
Pagi-pagi sekali Raka menjemput Annisa di rumahnya. "Raka, apa kamu sudah sarapan?" tanya Pak Hanafi.
"Belum, Pak," jawab Raka dengan jujur.
Pak Hanafi terkekeh. "Rupanya kamu terlalu antusias sampai kamu lupa untuk sarapan. Makanlah bersama kami!" ajak Pak Hanafi. Raka mengangguk.
Sementara itu Bu Fatimah memanggil Annisa yang sedang bersiap. "Annisa, kamu sudah ditunggu Raka di luar," ucap Bu Fatimah memberi tahu anaknya dari luar kamar.
Annisa yang sedang memakai lipstik jadi ke mana-mana karena terkejut. "Raka sialan." Annisa pun menghapus lipstiknya yang ada di pipi. Malah saking kesalnya, Annisa menghapus bedak yang dia pakai.
"Menyebalkan. Begini lebih baik. Biar dia malu punya cewek jelek kaya aku," ucap Annisa. Dia pun keluar menemui Raka.
"Annisa wajah kamu kenapa?" tanya Bu Fatimah. Dia terlihat pucat karena tidak memakai bedak dan lipstik. Biasanya Annisa memoleskan lipgloss agar bibirnya tidak pucat. Kulitnya yang putih membuat wajahnya terlihat pucat jika tidak diimbangi dengan bedak dengan warna yang sedikit gelap dari warna kulitnya.
Annisa mencium Dennis sebelum berangkat. "Bunda pergi dulu ya, Sayang," pamit Annisa.
Setelah itu Raka mengikuti Annisa keluar. Namun, sebelumnya dia juga berpamitan pada orang tua Annisa.
__ADS_1
Sepanjang jalan, Annisa hanya terdiam. "Kamu sakit gigi?" ledek Raka. Annisa memicingkan mata.
"Kenapa Bapak mau dijodohkan sama saya?" tanya Annisa.
"Karena saya suka sama kamu," jawab Raka dengan entengnya. Annisa membelalakkan mata ketika mendengar pengakuan Raka.
"Hish, dasar tukang tipu!" umpat Annisa dengan suara lirih.
"Bapak sengaja kan mengambil kesempatan untuk menyiksa saya?" tuduh Annisa.
Raka menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Kemudian dia meraih dagu Annisa dan menciumnya secara paksa. Annisa terkejut. Dia mendorong Raka. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan Raka. Annisa meneteskan air mata.
Annisa memalingkan wajah ke arah jendela. Dia merutuki nasibnya yang buruk. 'Mas Abi, aku kangen kamu,' gumam Annisa yang merindukan almarhum suaminya.
Setibanya di kampus, Annisa segera turun dari mobil Raka. Namun, dia menutup wajahnya saat keluar dari mobil tersebut agar tidak ada yang bertanya soal kedekatannya dengan Raka.
"Lho itu kan Annisa," gumam Tiara yang melihat Annisa keluar dengan terburu-buru dari mobil dosennya.
__ADS_1
Tiara yang penasaran pun menghampiri Annisa. "Pagi, Nis," sapa Tiara.
"Eh, Tiara. Pagi juga," jawab Annisa.
"Kamu berangkat bareng Pak Raka?" tanya Tiara. Annisa bingung ingin menjawab apa.
"Kamu jangan salah paham. Tadi kebetulan aku ketemu Pak Raka di jalan jadi dia berbaik hati menawarkan tumpangan," terang Annisa. Dia terpaksa berbohong.
"Bukan begitu ceritanya," sangkal Raka yang tengah berdiri di belakang Annisa. Annisa menoleh. Dia memberikan kode pada Raka agar tidak memberi tahu bahwa dia sengaja menjemputnya.
"Lalu bagaimana ceritanya, Pak?" goda Tiara.
"Kamu nggak perlu tahu. Annisa, ikut saya ke ruangan dosen!" perintah Raka pada Annisa. Annisa meluruhkan bahu. Dia menduga kalau Raka akan menyiksanya lagi. Dia berjalan gontai di belakang Raka.
"Ada perlu apa, Pak? Kali ini apa yang harus saya kerjakan?" tanya Annisa dengan nada pasrah.
Raka mengulas senyum tipis lalu mendekati Annisa. "Bisakah kita pacaran mulai hari ini?" Annisa menatap ke dalam mata Raka. Begitu pun dengan Raka. Dia menatap manik mata yang indah itu.
__ADS_1
Apakah Annisa menerima Raka sebagai pasangannya?