Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Janda lebih menggoda


__ADS_3

Usai pulang dari mengajar di kelas bimbel, Annisa menyempatkan diri untuk mampir ke kafe miliknya.


"Assalamualaikum, Mbak Rosmala," sapa Annisa dengan sopan pada pegawainya.


"Waalaikumsalam, Mbak Annisa akhirnya mbak datang juga. Kami mau melapor kalau pendapatan akhir-akhir ini menurun, Mbak."


Annisa tidak memperhatikan ucapan Rosmala tapi dia melihat ke arah laki-laki yang sedang duduk memunggungi dirinya. "Pak Raka," gumam Annisa. Suara Annisa dapat didengar oleh pemilik nama tersebut. Raka pun menoleh.


"Kamu mengikuti saya?" tuduh Raka. Annisa memutar bola matanya jengah.


"Jangan salah paham, Pak."


"Mbak, sebaiknya kita bicara di dalam," ajak Rosmala. Annisa mengangguk setuju kemudian dia meninggalkan dosennya yang menyebalkan itu.


Raka yang penasaran pun bertanya pada salah seorang pegawai laki-laki yang sedang membersihkan meja. "Siapa wanita yang baru saja masuk itu?" tunjuk Raka.


"Dia pemilik kafe ini, dulu beliau mengelola kafe ini bersama suaminya." Raka terkejut ketika mendengar fakta kalau Annisa sudah memiliki suami.


"Lantas di mana suaminya?" tanya Raka.

__ADS_1


"Pak Abi sudah meninggal kurang lebih setengah tahun yang lalu tapi penyebabnya saya kurang tahu," jawab pegawai tersebut. Raka merasa kasihan pada Annisa.


Raka sengaja menunggu Annisa sampai keluar dari ruangan itu. Tapi dia menunggu di parkiran. Ketika Annisa keluar, Raka menghampiri. "Mau pulang bareng?" Raka menawarkan tumpangan.


"Ah, tidak usah, Pak. Saya bisa naik ojek," tolak Annisa.


"Kamu bisa hemat uang dengan menumpang di mobil saya." Raka menarik tangan Annisa dan memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Rumah kamu di mana?" tanya Annisa. Wanita itu tidak menjawab.


"Pak, tolong jangan paksa saya pulang bareng sama bapak."


"Terima kasih banyak, tapi saya harap lain kali bapak tidak usah merepotkan diri untuk mengantar saya," ucap Annisa sebelum turun.


"Kalaupun saya diminta mengantar jemput kamu setiap hari saya tidak masalah." Annisa memicingkan mata ketika mendengar ucapan Raka.


"Saya masuk dulu, Pak. Hati-hati di jalan."


"Sekhawatir itukah kamu denganku?" Raka memang laki-laki yang menyebalkan. Selain dia suka menjawab dia juga suka membuat orang lain jengkel dengan ucapannya.

__ADS_1


***


"Annisa kamu dicari sama Pak Raka," ujar salah satu mahasiswi yang sengaja menghampiri Annisa.


Annisa menutup buku dengan kasar. "Kenapa lagi sih? Bukannya aku sudah mengumpulkan tugas dari dia ya," gerutu Annisa.


"Ada apa, Pak?" tanya Annisa ketika dia menghadap Raka.


"Annisa tolong fotocopy data mahasiswa ini lalu serahkan pada saya!" perintah Raka pada Annisa.


"Baik, Pak," jawab Annisa.


Annisa mengambil satu bendel kertas yang ada di meja Raka. "Fotokopi sepuluh kali per lembar," imbuh Raka. Annisa membelalakkan mata. Dia mengepalkan tangan seakan ingin meninju dosen gila itu.


"Nggak kira-kira banget kalau nyuruh orang," gumam Annisa ketika keluar dari ruangan Raka.


Annisa berjalan sempoyongan. Dia hampir saja membuang kertas yang ada di tangannya. Beruntung Raka menangkap pinggang Annisa. Keduanya saling menatap satu sama lain. "Lain kali kalau jalan hati-hati," ucap Raka masih dalam posisi memegang pinggang Annisa.


"Eh, maaf, Pak." Annisa merasa canggung. "Oh iya ini sudah saya fotokopi semua." Annisa menyerahkan tumpukan kertas itu pada dosennya. Raka mengulas senyum tipis.

__ADS_1


"Janda lebih menggoda," gumam Raka menatap punggung Annisa yang semakin menjauh.


__ADS_2