
"Kok lama, Yang?" tanya Abi ketika istrinya baru pulang dari membeli makanan. Abi sekarang sudah mulai terbiasa memanggil Annisa dengan sebutan sayang. Annisa pun merasa bahagia.
"Tadi ketemu Mbak Mala yang mau berobatin anaknya ke dokter. Katanya lagi sakit," ungkap Annisa.
"Yang kemaren diajak jualan di sini itu?" tanya Abizar. Annisa mengangguk.
"Usianya berapa? Lagi lucu-lucunya," ucap Abi sambil tersenyum.
"Enam bulan lebih kata Mbak Mala," jawab Annisa sambil membukakan nasi bungkus untuk suaminya.
'Aku juga pengen punya satu yang seperti itu,' gumam Annisa di dalam hatinya. Annisa menghela nafas. Abizar mengamati sikap istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Abi dengan lembut.
"Ah, nggak kenapa-kenapa, Mas," bohong Annisa.
"Mau punya satu ya?" tanya Abi. Annisa menoleh, suaminya itu seolah tahu isi hati Annisa.
"Punya apa, Mas?" tanya Annisa pura-pura tidak mengerti.
"Punya bayi lucu kaya anaknya Mbak Mala?" tanya Abizar. Annisa tidak tahu harus menjawab apa. Dia bingung karena selama ini dia tidak tahu bagaimana perasaan Abizar padanya. Selain itu juga kalau dia menjawab iya, belum tentu Abizar mau. Annisa takut menjawab akhirnya dia hanya menangis.
"Lho kok kamu malah nangis?" tanya Abi bingung. Annisa memeluk suaminya.
"Lagi pengen nangis aja," jawab Annisa sekenanya. Abizar membalas pelukan sang istri dengan satu tangannya karena satu lagi masih sakit.
"Maaf, aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku janji aku akan berubah. Aku sedang berusaha jadi suami yang baik," ucap Abi sambil menyandarkan dagunya ke kepala Annisa.
Annisa terharu mendengar ucapan Abi. Kemudian dia mengurai pelukannya. Annisa mendongak lalu menempelkan bibirnya pada bibir Abi sekilas. "Aku sayang padamu, Mas."
Deg
Jantung Abizar berdegup kencang ketika istrinya mengungkapkan perasaannya. Abi bingung karena dia belum bisa membalas. Bukannya Abi tidak menyukai Annisa tapi Abizar merasa dirinya tidak pantas untuk Annisa.
Abizar memiliki masa lalu kelam. Dia dulu seorang player. Sering mabuk-mabukan dan berfoya-foya. Abizar menghabiskan uangnya untuk membayar gadis-gadis yang menemani dia minum.
Walau dia menjalin hubungan dengan Cintya tapi Abi masih tidak puas karena dia dan Cintya tidak melakukan hubungan suami istri. Sedangkan dengan wanita bayaran itu Abi bebas melakukan perbuatan zina.
Saat Abi mengingat perbuatannya, Abi merasa dirinya sangat kotor. "Annisa, sebenarnya aku bukan lelaki baik-baik. Aku punya masa lalu yang kelam," tutur Abi memberanikan diri berkata jujur.
"Semua orang punya masa lalu, Mas. Aku tidak mau kamu melihat masa lalu kamu lagi. Mari kita jalani masa depan kita tanpa bayang-bayang masa lalu." Annisa menatap ke dalam mata suaminya. Abizar mengangguk setuju.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara perut Abizar. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf suara perutku tidak bisa dikondisikan," ucap Abi merasa malu pada istrinya.
Annisa terkekeh. "Ayo Mas dimakan. Nanti cacing dalam perut kamu makin meronta-ronta," ledek Annisa.
Di tempat lain, Cintya meminta waktu pada Raihan untuk bertemu. Dia ingin kembali pada Raihan setelah putus dari Abizar. "Ada apa lagi kamu mencariku?" tanya Raihan dengan ketus.
Dulu dia ditinggalkan oleh Cintya karena wanita itu mengejar cintanya Abi. Sekarang setelah Abizar menikah dan jatuh miskin, Cintya mencari Raihan. "Aku ingin kita kembali seperti dulu." Cintya mencoba meraih tangan Raihan tapi pria itu menepisnya.
"Aku tidak mau menjalin hubungan dengan wanita yang rela meninggalkan aku demi laki-laki lain. Namun, setelah kamu ditinggalkan kamu ingin kembali kepadaku. Hah, lucu," cibir Raihan.
Sesaat kemudian Raihan berdiri. "Carilah mangsa lain. Aku tidak berminat padamu," ucap Raihan kemudian dia melenggang pergi.
Cintya memukul meja yang ada di hadapannya. "Dasar laki-laki sombong. Lihat saja nanti aku akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapanku," gumam Cintya.
Raihan masuk ke dalam mobil. Dia sangat kesal pada Cintya. "Enak saja mau balikan setelah mencampakkan aku. Aku lebih tertarik pada Annisa," gumam Raihan.
Menurutnya, wanita yang jual mahal seperti Annisa membuatnya penasaran. Dia makin tertantang untuk menaklukkan Annisa. Apalagi dia adalah istri Abizar, musuh bebuyutannya. Raihan sekaligus ingin balas dendam pada laki-laki itu.
Keesokan harinya, Annisa dan Abizar mulai sibuk menata kafe barunya. Dibantu Mbak Rosmala mereka akan membuka kafe hari ini. "Bismillah, semoga usaha kita lancar hari ini dan seterusnya," ucap Annisa. Abizar tersenyum sambil mengusap kepala Annisa. Annisa merasa malu ketika Rosmala melihatnya.
"Oh ya, Mbak Mala anaknya sama siapa?" tanya Annisa.
"Saya titipkan ke tetangga," jawab Rosmala.
"Mau diminum di sini apa dibawa pulang?" tanya Annisa.
"Minum sini saja," jawab pemuda itu.
"Mbak Mala tolong buatkan pesanannya ya," perintah Annisa dengan sopan pada pegawainya. Rosmala mengangguk paham.
Semakin siang semakin banyak yang mampir ke kafe kecil-kecilan yang baru mereka buka. Abizar belum banyak membantu karena tangannya masih sakit. Dia hanya membantu mengantar pesanan dengan satu tangannya.
"Mas nggak sopan banget. Kasih makanan kok pakai tangan kiri," tegur salah satu pelanggan yang tak terima.
Annisa pun mendekat. "Maaf, tangan suami saya sedang sakit." Annisa meminta Abizar menunjukkan lengannya yang diperban.
Orang itu menjadi tidak enak. "Maaf, ya Mas, Mbak. Saya tidak tahu," ucapannya penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, Mas," jawab Annisa. Setelah itu Annisa dan Abizar berjalan ke belakang meja jualannya.
"Terima kasih Annisa. Kalau tidak ada kamu pasti mereka masih marah-marah."
__ADS_1
"Sama-sama, suamiku. Kalau Mas Abi capek istirahat saja, Mas. Mas Abi kan masih dalam masa pemulihan." Abizar mengangguk setuju.
Setelah seharian bekerja, Annisa menutup kafenya pada pukul tiga sore. Namun, saat itu ada pembeli yang datang. "Kok sudah tutup, Mbak," tegur pembeli itu.
"Iya, kami tutup jam tiga," jawab Annisa.
"Wah sayang sekali. Besok buka lebih lama ya, Mbak. Saya pulang jam segini. Teman-teman saya juga baru keluar kantor jam tigaan."
"Oh baik, Mas. Insyaallah besok saya akan buka hingga petang," jawab Annisa. Abizar pun berpikir untuk menambah pegawai.
"Mbak Annisa saya pulang dulu ya?" pamit Rosmala.
"Mbak, ini ada sisa buah boleh dibawa pulang. Saya gaji Mbak Mala seminggu sekali ya," kata Annisa memberi tahu.
"Iya, saya masih ada pegangan. Tidak apa-apa kalau Mbak Annisa mau gaji saya seminggu sekali," jawab Rosmala.
Annisa bernafas lega. "Pulangnya hati-hati ya Mbak," pesan Annisa. Setelah itu dia pulang menggunakan taksi online bersama Abizar.
"Mbak Annisa nggak buka warung lagi ya?" tegur Bu Siti.
"Tidak, Bu. Kami buka jualan di tempat lain," jawab Annisa.
"Wah sayang sekali."
"Kalau Bu Siti mau kapan-kapan bisa mampir di tempat jualan kami yang baru," sela Abizar.
"Wah boleh-boleh nanti kasih tahu saja alamatnya," jawab Bu Siti. Annisa mengangguk kemudian mereka masuk ke dalam rumah.
"Alhamdulillah." Annisa menyandarkan punggungnya ke badan kursi.
"Capek banget ya?" tanya Abizar. Annisa mengangguk.
"Mau aku pijitin?" Annisa menggeleng.
"Mas Abi juga capek. Oh iya mau minum apa Mas? Biar aku buatkan," kata Annisa.
"Tidak usah. Aku saja yang buatkan untuk kamu. Tunggu di sini sebentar." Abizar pergi ke dapur. Dia membawakan secangkir teh untuk istrinya.
"Aku minum ya?" kata Annisa sambil menyeruput teh buatan suaminya. Sesaat kemudian dia menyemburkan teh yang dia minum.
"Kenapa? Panas ya?" tanya Abi. Annisa menggeleng.
__ADS_1
Kira-kira kenapa ya? Apa tehnya nggak enak?
💛💛💛💛