Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Tamu


__ADS_3

Hari ini acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Rahman Wijaya mengundang kolega dan teman-teman bisnisnya ke acara pernikahan anaknya itu.


"Dengar-dengar menantu Anda ini istimewa, Pak Rahman?" tanya salah seorang temannya.


"Istimewa bagaimana Pak Farhan?" tanya Rahman balik.


"Bukankah menantu Anda adalah seorang janda?" bisiknya di telinga Rahman. Rahman tersenyum menanggapi hal itu.


"Alhamdulillah anak saya mendapat keberuntungan. Jodohnya wanita yang baik plus bonus anak yang lucu. Itu dia cucu saya," tunjuk Rahman pada Dennis yang sedang digendong oleh sang istri.


"Ma, sini biar papa yang gendong Dennis." Mendengar panggilan suaminya Bu Rahmi segera mendekat.


"Teman-teman papa ini ingin berkenalan dengan cucuku yang lucu ini," ucap Pak Rahman mengenalkan Dennis.


"Apa Anda tidak malu Pak menikahkan anak anda dengan seorang janda beranak satu?" tanya salah seorang koleganya yang lain.

__ADS_1


"Kalau saya menikahkan anak saya dengan wanita yang mengandung anaknya di luar nikah, itu baru saya merasa malu. Namun, menantu saya melahirkan anak ini dari suami pertamanya yang sudah meninggal. Saya tahu dia wanita yang baik karena itu saya memiliki keinginan untuk menjadikan dia menantu saya. Saya tahu apa yang terbaik untuk putra saya. Jodoh memang sudah diatur oleh Tuhan. Rupanya menantu saya ini adalah mahasiswi di tempat anak saya mengajar. Raka sudah menyukai Annisa sebelum kami menjodohkannya. Bukankah ini sangat kebetulan?"


Semua orang dibuat takjub dengan cerita Pak Rahman mengenai hubungan Raka dan Annisa yang secara tidak langsung mereka berjodoh.


Di sisi lain Annisa dan Raka sedang duduk di pelaminan. "Apa kamu merasa bosan, Annisa?" tanya Raka.


"Sedikit, Mas. Sebenarnya perutku terasa lapar. Aku ingin makan sesuatu," ucap Annisa dengan jujur dia tidak bisa menahan perutnya yang lapar sudah dari tadi mereka hanya mengamati tamu-tamu yang menyantap hidangannya sedangkan dia sendiri merasa kelaparan.


Raka dengan telaten mengambilkan makanan untuk istrinya itu. Sedangkan Annisa mencari keberadaan Dennis. Sudah dua hari ini dia jarang memeluknya.


Ketika Annisa melihat Dennis, dia berjalan menghampirinya. Annis agak kesulitan berjalan menggunakan gaun yang dia kenakan saat ini. Kemudian seseorang dengan sengaja menginjak bagian ekor gaun yang dipakai Annisa hingga gaun itu robek.


"Gaunku sobek," kata Annisa.


"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita ganti bajumu," usul Raka. Raka pun mengajak Annisa untuk keluar dari pesta itu.

__ADS_1


Saat ini Raka dan Annisa berada di kamar hotel. Mereka memang melangsungkan acara resepsi di sebuah ballroom hotel bintang lima.


Raka menyuruh orang untuk membawakan baju ganti. "Terima kasih, Mas," ucap Annisa merasa tertolong.


"Kamu cantik. Aku beruntung memiliki istri secantik kamu," puji Raka. Wajah Annisa bersemu merah.


"Apakah kita keluar untuk menyambut tamu lagi?" tanya Annisa. Raka menggeleng.


"Tidak perlu, bagaimana kalau kita gunakan waktu kita malam ini untuk..." Belum selesai Raka berbicara Annisa menyela.


"Aku sedang berhalangan," ucapnya.


"Siapa yang menghalangi?" tanya Raka tidak mengerti. Annisa menghela nafas.


"Aku sedang datang bulan, Mas."

__ADS_1


"Hah? Masak secepat itu?" tanya Raka. Annisa mengerutkan kening.


"Memang sudah waktunya," gumam Annisa. Raka mende*sah kasar. Dia kira dia bisa segera memiliki momongan setelah malam pertamanya bersama sang istri.


__ADS_2