Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Menyadarkan Abi


__ADS_3

Mama Safa mengajak Annisa keluar kota. Namun, sebelumnya dia memeriksakan kandungan Annisa ke David sebelum naik ke pesawat. "Bagaimana apakah boleh naik pesawat?" tanya Mama Safa.


"Belum boleh, mengingat kondisi Annisa yang mudah drop kapan saja." David mengeluarkan larangan.


"Ya sudah terima kasih telah memeriksa menantuku. Salam buat keluargamu di rumah. Kami pulang dulu," pamit Mama Safa.


"Ma, Om David itu dengar-dengar dapat kakaknya papa ya?" tanya Annisa. Mama Safa mengangguk.


"Iya," jawab Mama Safa tanpa ragu.


"Aku jadi tidak mengerti, Ma."


"Sebenarnya om David bukan saudara kandung mama. Dia adalah anak papa dari istrinya yang lain. Jadi kami satu ayah beda ibu," jawab Mama Safa.


Mereka berjalan perlahan sambil mengobrol. "Lalu bagaimana reaksi keluarga saat itu? Ketika kalian satu besan."


"Awalnya keluarga papamu menentang pernikahan David dan tantemu. Tapi setelah kakekmu menjelaskan asal usul Om David maka orang tua tantemu mengizinkan mereka menikah. Asal kamu tahu saja orang tua papa Zidan memang keras. Awal mama menikah dengan papanya Abi juga ditentang karena status mama yang janda saat itu."


"Jadi Kak Willa dan Mas Abi beda ayah ya Ma?" tanya Annisa saat menarik kesimpulan. Mama Safa mengangguk.


"Wah, rumit juga ya, Ma."

__ADS_1


"Iya, jodoh tidak ada yang tahu sampai kapan? Tapi mama berharap kamu dan Abi bisa bersama selamanya. Mama mohon bersabarlah menghadapi Abi. Mama terlalu memanjakan dia sehingga dia gampang sekali merajuk."


"Iya, Ma. Annisa janji akan selalu sabar menghadapi Mas Abi," jawab Annisa dengan tulus.


Mama Safa merasa beruntung mendapatkan menantu seperti Annisa. Maka dia pun tak rela kehilangan Annisa hanya karena ulah Abizar.


Usai mengantar Annisa kembali ke rumah, Mama Safa pergi ke bandara menuju ke alamat tempat Abizar tinggal saat ini. Dia baru mengabari suaminya ketika dia sudah sampai di sana. Karena kalau dia bilang pada suaminya lebih dulu, Zidan pasti tidak akan mengizinkan.


Setelah turun dari bandara, Mama Safa langsung menuju ke kantor Abizar dengan menaiki taksi online. Hanya butuh satu jam dari bandara untuk sampai di tempat Abizar.


Mama Safa berjalan dengan langkah cepat. Semua karyawan heran karena ada seorang wanita yang masuk tanpa meminta izin pada petugas resepsionis.


Edo pun belum pernah bertemu dengan istri atasannya itu sehingga dia mengira wanita paruh baya itu ingin membuat keributan. "Maaf, Anda tidak boleh masuk sembarangan." Edo menghadang Mama Safa di depan pintu ruangan Abi.


Mendengar kegaduhan yang ada di luar, Abizar pun keluar dari ruangannya. "Ada apa ini?" tanya Abizar.


Mama Safa langsung menjewer telinga putranya itu. "Ma, ya ampun ma lepasin. Malu dilihat sama karyawan yang lain."


Mendengar Abizar menyebut kata mama Edo jadi terkejut. Dia pun meras tidak enak pada wanita itu karena telah melarangnya masuk.


Mama Safa pun akhirnya membawa Abizar masuk tanpa melepas tangannya. "Ma, lepasin!" pinta Abizar yang sudah merasa kesakitan.

__ADS_1


Mama Safa melepasnya. "Kamu pantas mendapatkan itu. Tega ya kamu mengabaikan mantu kesayangan mama. Kamu nggak suka kalau Annisa hamil?"


"Tapi apa benar itu anakku? Aku pernah melihat Annisa berpelukan dengan pria lain, Ma."


"Kapan? Di mana?" tanya Mama Safa yang masih dalam keadaan emosi.


"Waktu itu aku sengaja menyempatkan waktu pulang. Aku melihat Annisa digendong oleh laki-laki."


"Kamu lihatnya sekilas? Bisa saja saat itu dia sedang menolong Annisa yang sedang terjatuh jadi mereka tak sengaja berpelukan. Apa kamu pernah mikir sampai sana?" Abizar menggeleng.


"Abi, mama mohon bersikap baiklah pada Annisa. Dia itu wanita yang baik. Kamu tidak lupa kan kalau dia yang menemani kamu dari 0? Apa kamu lupa bagaimana sabarnya dia menjalani rumah tangga kalian? Kalau itu mama pasti sudah lari karena mama nggak mau menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak mama kenal. Udah gitu miskin lagi, ingat nggak kamu? Sekarang mana balasan kamu ke dia?" Mama Safa menceramahi anaknya panjang lebar.


Abizar berpikir sejenak untuk merenungkan ucapan ibunya. "Maafkan aku, Ma."


"Minta maaflah pada istrimu. Selesaikan pekerjaan di sini lalu pulang. Annisa membutuhkan seorang suami yang siaga. Ingat pesan mama. Penyesalan itu datangnya di akhir."


Mama Safa keluar dari ruangan Abizar. Edo menunduk hormat ketika berpapasan dengan Ibunda Abi.


Abizar keluar untuk menemui Edo. "Sudah berapa persen progres proyek kita?" tanya Abizar pada Edo.


"Tujuh puluh persen, Bos."

__ADS_1


"Masih lama, kamu atur jadwal agar saya bisa pulang ke rumah saya. Istriku sedang hamil aku ingin menemuinya walau sekali," ucap Abi.


"Baik, Bos. Laksanakan."


__ADS_2