," gumam Abi.


"Kalian bisa beli di toko furniture pakai uang mama," sela Safa. Annisa merasa sungkan.


Abizar tersenyum. "Sayang, uang mama ini terlalu banyak. Dia sampai bingung mau dibuang ke mana," ledek Abizar.


Safa memukul lengan putranya. "Kamu ini ada-ada saja. Iya, betul Annisa. Kamu tidak usah sungkan. Mama sangat ikhlas membantu kalian." Sesaat kemudian Safa mengeluarkan kartu debit dari dalam tasnya.


"Jangan tolak pemberian mama ya," bujuk Safa.


Wanita yang bekerja sebagai dewan direksi di rumah sakit milik ayahnya itu memang memiliki uang yang cukup banyak. Belum lagi ditambah kekayaan suaminya dari perusahaan. Uangnya berlebih jika hanya untuk kebutuhan sehari-hari.


Annisa mengangguk senang. Dia menerima dengan tangan gemetar kartu debit itu. "Kalau begitu sebaiknya kita cari hari ini juga," usul Annisa.


"Pakai mobil mama. Mama akan pulang naik taksi saja. Kalian perlu muter-muter kalau naik taksi pasti boros. Kembalikan saat kalian selesai," ungkap Safa setelah itu dia pergi dengan menaiki taksi.


"Mama sangat baik ya Mas. Aku beruntung memiliki mertua sebaik mama," ungkap Annisa merasa bangga.


Abizar mengusap kepala istrinya itu. "Ayo naik tuan putri. Kita jalan-jalan hari ini."

__ADS_1


"Kok jalan-jalan sih, Mas. Kita kan mau cari furniture," protes Annisa. Abizar hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya.


Abizar sangat senang hari ini. Dunianya seolah kembali. Ini pertama kalinya dia satu mobil dengan Annisa. Annisa melihat ke depan sambil mengamati jalanan. Sedangkan Abizar mencuri pandang saat Annisa sedang bercerita di dalam mobil.


Abizar mengulas senyum tipis. Dunianya seolah berwarna setelah Annisa menjadi istrinya. Tidak seperti dulu yang begitu kelam. Siang hari dihabiskan untuk tidur sedangkan malam hari dia akan mabuk dan main wanita.


'Seandainya saja aku bertemu denganmu sejak dulu,' gumam Abizar di dalam hatinya.


Abizar menghentikan mobilnya di sebuah toko furniture yang pernah dia datangi. Annisa terlihat kagum ketika dia melihat toko yang begitu besar. "Mas, apa kita akan membeli kebutuhan kafe di sini?" tanya Annisa memastikan.


"Tentu saja." Abizar menelusupkan jari jemarinya ke jari-jari lentik Annisa. Hati Annisa berdesir dan jantungnya berdegup kencang.


"Selamat datang," sapa pegawai di toko tersebut.


"Kami sedang mencari perabot untuk kafe," kata Abi. Dia berbicara panjang lebar mendiskusikan tentang barang apa saja yang mengisi kafe barunya.


Sedangkan Annisa berjalan-jalan melihat furniture yang terkesan elegan dan mewah. Annisa melihat salah satu harga perabot yang dijual di toko itu. "Mahal banget," gumamnya terkejut.


Abizar berdiri di belakang istrinya. "Lihat apa?" tanya Abi.


Annisa yang terkejut reflek menoleh. Namun, bibirnya tak sengaja bertabrakan dengan bibir suaminya. Abizar terkekeh padahal wajah Annisa sudah seperti kepiting rebus.


"Mas Abi ngagetin saja," ujar wanita berhijab itu.


"Kamu terlalu fokus lihatin barang-barang itu sampai kamu ngga tahu sejak tadi aku berada di belakangmu," kata Abi.


"Oh ya? Bagaimana Mas? Apa sudah dapat apa saja yang mau dibeli?" tanya Annisa. Abi mengangguk.


"Mereka akan mengirim semua barang yang aku beli hari ini. Kamu siap capek?" tanya Abizar.


"Siap, Mas. Karena aku sudah tidak sabar untuk membuka usaha kita," jawab Annisa bersemangat.


"Good girl. Lalu apa nanti malam kamu siap capek?" tanya Abizar menggoda. Annisa menutup mulutnya tak percaya dengan ucapan suaminya.


Mas Abi Mas Abi kamu ini nggak lihat sikon ya? Lagi pada puasa loh 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2