Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Syarat


__ADS_3

Abizar menghadap sang ayah. "Pa, apa boleh aku menggunakan mobilku kembali? Aku butuh sekarang," ucap Abizar setengah memohon.


"Boleh, ada syaratnya," jawab Zidan.


"Apa, Pa?" tanya Abizar. Dia tidak mau menolak karena berdebat dengan ayahnya membutuhkan waktu lama. Sedangkan Annisa sedang menunggu di rumah orang tuanya.


Zidan tersenyum sinis. "Tumben kamu tidak membantah. Biasanya kamu tidak tertarik dengan syarat yang papa berikan padamu," cibir Zidan pada putranya itu.


"Pa, please. Langsung ke intinya saja!" Abizar tidak mau berlama-lama di sana.


"Datanglah ke kantor besok pagi. Bekerjalah di sana!" perintah Zidan pada putranya itu.


"Oke. Sekarang mana kunci mobilku." Zidan menengadahkan tangannya. Setelah itu Zidan membuka laci dan mengambil kunci mobil Abi.


Setelah mendapatkan kunci yang dia mau, Abizar menuruni tangga. "Abi, sudah dapat kuncinya?" tanya Mama Safa. Abizar menunjukkan kunci mobil yang sedang dia pegang.


"Syaratnya apa?"


"Besok saja aku cerita, Ma. Aku buru-buru." Abizar mencium tangan ibunya lalu pergi. Dia menuju ke garasi.


"Apa kabar manis?" Abi mengajak bicara mobil sport warna merah miliknya itu. Abizar merasa percaya diri mengendarai mobil yang cukup lama tidak dia sentuh.


Baginya manis sangat istimewa karena itu adalah hadiah ulang tahun dari kakeknya. Abi pun tak butuh waktu lama untuk sampai di kediaman mertuanya itu.


Annisa terkejut ketika melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah orang tuanya. Namun, rasa ingin tahunya berubah setelah melihat sang suami turun dari mobil itu. "Mas Abi," panggil Annisa.

__ADS_1


Abizar mengulas senyum termanis miliknya. "Assalamualaikum, istriku tercinta," sapa Abi.


"Waalaikumsalam, suamiku," balas Annisa. "Mas Abi naik mobil siapa?" tanya Annisa heran.


"Mobilku," jawab Abi singkat. Annisa sangat terkejut.


"Eh, Nak Abi." Bu Fatimah dan Pak Hanafi keluar melihat keadaan Annisa. Abizar pun meraih tangan keduanya secara bergantian lalu menciumnya.


"Apa kabar, Pak, Bu?" tanya Abizar dengan sopan.


"Baik," jawab Pak Hanafi.


"Saya ke sini mau jemput Annisa," ungkap Abi.


"Kalian pulanglah! Jika ada masalah diskusi dengan baik-baik. Ingat setiap pernikahan pasti ada ujiannya. Jadi kalian harus bekerja sama menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan hati yang tenang." Pak Hanafi menceramahi menantunya itu. Abizar mengangguk paham.


"Annisa pulang, ya Pak, Bu," pamit Annisa.


Abizar membukakan pintu mobil untuk istrinya. Abi juga menutup bagian kepala Annisa agar tidak terbentur. Annisa kagum melihat interior mobil yang begitu mengesankan. Dia merasa dirinya adalah wanita yang istimewa ketika mendapatkan perhatian dari sang suami.


Setelah memastikan Annisa masuk, Abizar pun memutar lalu masuk ke bagian kursi kendali. "Kamu siap?" tanya Abi yang menoleh ke arah wanita berhijab itu.


"Iya, Mas," jawab Annisa. Abizar mulai menyalakan mesin mobil. Abizar melirik ke arah Annisa yang mulai mengantuk. Lama kelamaan wanita itu tertidur. Abi tersenyum melihat wajah imut istrinya itu.


Sesampainya di unit apartemen, Abizar terpaksa menggendong Annisa hingga masuk ke dalam rumah. Dia tidak tega membangunkan Annisa. Abizar mengelus kepala wanita itu lalu membantu melepaskan hijabnya.

__ADS_1


"Kamu memang sangat cantik," puji Abizar dengan lirih. Kemudian dia mencium bibir istrinya sekilas. Annisa membuka mata ketika merasakan sesuatu yang menempel di bibirnya.


Annisa memukul bahu Abi. "Aku kaget tahu." Abizar terkekeh.


"Kenapa kaget?" tanya Abi.


"Aku kira ada cicak yang menempel di bibir aku ini," jawab Annisa.


"Enak aja aku disamain sama cicak," ujar Abi tak terima.


"Habisnya apa yang cocok? Bebek? Kan suka nyosor gitu?" ledek Annisa. Abi pun tersenyum jahat lalu menggelitiki pinggang istrinya. Annisa tak bisa menahan tawa.


"Mas, cukup! Ampun Mas!" Abizar menghentikan kegiatannya. Dia merebahkan diri dan melihat ke langit-langit di dalam kamarnya.


"Annisa, mulai besok aku akan bekerja di perusahaan papa," ungkap Abi.


"Alhamdulillah," ucap Annisa. Dia mengira senang hubungan Abizar dan Zidan sudah membaik.


Abi menoleh. "Kok alhamdulillah?"


"Lho bukannya kalau kita mendapatkan rejeki harus mengucapkan syukur ya?"


"Aku tidak tahu apa sebenarnya rencana papa. Mulai besok aku akan sibuk. Aku harap kamu maklum."


"Tidak masalah Mas. Mencari rejeki itu termasuk ibadah. Mana mungkin aku melarang suamiku melakukan ibadah."

__ADS_1


Abi merasa Annisa selalu perhatian padanya. Tapi dia takut kalau perhatian yang dia berikan pada istrinya itu kurang. "Aku menyayangimu Annisa," ucap Abizar.


__ADS_2