
Safa merasakan sesak di dadanya ketika dia mendengar Abi pernah bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Hatinya sakit membayangkan seberapa menderitanya Abi saat itu.
Safa mengusap air mata yang menetes di pipinya. Kemudian dia masuk ke dalam mobil. Safa menuju ke kafe tempat Abizar dan Annisa bekerja. Sesampainya di sana, Safa melihat putranya itu sedang sibuk membantu Annisa.
"Mama," panggil Annisa ketika melihat wanita paruh baya itu berjalan mendekat. Safa tersenyum tapi dipaksakan. Hatinya masih sakit ketika membayangkan nasib Abizar yang begitu menderita.
Saat itu belum keadaan kafe masih sepi. "Mama mau bicara sama Abizar," tutur Safa pada Annisa. Gadis itu memanggil suaminya.
Abizar pun mendekat. "Ada apa, Ma?" tanya Abi. Safa langsung memeluknya erat.
"Maafkan papamu yang telah membuat akmu menderita. Kenapa kamu tidak bilang mama kalau butuh pekerjaan? Kenapa kamu harus melakukan pekerjaan kasar itu?" tanya Safa.
Deg
Abizar terkejut ketika mendengar ucapan sang ibu. Abizar mengurai pelukannya. "Apa mama tahu kalau aku..." Abizar tak meneruskan ucapannya. Namun, Safa sudah tahu maksud Abizar. Safa mengangguk.
"Mama baru tahu pagi ini. Hati mama sakit membayangkan kamu mengangkat karung-karung besar itu? Mama merasa bersalah padamu, Abi." Safa mengusap pipi Abizar.
Mata Abizar pun memerah. "Ini semua sudah diatur sama Allah, Ma. Kalau saja papa tidak mengusirku aku tidak akan tahu sulitnya mencari uang. Aku sudah berubah, Ma. Aku bukan Abi yang dulu."
Annisa menguping pembicaraan antara ibu dan anak itu. Diam-diam dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Sebenarnya Annisa pun tahu kalau Abi pernah bekerja sebagai kuli. Akan tetapi demi menjaga perasaan suaminya, Annisa tidak pernah membahas supaya Abizar tidak merasa malu padanya.
"Jika kamu mengalami kesulitan bilang sama mama. Mama pasti akan bantu," ucap Safa. Dia tidak mau melihat anaknya menderita lagi.
"Pasti, Ma." Abi berjanji pada sang ibu.
"Kalau kamu butuh biaya untuk membangun usaha kamu, kamu bisa minta sama mama. Mama akan kasih berapa pun yang kamu butuhkan."
"Ma, Abi ingin mulai usaha ini dari nol bersama Annisa. Dia selalu memberikan banyak solusi di setiap permasalahan. Aku beruntung memiliki istri seperti dia. Sejak awal pernikahan kami, dia selalu sabar padaku. Aku ingin mama mendoakan agar pernikahan kami bisa berjalan lancar."
Safa merasa senang dengan penuturan Abizar. Dia mengira pernikahan Abizar dan Annisa tidak akan lama karena mereka menikah karena dijodohkan. Safa bersyukur anak dan menantunya akur dan saling membantu.
__ADS_1
"Mama bangga padamu, Abi."
"Tidak, Ma. Seharusnya mama bangga pada Annisa. Berkat kasih sayang dia, Abi bisa berubah menjadi lebih baik, Ma. Seandainya Annisa tidak menerima Abi mungkin aku masih sama seperti dulu."
Safa tersenyum. "Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
Sesaat kemudian Annisa membawakan dua cangkir teh hangat untuk ibu mertua dan suaminya. "Ma, diminum dulu tehnya."
"Tidak usah repot-repot, mama mau langsung ke rumah sakit. Annisa terima kasih sudah menjadi istri yang terbaik untuk Abi. Tetaplah seperti ini. Mama mendoakan kalian cepat dapat momongan."
"Aamiin," jawab Abizar dengan suara lantang. Padahal mereka baru membuatnya semalam.
"Terima kasih, Ma," jawab Annisa.
Setelah kepergian Safa, Abizar mendekati istrinya. "Kira-kira langsung jadi apa nggak ya?" Abi mengusap perut Annisa.
"Mas Abi malu dilihat Mbak Mala," protes Annisa.
Abizar terkekeh. "Mbak Mala juga pasti ngerti rasanya jadi pengantin baru," jawab Abi.
Abizar tersenyum. "Insyaallah." Jawaban Abi membuat hati Annisa merasa teduh. Sikapnya tenang tapi penuh kepastian.
Hari mulai siang, banyak pelanggan yang berdatangan. "Mas, kayaknya kita butuh tambahan pegawai," usul Annisa.
"Aku juga berpikir sama. Bagaimana kalau kita pasang iklan lowongan pekerjaan?" Abizar meminta pendapat istrinya.
"Aku setuju, Mas. Kasian Mbak Mala kalau pulangnya terlalu sore. Nanti kalau kita sudah dapat pegawai, kita buka kafe lebih lama tapi dibagi menjadi dua shift saja." Abizar mengangguk setuju.
Setelah itu Abizar ke percetakan untuk membuat iklan dan selebaran yang memuat tentang lowongan pekerjaan di kafenya.
Rupanya banyak pelamar yang menginginkan pekerjaan itu. Tapi Annisa hanya memilih dua dari di antara para pelamar itu.
__ADS_1
Dari hari ke hari usaha kafe kecil-kecilan yang dikelola Annisa dan Abizar semakin berkembang. Dalam sebulan saja mereka bisa meraih omset puluhan juta.
"Alhamdulillah ya Mas Abi. Kalau kita berusaha pasti ada jalan," tutur Annisa.
Abizar mengangguk setuju. "Ini semua tidak akan berhasil tanpa bantuan kamu, sayang. Bagaimana kalau kita gunakan uang yang kita peroleh untuk membeli rumah?" usul Abizar.
"Boleh, tapi karena tabungan kita masih sedikit sebaiknya kita cari yang bisa kredit saja."
"Terserah kamu, sayang," balas Abizar.
'Memperoleh istri seperti adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Aku tak menyangka tanganku yang penuh dosa ini bisa menggenggam tanganmu. Aku merasa sangat beruntung semenjak kehadiranmu di sisiku. Kamu membawa banyak perubahan yang sangat berarti. Terima kasih Annisa. Aku sangat menyayangimu.'
"Mas Abi kok melamun?" tanya Annisa. "Itu taksinya sudah datang. Ayo naik!" ajak Annisa.
"Bagaimana kalau besok kita beli motor baru?" usul Abizar.
"Uang untuk DP rumah bagaimana?" tanya Annisa.
"Kita bisa menabung lagi mulai bulan depan. Setidaknya kita bisa hemat." Annisa mengangguk setuju.
'Terima kasih Ya Allah. Kesabaranku membuahkan hasil. Andai saja saat itu aku menyerah dan mengabaikan Mas Abi, maka aku tidak akan sebahagia ini. Terima kasih Mas Abi sudah memberikan banyak warna di hidupku. Karena Mas Abi aku belajar menjadi wanita dewasa yang tak lagi berlindung di ketiak ayah.'
"Mas, sudah lama aku tidak berkunjung ke rumah orang tuaku. Bagaimana kalau saat hari Minggu nanti Mas Abi temani aku untuk main ke sana?" tanya Annisa dengan ragu ketika dalam perjalanan pulang.
"Tentu saja. Aku akan menemani kamu ke sana," jawab Abizar.
"Terima kasih, Mas." Annisa memeluk lengan suaminya.
...Pernikahan yang bahagia adalah menyatunya dua insan yang bersedia saling mengerti, memahami, dan saling memaafkan....
♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Mampir ya ke rekomendasi novel bagus ini