
Setelah dia hari cuti Raka kembali mengajar di kampus. Begitu juga dengan Annisa, dia mengikuti kegiatan kampus apalagi saat ini dia sedang persiapan menjelang tesisnya.
"Wah, pengantin baru nggak bulan madu dulu, Pak?" ledek salah satu mahasiswa Raka.
"Kamu tahu apa itu bulan madu?" tanya Raka balik.
"Tahu dong, Pak," jawabnya.
"Berarti kamu sudah pernah menikah?" tuduh Raka. Mahasiswa itu langsung kicep. Raka pun berjalan melewatinya.
Sementara itu Anissa merasa sedikit pusing karena dua hari terakhir dia kurang tidur. Annisa memilih masuk ke dalam toilet untuk membasuh wajahnya.
"Selamat ya." Annisa menoleh ketika mendengar suara Tiara. Annisa tidak menjawab ucapan selamat yang tidak tulus itu. Tiara seakan-akan mengejeknya.
Tiara pun berjalan mendekat ke arah Annisa. "Selamat, elo sudah berhasil merebut Pak Raka dari gue." Tangan Tiara menarik hijab yang dikenakan Annisa. Setelah itu dia menampar pipi Annisa hingga Annisa terjatuh.
Belum sampai di situ, Tiara berjongkok lalu mengangkat dagu Annisa. "Gue janji gue nggak akan biarin hidup lo bahagia," ancam Tiara. Setelah itu Tiara bangkit dan meninggalkan Annisa yang masih terduduk di lantai.
Annisa mencoba bangkit meski agak kesulitan. Dia bercermin dan melihat dahinya yang terluka. Annisa segera membersihkan darah yang keluar dari dahinya agar Raka tidak curiga. Annisa menarik nafas dalam-dalam agar lebih tenang. Kemudian dia keluar dari toilet.
Raka sedang mencari keberadaan Annisa. Saat itu dia melihat Annisa keluar dari toilet. Namun, ada yang tidak beres. Annisa berjalan sempoyongan. Sesaat kemudian tubuh Annisa ambruk tepat di hadapan Raka. Raka pun mempercepat langkahnya lalu menggendong Annisa.
Dia melihat dahi istrinya itu lebam dan ada sedikit bekas darah yang masih tersisa. "Annisa ada apa denganmu?" gumam Raka.
Raka membawanya ke klinik yang ada di kampus mereka. "Lukanya tidak serius. Dia hanya perlu istirahat saja," ucap suster yang merawatnya.
Raka menunggu hingga istrinya itu sadar. "Mas Raka," panggil Annisa. Annisa mencoba bangun tapi Raka melarangnya.
"Jangan memaksakan diri jika masih pusing. Sebenarnya kenapa kamu bisa sampai pingsan? Kenapa dahimu terluka?" cecar Raka.
__ADS_1
"Kepalaku pusing karena kurang tidur. Aku tak sengaja menabrak pintu toilet ketika berjalan. Maaf aku membuatmu khawatir." Annisa tidak mau mengungkapkan hal yang sebenarnya. Dia tidak mau Tiara mendapat masalah.
"Aku antar kamu pulang. Kalau sakit jangan pura-pura kuat. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu." Raka terlihat cemas. Dia sungguh peduli pada istrinya.
"Aku tahu."
"Ingin aku gendong?" tanya Raka.
Annisa terkekeh. "Aku bukan Dennis yang masih belajar jalan. Aku bisa jalan sendiri, Mas," tolak Annisa.
Raka memapah istrinya. "Mas," protes Annisa.
"Apa begini juga tidak boleh?" tanya Raka ketika tangannya merangkul bahu istrinya.
"Jangan menarik perhatian orang lain. Meskipun kita sudah menikah, ada orang lain yang tidak senang melihat kita sedekat ini." Raka jadi mengerutkan keningnya.
"Siapa?" tanya Raka. Annisa tersenyum. "Aku ingin segera bertemu Dennis. Kita langsung pulang saja ya, Mas." Annisa berjalan mendahului Raka. Badannya sudah lumayan enak dibanding beberapa saat yang lalu.
Sepanjang perjalanan Annisa hanya diam saja. "Apa kamu masih pusing?" tanya Raka.
Annisa menggeleng. "Oh iya, Mas. Bisakah kita tinggal di rumah orang tuaku?" tanya Annisa.
Raka menghentikan mobil. "Kenapa? Apa kamu merasa tidak nyaman?" tanya Raka.
"Ibuku sakit aku ingin merawat beliau," jawab Annisa.
"Bukankah ada bapak yang merawat beliau?"
"Tapi bapak pasti kewalahan mengurus ibu sendirian."
__ADS_1
Raka menghela nafas. "Apa kamu juga sanggup mengurus tiga orang sekaligus?" Annisa tidak mengerti ucapan Raka.
"Kalau kamu tinggal di sana, kamu harus mengurus ibu, aku dan Dennis dalam waktu yang bersamaan apa kamu sanggup?" Annisa hanya terdiam.
"Kau hanya ingin membantu bapak, Mas." Tiba-tiba air mata Annisa menetes.
"Besok kita jenguk ibu. Nanti kita bicarakan lagi setelah kamu merasa lebih tenang." Raka kembali menyalakan mesin mobilnya. Mereka menuju ke rumah orang tua Raka.
Annisa turun dari mobil lebih dulu. Di merasa kecewa karena Raka tidak memperbolehkan dirinya mengurus sang ibu. "Dennis mana Ma?" tanya Annisa.
"Dia baru saja tidur," jawab Bu Rahmi.
"Annisa ada apa dengan keningmu?" tanya Bu Rahmi kemudian.
"Hanya terbentur sedikit, Ma. Aku mau melihat Dennis dulu, Ma. Permisi," pamit Annisa.
Raka berjalan mendekat ke arah ibunya. "Benarkah kening Annisa hanya terbentur?" tanya Bu Rahmi pada Raka. Raka menggedikkan bahu.
Annisa melihat putranya yang sedang terlelap. "Anak bunda pinter banget. Apa seharian kamu rewel? Maafkan bunda yang jarang mengasuhmu, Nak." Annisa jadi meras bersalah karena dia terlalu sibuk pda kegiatannya.
Raka mendekati istrinya. "Sayang, biarkan Dennis tidur. Kamu juga harus istirahat." Annisa mengangguk. Dia menurut pada perintah suaminya.
"Annisa apa benar kepalamu hanya terbentur pintu? Apakah ada yang menyakitimu?" tanya Raka sekali lagi.
Annisa mengajak Raka duduk di tepi ranjang. "Mas Raka curiga pada siapa? Tidak ada yang menyakiti aku. Aku hanya kurang hati-hati Mas."
"Baiklah, aku percaya. Tapi jangan memendam masalah seorang diri. Jika ada seseorang yang ingin menyakiti kamu bilang padaku. Aku ini suamimu..."
"Aku tahu," sela Annisa. Raka pun diam seketika.
__ADS_1
'Kenapa kamu belum bisa terbuka padaku Annisa? Apa aku belum bisa kamu percaya untuk melindungimu?'