Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Calon papa


__ADS_3

Raka membawa Annisa ke sebuah toko perhiasan emas. "Mas, aku kan sudah bilang Kalau aku belum siap menikah dengan Mas Raka," ucap Annisa.


"Tidak apa-apa. Anggap saja aku memberikan kamu kado," balas Raka.


"Tapi aku nggak lagi ulang tahun."


Raka tersenyum. "Apakah kado harus diberikan saat ulang tahun saja?" Annisa menggeleng.


Raka memanggil pelayan toko emas tersebut. "Saya mau lihat koleksi kalung terbaru."


"Mas." Annisa ingin menolak. Diberi cincin saja tidak mau apa lagi kalung. Dia semakin tidak enak.


"Aku ingin memberimu kalung karena kamu menolak lamaranku." Annisa menghela nafas kasar.


Raka mengambil sebuah kalung yang sangat indah. Dia membayar kalung itu lalu memberikannya pada Annisa. "Mas aku tidak pantas menerima ini."


"Ini sebagai permintaan maaf sekaligus ucapan terima kasih karena telah menuruti semua perintahku selama menjadi mahasiswiku."


'Suatu saat posisimu bisa naik menjadi istriku Annisa,' batin Raka.


"Boleh aku pakaikan kalung itu di lehermu?" tanya Raka meminta izin. Annisa mengangguk. Kalung yang modelnya sangat simpel tapi menawan itu cocok sekali dipakai oleh Annisa.


"Terima kasih banyak, Mas."

__ADS_1


Setelah dari toko emas, Raka mengantarkan Annisa pulang ke rumah kakaknya. "Mas Raka mau masuk?" tanya Annisa. Raka menggeleng.


"Lain kali saja," jawab Raka. Sesaat kemudian matanya mengarah pada kalung yang dia belikan untuk wanita anak satu tersebut. "Kamu tambah cantik kalau memakai kalung itu," tunjuk Raka dengan dagunya.


Wajah Annisa bersemu merah. "Ah Dennis pasti menungguku. Aku masuk dulu, Mas," pamit Annisa ke dalam rumah. Raka menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Annisa.


"Nisa, kamu pulang sama siapa?" tanya Aisyah.


"Mas Raka. Dennis tidur ya, Kak?" tanya Annisa yang tidak melihat anaknya itu.


"Iya ada di dalam kamar. Aira sedang menjaganya," jawab Aisyah.


"Oh iya, ibu baik-baik saja. Masa kritisnnya sudah lewat."


"Aamiin."


Malam ini Annisa menginap lagi di rumah Aisyah karena Dennis tidur lebih dulu. Dia tidak tega membangunkan Dennis dan mengajaknya pulang.


Annisa melepas hijabnya sebelum tidur. Dia sedang bercermin sambil menatap kalung pemberian Raka dari pantulan cermin. Annisa tersenyum mengingat perlakuan manis Raka.


Dia mulai memikirkan masa depannya. "Mas Abi, apa boleh aku menikah lagi?" gumam Annisa galau. Dia masih mencintai suaminya tapi dia juga butuh seseorang untuk menjaga dia dan anaknya.


Keesokan harinya Annisa mengajak Dennis ke kampus. Dia tidak takut jika mahasiswi lain mengejeknya.

__ADS_1


"Aduh Annisa anak kamu ya?" tanya salah satu mahasiswi. "Dia gemoy banget." Annisa tersenyum. Rupanya tidak ada yang mengejek seperti kemaren.


Tak lama kemudian dia berpapasan dengan Tiara. "Eh Annisa. Keponakannya ya?" sindir Tiara.


"Dia anakku."


"Ups, kirain keponakan," ledek Tiara bersama teman-teman Tiara.


"Annisa," panggil seseorang dengan suara yang khas. "Kenapa kamu ke sini membawa Dennis?"


"Tidak ada yang menjaga dia. Jadi saya terpaksa mengajaknya," jawab Annisa.


"Kamu ada kuliah habis ini?" tanya Raka. Annisa mengangguk.


Raka tiba-tiba mengambil alih gendongan Dennis. "Biar aku saja yang jaga dia selama kamu kuliah."


"Tidak usah, Pak. Saya cuma ambil tugas."


"Iya, nggak apa-apa. Belajar jadi orang tua," jawab Raka sambil mengerlingkan matanya sebelah. Annisa hanya mencibir.


"Dennis, mama kuliah dulu ya. Baik-baik sama calon papa baru." Ucapan Annisa membuat Raka berbunga-bunga.


Raka pun menciumi Dennis hingga balita itu kegelian. "Anak papa jangan nangis ya,"ucap Raka.

__ADS_1


__ADS_2