Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Titip Dennis


__ADS_3

Keesokan harinya Raka menjemput Annisa di rumahnya. Raka memberi saran agar Dennis dititipkan pada ibunya. "Apa kalian sudah siap?" tanya Raka. Annisa mengangguk.


"Mas, apa tidak apa-apa menitipkan Dennis pada ibumu?" tanya Annisa. Raka merasa senang karena panggilan dari Annisa berubah.


"Tidak apa-apa. Ibuku baik dia akan menjaga Dennis dengan baik." Annisa mengangguk percaya. Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil.


Dennis tidur di pangkuan Annisa. Anak kecil itu tertidur lagi setelah dimandikan. "Anakmu itu usianya sekarang berapa bulan?" tanya Raka berbasa-basi.


"Hampir setahun," jawab Annisa.


"Apakah dalam setahun ini kamu mengalami kesulitan mengasuhnya seorang diri?" tanya Raka tiba-tiba bertanya dengan serius.


Annisa tersenyum kecut. "Aku tidak menganggap Dennis sebagai beban jadi aku akan melakukan yang terbaik untuknya. Walaupun aku berjuang seorang diri," jawab Annisa. Setelah itu dia mengecup kening Dennis. Raka bisa melihat kesedihan melalui kata-kata yang keluar dari mulut Annisa.


Siapa pun bisa membayangkan betapa beratnya menjalani hidup tanpa pasangan. Apalagi jika sudah memiliki anak. Pastilah sulit menjalani kehidupan sebagai single parent. Raka salut pada Annisa. Dia terlihat ikhlas menjalani semuanya. Bahkan dia tidak pernah mengeluh sedikitpun walau ditinggal pergi sang suami.


"Tidak inginkah kamu berbagi beban pada orang lain?" tanya Raka. Annisa menoleh.


"Berbagi beban? Mana ada yang mau menanggung beban. Aku tahu maksud pembicaramu, Mas. Namun, untuk saat ini aku belum bisa membuka hati."

__ADS_1


Raka mengerti kalau Annisa belum terbiasa dengannya. Raka berjanji pada dirinya dia tidak akan memaksa Annisa lagi. "Kamu salah paham. Aku tidak mengharap kamu menikah denganku hanya saja aku kasian padamu karena harus bekerja keras mencukupi kebutuhan kalian."


"Aku mendapatkan penghasilan dari mengajar dan kafe yang aku kelola bersama almarhum suamiku dulu. Bagiku itu lebih dari cukup untuk kami berdua. Saat itu kami miskin. Kami membangun usaha dari nol. Mas Abi orang yang pantang menyerah. Aku ingat dia pernah menjadi kuli hanya karena tidak mau menganggur selama menunggu panggilan kerja."


Raka hanya mendengar tapi dia tidak berniat menanggapi. Raka merasa cemburu tapi dia menahan diri. "Apa yang membuatmu begitu mencintai almarhum suamimu?" tanya Raka.


"Kerja kerasnya. Dia tidak pernah mengeluh ketika dia mengalami kesulitan. Dia pun tidak pernah mengeluh sakit kenapa dia tiba-tiba meninggalkan aku dan Dennis?" Annisa menangis sesenggukan.


"Semua sudah jadi ketetapan Allah. Kamu yang sabar." Raka memberikan nasehat.


Setibanya di rumah Raka, Annisa turun dari mobil. "Aku akan panggilkan ibu. Kamu tunggu di sini! Annisa mengangguk paham.


Sesaat kemudian seorang wanita paruh baya keluar bersama Raka. "Annisa tinggalkan saja Dennis pada mama."


"Jangan sungkan sebentar lagi kamu akan jadi menantu kami. Dennis juga akan menjadi cucuku. Aku akan menyayangi dia dengan sepenuh hati." Annisa merasa terharu. Namun, dia berharap ucapan mamanya Raka tidak hanya terucap di bibir saja.


"Kalau begitu kami berangkat ke kampus dulu, Ma," pamit Raka.


"Hati-hati," pesan mamanya Raka. Annisa menyalami tangan calon mertuanya itu lalu tak lupa mencium pipi putranya.

__ADS_1


Annisa dengan berat hati meninggalkan Dennis dengan orang yang masih asing baginya. Meskipun dia adalah orang tua Raka. "Kamu jangan cemas! Ibuku menyukai anak-anak. Dia tidak akan menelantarkan Dennis," ucap Raka.


Setibanya di kampus, Annisa turun dari mobil Raka. Kali ini dia hanya diam ketika bertemu Tiara. "Jelasin ke gue kenapa lo bisa naik mobilnya Pak Raka?" tanya Tiara dengan kasar hingga dia mendorong tubuh Annisa. Annisa tidak bisa menjaga keseimbangannya. Dia hampir saja terjatuh jika Raka tidak berada di sana.


"Annisa, kamu tidak apa-apa?" tanya Raka. Annisa menggeleng.


"Tiara apa yang sedang kamu?" tanya Raka.


"Dia berlebihan. Saya tidak mendorong dia. Dia hanya berpura-pura terjatuh, Pak." Tiara meminta dukungan dari Raka. Dia berharap Raka mempercayai dirinya.


"Saya berharap kamu tidak menggangu Annisa lagi. Dia adalah calon istri saya." Raka mempertegas ucapannya. Dia merangkul bahu Annisa dan membawanya pergi.


"Mas, lepasin. Jangan membuatku kesulitan."


"Kesulitan bagaimana? Aku menolongmu."


"Tidak, kamu menciptakan musuh untukku. Setelah kamu memarahinya dia tidak akan tinggal diam." Annisa khawatir jika Tiara tidak terima dan malah melampiaskan kemarahannya pada dirinya.


Annisa berjalan meninggalkan Raka. "Dasar cewek tidak tahu terima kasih. Lihat saja aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu Annisa," gumam Raka menatap punggung Annisa yang semakin menjauh.

__ADS_1


Annisa masuk ke dalam perpustakaan dan menyibukkan diri di sana. Akan tetapi pikirannya melayang ke rumah Raka. "Dennis lagi apa ya sekarang?" gumam Annisa sambil menatap foto anaknya yang dijadikan wallpaper handphonenya.


Tiara melihat Annisa memandangi foto anak kecil. Dia pun akhirnya mencari tahu. Tiara baru tahu setelah membaca informasi yang diberikan oleh orang suruhannya. "Janda beranak satu." Tiara tersenyum licik.


__ADS_2