Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Pengakuan cinta Raka


__ADS_3

Annisa dibuat terkejut dengan pengakuan cinta Raka. "Bapak menyuruh saya datang ke sini hanya untuk memberikan jawaban atas pertanyaan bapak?" tanya Annisa. Dia tersenyum sinis.


"Jujur saya kaget ketika saya dijodohkan dengan Anda. Tidak ada bayangan saya akan menikah dalam waktu dekat. Saya ingin fokus mengurus Dennis. Lagi pula saya masih mencintai almarhum suami saya. Bagi saya posisinya di hati saya belum tergantikan saat ini."


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan menghilangkan kenangan kamu bersama almarhum suami kamu. Namun, aku berharap bisa mendapatkan sedikit tempat di hati kamu. Annisa, aku menyukaimu sejak aku pertama kali melihatmu. Perjodohan ini adalah doaku yang terjawab. Meski statusmu seorang single parent bagiku tidak masalah."


"Apa yang membuat Anda yakin bahwa saya akan menerima pengakuan cinta Anda?"


Raka tersenyum tipis. "Aku tahu kamu membenciku selama ini, tapi bisakah kamu memaafkan aku? Aku hanya ingin kamu selalu dekat denganku."


"Saya belum tahu." Annisa membanting pintu dan keluar dengan terburu-buru dari ruangan Raka.


Dia memilih pergi ke kantin. Annisa membeli jus jeruk kesukaannya. "Wah seger nih," ucap Tiara yang tiba-tiba duduk bergabung bersama Annisa di bangku yang sama.


"Kok lama banget sih dari ruangan dosen?" tanya Tiara. Annisa tidak menjawab. Tiara memperhatikan wajah Annisa. "Kamu nggak pakai make up pagi ini? Kenapa wajah kamu pucat sekali?" tanya Tiara.


"Aku memang sengaja," jawab Annisa.


"Sengaja? Why?" Tiara jadi penasaran.

__ADS_1


"Ah, udah ah. Kita pulang yuk!" ajak Annisa.


"Eh, habis ini masih ada jamnya Pak Raka," tolak Tiara.


"Udah bolos aja!"


"Gila. Kamu udah berani melawan Pak Raka?" tanya Tiara.


"Berani," jawab Annisa dengan sombong.


"Ehem." Raka berdehem persis di belakang Annisa. Annisa menoleh dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Raka berdiri di belakangnya. Annisa ingin sekali lari sejauh-jauhnya dari Raka tapi Raka menarik tasnya.


"Pak, lepasin, Pak!"


"Masuk ke kelas!" perintah Raka. Mau tidak mau Annisa masuk ke dalam kelasnya.


Satu jam berlalu akhirnya kuliah yang diisi oleh Raka selesai. Annisa merenggangkan ototnya yang kaku. "Nis, hari ini kamu ngajar nggak?" tanya Tiara.


"Kebetulan kalau Sabtu aku libur. Ada apa?" tanya Annisa.

__ADS_1


"Temani aku belanja ya!" Tiara membujuk Annisa. Annisa mengangguk.


"Tiara apa aku boleh ikut? Kebetulan aku ingin membeli jas yang baru," sahut Raka. Sumpah demi apapun Tiara terkejut mendengarnya. Tiara mengangguk cepat. Raka memang terkenal killer tapi dia sangat dikagumi banyak mahasiswi di kampus tempat dia mengajar.


Annisa memutar bola matanya jengah. "Tiara aku nggak jadi ikut ya. Mendadak ada muridku yang calling minta diajari." Annisa terpaksa berbohong. Tiara tersenyum karena dia ada waktu berduaan dengan Raka.


Raka terkejut mendengar penuturan Annisa. "Kamu mau menghindari saya?" sindir Raka.


Annisa tersenyum miring. "Saya hanya memberikan tempat agar kalian lebih leluasa berhubungan. Apa saya salah Pak?" Annisa menatap mata Raka dengan sengit. Setelah beberapa saat Annisa pergi.


Annisa keluar dari area kampus dengan menaiki taksi online yang dia pesan melalui handphonenya. "Alhamdulillah, akhirnya aku terbebas dari dosen galak itu," gumam Annisa.


Dia tidak langsung pulang. Annisa pergi ke makam suaminya. "Assalamualaikum Mas Abi. Aku datang berkunjung karena aku sangat merindukanmu. Banyak kejadian yang aku alami, Mas. Tapi yang paling berat saat bapak memintaku untuk menikah lagi."


"Jujur saja aku belum siap mengganti posisimu di hatiku. Aku hanya mencintai kamu, Mas." Annisa menangis di atas pusara suaminya.


Dari kejauhan seseorang mendengar curahan hati Annisa. Dia urung mendekati Annisa. Kini dia berjalan keluar dari area pemakaman lalu pergi.


Siapa dia?

__ADS_1


__ADS_2