Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Kambing Hitam


__ADS_3

Aku mau ingetin buat subscribe, like dan klik kotak hadiah ya


...***...


Annisa dan Abizar hanya bertemu ketika sore jelang malam hingga pagi sebelum Abi berangkat kerja. Tapi selama sebulan menjalani kehidupan berumah tangga, mereka tidur secara terpisah. Annisa merasa kesepian. Tapi semenjak dia berjualan, dia tak lagi merasa sendiri.


"Mbak Annisa, suaminya kerja di mana?" tanya Bu Siti ketika sore-sore datang ke warung jualan Annisa.


"Saya tidak tahu, Bu. Tapi saya yakin Mas Abi cari kerja halal," jawab Annisa.


"Kok Mbak Annisa bisa yakin?" tanya Bu Siti heran.


"Karena saya mengenal suami saya," jawab Annisa.


"Kalian pacaran udah lama ya?" tanya Bu Siti. Annisa menggeleng.


"Kami menikah karena dijodohkan, Bu," jawab Annisa dengan jujur.


"Lantas, kenapa Mbak Annisa sepercaya itu sama suaminya?" tanya Bu Siti tidak mengerti.


"Karena sejak kami menikah, Mas Abi selalu baik pada saya. Saya juga ingin jadi istri yang baik untuk Mas Abi," jawab Annisa.


"Saya salut sama Mbak Annisa. Biasanya menikah karena perjodohan selalu banyak tidak cocoknya. Tapi melihat kalian saya jadi iri. Mas Abi kelihatan sayang banget sama Mbak Annisa," ucap Bu Siti.


"Doakan rumah tangga kami selalu harmonis ya, Bu," tutur Annisa.


Tak lama kemudian Abi pulang kerja. "Assalamualaikum," sapa Abi.


"Waalaikumsalam," jawab Bu Siti dan Annisa secara serempak.


"Mbak saya pamit dulu ya." Bu Siti merasa tidak enak setelah kedatangan Abi.


"Mas," panggil Annisa. Tangannya reflek mencium tangan sang suami. Abi tersenyum lalu mengajak dirinya masuk.

__ADS_1


Setelah itu Annisa menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya. "Annisa bisa ke sini sebentar nggak?" perintah Abi supaya istrinya mendekat.


"Aku punya ini untuk kamu." Abi menunjukkan kalung yang dia beli setelah pulang kerja.


"Mas, kamu dapat uang dari mana untuk membeli kalung ini?" tanya Annisa.


"Sebenarnya ini kalung imitasi. Aku melihat ibu-ibu berkerumun di sebuah lapak pedagang. Aku lihat kalung ini seperti emas tapi ternyata hanya imitasi. Tapi aku berjanji suatu hari aku akan membelikan kamu yang asli."


Annisa merasa terharu dengan perkataan suaminya hingga dia meneteskan air mata. "Mas Abi tidak perlu memberiku perhiasan. Karena bagiku Mas Abilah perhiasan dalam hidupku."


Ucapan Annisa membuat Abi terharu. Tiba-tiba Abi mencium bibir Annisa sekilas. Wajah Annisa jadi bersemu merah. Abi jadi terkekeh melihat tingkah menggemaskan istri kecilnya itu. "Baru dicium di bibir saja kamu segitu malunya bagaimana kalau kucium di bagian lain?" goda Abi.


Annisa pun menjadi kesal. Dia mencubit perut suaminya. "Aw, sakit." Abi meringis kesakitan.


"Rasain, siapa suruh kamu usil," ujar Annisa.


"Udah ah. Mas mau mandi. Kamu mau ikut?" Abi tak berhenti menggoda Annisa.


"Mas Abi," teriak Annisa. Abi berlalu ke kamar mandi dengan tawa renyah.


"Iya, Mas siap jadi imam kamu." Hati Annisa merasa senang mendengar ucapan Abizar.


'Ya Allah semoga aku dan Mas Abi selalu berjodoh,' batin Annisa sambil berlalu untuk mengambil air wudhu.


Usai melaksanakan sholat maghrib berjamaah, seperti biasa Annisa mencium tangan suaminya. "Annisa apa kamu tidak rindu rumah?" tanya Abi.


Annisa berkaca-kaca. "Iya, Mas. Aku ingin sekali menjenguk bapak dan ibu."


"Besok pulanglah ke rumah orang tuamu tapi kembalilah sebelum aku sampai di rumah. Sampaikan salamku pada kedua orang tuamu. Maaf aku tidak bisa pergi bersamamu karena aku harus bekerja."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku akan sampaikan salam kamu untuk mereka," jawab Annisa.


Keesokan harinya Annisa pergi ke rumah orang tuanya setelah menyiapkan bekal untuk Abi. "Mas aku berangkat dulu ya," pamit Annisa.

__ADS_1


"Hati-hati. Jangan lupa pesanku!" Annisa mengangguk menanggapi ucapan suaminya.


Setelah Annisa berangkat, Abi pun menuju ke pasar. Ketika dia mengunci rumah, Bu Siti menyapa Abi. "Mau berangkat kerja ya, Mas?" tanya Bu Siti. Abi mengangguk sopan. Abi buru-buru pergi agar Bu Siti tak menanyakan dia bekerja di mana.


Sesampainya di pasar dia tidak melihat Anton. Abi pun bertanya pada temannya. "Bang, lihat Bang Anton nggak?" tanya Abi.


"Nggak tahu. Bi, elo sebaiknya jauhi si Anton."


"Lho kenapa, Bang?" tanya Abi heran.


"Lo tuh baru kenal dia belum tahu gimana sifat aslinya. Anton itu orangnya banyak musuh. Kalau lo deket-deket dia bisa-bisa musuh dia jadi musuh lo juga."


"Kok bisa begitu, Bang?" tanya Abi tidak mengerti.


"Karena lo bisa jadi dianggap sekongkol sama Anton. Gue saranin lo cari kerjaan lain. Kalau bisa jangan lagi berhubungan dengan Anton. Percaya sama gue."


Hati Abi jadi bimbang. Selama ini Anton sudah banyak membantu dirinya. Bagaimana mungkin dia menjauhi orang yang banyak berjasa padanya? Pikir Abi.


Abi bekerja seperti biasa. Dia mendapatkan orderan tambahan karena Anton tidak berangkat. Tak lama kemudian dua orang laki-laki yang mengenakan jaket kulit menghampiri Abi. "Elo yang namanya Abi?" tanya salah seorang di antara pria-pria asing itu.


"Ada apa ini, Bang?" tanya Abizar.


Tiba-tiba salah seorang di antara mereka memukul perut Abizar. Abizar yang tidak siap menerima pukulan itu pun jatuh tersungkur. "Bangun!" Laki-laki itu menarik kerah baju Abi dengan paksa.


Orang-orang yang melihat perkelahian itu pun banyak yang histeris. "Bayar hutang Anton!" perintah pria ading itu dengan paksa.


Abi tersenyum sinis dan meludah ke samping. "Tagih saja pada orangnya langsung!" perintah Abi.


"Lo tahu kenapa gue nagih sama elo? Anton bilang elo yang bawa duit dia," bentak pria itu sambil memberikan sebuah pukulan di wajah tampan Abizar.


Abi yang tidak terima pun membalas perlakuan mereka. Terlebih lagi dia kesal pada Anton karena telah menjadikan dia kambing hitam. Dua orang pria itu kalah setelah Abi menghabisi mereka. Abi naik ke atas tubuh salah seorang di antara pria bertubuh besar itu. "Lain kali jangan percaya sama yang namanya Anton!"


Abi memberi pukulan sekali lagi hingga membuat laki-laki itu pingsan. Setelah selesai berkelahi, Abizar memilih pulang.

__ADS_1


Sebelum sampai di rumah, dia membeli obat di apotek terdekat untuk mengobati lukanya. Abi merawat luka-luka sendiri. Setelah itu Abizar memilih tidur di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu.


Bagaimana reaksi Annisa ketika dia pulang nanti ketika melihat wajah suaminya yang penuh dengan lebam dan luka?


__ADS_2