Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Raka


__ADS_3

Saat Annisa tiba di rumah Raka, dia langsung disambut oleh Dennis yang tengah digendong oleh ibunda Raka. "Assalamualaikum, Sayang. Apa kamu hari ini rewel?" tanya Annisa pada anak kecil itu.


"Cuma rewel sebentar saat dia ingin tidur," jawab Bu Rahmi.


"Ma, terima kasih sudah jaga Dennis," ucap Raka mewakili Annisa. Bu Rahmi mengangguk.


"Saya mau langsung pamit," ucap Annisa.


"Kamu nggak mau masuk dulu, Nak?" tanya Bu Rahmi.


"Lain kali saja, Bu," tolak Annisa.


"Ya sudah besok kamu bawa saja Dennis kemari." Annisa merasa tidak enak. Dia pun menatap Raka.


"Benar, ibuku akan menjaga Dennis hingga ibumu kembali sehat," ucap Raka. Annisa hanya mengangguk. Setelah itu, Raka mengantarkan Annisa pulang ke rumahnya.


"Terima kasih Mas Raka sudah mengantar kami pulang," ucap Annisa sebelum turun. Raka tersenyum.


"Annisa bolehkah kapan-kapan kamu ajak aku ke makam almarhum suamimu?" tanya Raka. Annisa terkejut mendengar permintaan Raka.


"Untuk apa, Mas?" tanya Annisa bingung.


"Aku ingin meminta izin padanya karena aku ingin menikahi kamu." Wajah Annisa bersemu merah. Benarkah Raka seserius ini?


"Aku belum memberikan jawaban, Mas."


"Aku tahu. Aku masih menunggu sampai kamu siap. Annisa tolong beri aku kesempatan!" Raka menatap ke dalam mata Annisa. Annisa menjadi berkaca-kaca. Dia masih sangat mencintai suaminya bagaimana bisa dia menikah dengan orang lain.


Annisa mengusap air mata yang sempat menetes. "Kita bicarakan lagi besok ya, Mas. Sepertinya Dennis lelah jika terus tidur di pangkuanku." Raka menganggukkan paham.


Setelah itu Raka turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Annisa. "Aku masuk." Raka mengedipkan mata.


Annisa menoleh sebelum dia benda-benda masuk ke dalam rumah. Setelah itu, dia membaringkan Dennis. Annisa menatap wajah damai anaknya yang tengah tertidur. "Apa sudah saatnya kamu punya papa baru?" gumam Annisa sambil mengusap lengan anaknya yang mungil itu.

__ADS_1


Sesaat kemudian, Fahri memberikan kabar pada Annisa kalau kondisi ibunya kritis. Annisa meneteskan air mata. "Aku akan menyusul ke sana," ucap Annisa.


"Titipkan Dennis pada Aisyah!" perintah Fahri pada sang adik. Saat itu juga Annisa memesan taksi online. Dia terpaksa menggendong Dennis yang masih tidur.


Ketika dia sampai di rumah kakaknya Dennis tebangun. Aisyah ingin mengambil alih gendongan tapi Dennis malah menangis. "Bagiamana ini, Kak? Dennis malah tidak mau ditinggal."


"Sebaiknya kamu temani dia. Kita tunggu kabar dari Mas Fahri," usul Aisyah. Annisa mengangguk lemah. Saat ini perasaannya was-was dia takut terjadi sesuatu pada ibunya.


Karena lama menunggu kabar, Annisa terpaksa bermalam di rumah Aisyah. "Besok aku izin kuliah saja."


"Kamu hubungi Raka. Bukankah dia dosen di tempat kamu kuliah?" tanya Aisyah. Annisa mengangguk.


Keesokan harinya Raka menjemput Annisa di rumahnya. Namun, rumah Annis rampak sepi. Lalu sebuah pesan masukke dalam ponselnya.


Mas, aku ada di rumah kakakku. Hari ini aku tidak kuliah karena ibuku kritis. Aku sudah menitipkan Dennis pada Kak Aisyah.


Usai membaca pesan tersebut Raka pun memasuki mobilnya. Dia kana menuju ke rumah sakit.


"Kak titip Dennis ya," pinta Annisa.


Rupanya dia berpapasan dengan Raka ketika baru turun. "Annisa," panggil Raka. Annisa menoleh.


"Lho Mas Raka kok ada di sini?" tanya Annisa.


"Aku ingin melihat kondisi Bu Fatimah," jawab Raka. Mereka pun berjalan berdua meski saling menjaga jarak.


Setibanya di depan ruang rawat sang ibu, Annisa menanyakannya kondisi ibunya pada sang ayah. "Ibumu sudah melewati masa kritisnya," jawab Pak Hanafi. Annisa pun bernafas lega.


"Raka, hari ini kamu nggak ngisi kuliah?" tanya Fahri.


"Saya sudah memberikan tugas pada mahasiswa saya," jawab Raka dengan suara yang tegas. Fahri merasa bangga punya calon ipar seperti Raka.


Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba mereka kedatangan tamu. "Pak Hanafi," panggil Zidan, mantan mertua Annisa sekaligus ayahnya almarhum Abizar.

__ADS_1


Pak Hanafi menyambut Zidan dengannya sebuah pelukan. "Apa kabar? Apa yang membuat Anda ke sini?" tanya Pak Hanafi.


"Beberapa hari yang lalu Annisa datang untuk menitipkan Dennis pada saya. Dia bilang kalau Bu Fatimah terkena stroke." Pak Hanafi mengangguk.


Sedangkan Raka mengerutkan kening karena pada kenyataanya Dennis dititipkan pada ibunya.


"Annisa maaf ya kalau mama tidak bisa menjaga Dennis." Annisa hanya mengangguk menanggapi ucapan mantan mertuanya.


"Annisa, mama dengar kamu akan menikah lagi. Apakah dia calon suami kamu?" tanya Safa. Raka maju dan memperkenalkan diri.


"Saya Raka, calon suami Annisa," ucap Raka dengan penuh percaya diri. Safa dan Zidan hanya tersenyum.


"Bagaimana kondisi Bu Fatimah?" Zidan mengalihkan pembicaraan.


"Sudah lebih baik, walaupun kondisinya sempat kritis," jawab Pak Hanafi.


"Syukurlah. Kami tidak bisa berlama-lama karena kami ada urusan," pamit Zidan. Pak Hanafi mengangguk paham.


Zidan dan istrinya berpamitan pada semua orang termasuk Annisa dna calon suaminya. "Aku harap kamu bisa menjaga Annisa dengan baik. Ingat dia juga Dennis. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan keduanya," pesan Zidan pada Raka. Raka menanggapinya dengan senyuman.


Usai kepergian mantan mertua Annisa, Raka meminta izin agar mengajak Annisa pergi. "Mau ke mana, Raka?" tanya Pak Hanafi.


"Memilih cincin nikah, Pak," jawab Raka dengan penuh percaya diri. Annisa terkejut. Dia menatap Raka penuh tanya. Padahal keduanya belum pernah membicarakan soal pernikahan, bagaimana bisa membeli cincin.


Fahri dan Pak Hanafi terkekeh melihat ekspresi wajah Annisa. "Sudah sana pergi!" Fahri mendorongku pelan tubuh adiknya.


"Kak, kami..." Belum selesai Annisa berbicara Raka lebih dulu menyela.


"Kami permisi," sela Raka sambil menarik tangan Annisa. Dia sampai tergopoh-gopoh mengikuti langkah Raka.


"Mas Raka, tunggu!" Raka menarik terlalu kencang hingga Annisa merasakan sakit di bagian pergelangan tangannya. Raka menoleh dan dia melihat Annisa mendesis. Raka kemudian melepas tangannya.


"Maafkan aku tidak sengaja." Raka ingin mendekati tapi Annisa malah mundur. Kakinya tak sengaja melewati lantai hingga dia hampir saja terjatuh. Beruntung Raka berhasil menangkapnya. Matanya tak sengaja beradu pandang hingga seseorang mengingatkan keduanya.

__ADS_1


"Ehem, maaf Pak, Bu. Ini rumah sakit." Raka dan Annisa pun menjaga jarak. Annisa menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan membuang muka. Sedangkan Raka tersenyum tipis melihat tingkah Annisa yang lucu di matanya.


__ADS_2