
Ketika di pasar, Abi tak sengaja melihat copet yang akan mengambil dompet seorang ibu-ibu di pasar tersebut. Abi pun mengikuti copet itu dari belakang. Setelah dia berhasil mengambil dompet, pencopet itu berniat kabur. Sayang, langkahnya tertahan karena Abizar menghadangnya.
"Kembalikan dompet ibu itu!" perintah Abi.
"Hei, jangan asal nuduh ya lo!" elak pencopet tersebut.
Abi ingin meraih dompet itu tapi dia takut si pencopet malah diteriaki maling. "Bu." Abi memanggil wanita di depannya.
Wanita itu menoleh. "Eh Mas Abi." Ternyata wanita itu tetangganya, Bu Rohmah.
'Sial. Annisa bisa tahu pekerjaan aku kalau begini.' Abi benar-benar kesal pada nasibnya.
Tak lama kemudian pencopet itu melarikan diri. "Sial, sial, sial." Abi mengejarnya. Dia akan memikirkan cara agar bisa membungkam mulut Bu Rohmah nanti.
Abi menarik bahu laki-laki itu lalu memukulnya. Orang-orang yang melihat berteriak histeris. "Gue cuma mau ambil ini." Abi mengambil dompet milik Bu Rohmah. Setelah itu dia membiarkan pencopet itu pergi.
Sayangnya, pencopet itu malah mengambil sesuatu agar bisa digunakan untuk memukul Abi. Beruntung ada seseorang yang memberi tahu Abi jadi dia bisa menghindar.
Bu Rohmah mendekat ke kerumunan. Dia pun memberanikan diri untuk memukul pencopet itu ketika Abi memutar lengannya ke belakang. "Kamu ini. Cari kerja yang halal sana. Kamu pikir uang ini aku ambil dari dompet orang lain?" sindir Bu Rohmah.
Abi menyerahkan pencopet itu pada petugas keamanan pasar. "Mas Abi makasih banyak ya." Abi merasa serba salah.
"Bu, bisa kita bicara sebentar?"
"Tapi saya mau belanja, Mas," tolak Bu Rohmah.
"Saya mohon! Hanya sebentar saja!" paksa Abi. Bu Rohmah akhirnya menurut.
"Tolong jangan bilang pada Annisa kalau kita bertemu di sini," perintah Abizar.
"Tapi kenapa Mas Abi tidak jujur kalau selama ini Mas Abi kerja di pasar?" tanya Bu Rohmah.
"Saya hanya tidak ingin Annisa merasa sedih jika melihat nasib buruk saya. Saya malu karena belum bisa memberinya banyak uang. Saya takut jika dia tahu pekerjaan saya ini dia akan menjauhi saya, Bu."
Bu Rohmah tampak berpikir. "Baiklah, Mas Abi. Karena Mas Abi telah menolong saya. Saya juga akan menolong Mas Abi."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Bu." Abi merasa lega. Dia hanya berharap Bu Rohmah tidak mengingkari janjinya.
Di tempat lain, Annisa sedang sibuk membuat pesanan jus dan sup buah yang semakin hari semakin ramai. Tiba-tiba dia teringat pada wanita yang menjual rujak waktu itu. "Aku butuh seseorang untuk membantuku."
Annisa pun pergi mencari tempat tinggal wanita yang dimaksud. Setelah bertanya-tanya dia akhirnya menemukan rumah wanita bernama Rosmala itu. "Assalamualaikum," teriak Annisa.
Tak lama kemudian Rosmala sendiri yang membukakan pintu. "Waalaikumsalam. Mbak cari siapa?" tanya Rosmala.
"Saya cari, Mbak," jawab Annisa.
"Cari saya? Ada urusan apa ya?" tanya Rosmala bingung.
"Mbak, saya mau ajakin mbak kerja sama saya. Jaga warung jus. Kebetulan saya butuh seorang karyawan untuk membantu saya. Apa mbak mau?" tanya Annisa.
Rosmala berpikir sejenak. "Saya mau, Mbak. Tapi apa saya boleh membawa anak saya?" tanya Rosmala.
"Tentu saja boleh. Kalau perlu kita tambah menu di warung saya dengan rujak buatan Mbak." Rosmala mengangguk setuju.
Setelah urusannya selesai Annisa pulang dengan berjalan kaki. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Annisa pun terkejut. Kemudian seorang laki-laki yang dia temui turun dari mobil itu.
"Hai," sapa Raihan.
"Tunggu!" Raihan mengejar Annisa.
Annisa menghentikan langkahnya ketika Raihan mengikuti dirinya. "Mas, masnya yang ketemu di mini market kemaren bukan?" Raihan mengangguk sambil menampakkan deretan gigi putihnya.
"Bukannya saya udah bilang kalau saya ini udah punya suami? Kenapa Mas masih ngejar-ngejar saya?" tanya Annisa.
"Aku tidak percaya gadis semuda kamu sudah menikah? Kalau udah nikah mana suami kamu? Mana?" tantang Raihan.
Annisa melihat jam yang ada di handphonenya. Seharusnya Abi jam segini sudah pulang. Benar saja, Annisa tersenyum ketika melihat suaminya dari kejauhan. "Mas Abi," teriak Annisa bersemangat sambil melambaikan tangan.
Raihan menoleh. Dia terkejut ketika melihat wajah Abizar. Ya, Raihan adalah musuh Abi. Mereka pernah memperebutkan Cintya. Akankah kali ini Raihan dan Abizar akan melakukan hal yang sama dengan memperebutkan Annisa?
Abizar menatap tidak suka pada Raihan. Raihan mengepalkan tangan ketika mengetahui ternyata Annisa adalah istri Abizar.
__ADS_1
"Dasar pengkhianat! Rupanya kamu meninggalkan Cintya setelah kamu berhasil merebutnya dariku?" tuduh Raihan.
Abizar tersenyum miring. "Cintya bukan jodohku. Bahkan ketika dia mengetahui aku jatuh miskin, dia yang meninggalkan aku."
"Lalu kamu dengan mudahnya berpindah hati? Dasar laki-laki serakah!" umpat Raihan.
Abizar mencengkeram kerah baju Raihan. "Jaga mulut kamu! Aku dan Annisa menikah karena dijodohkan. Jadi jangan menuduh sembarangan."
Annisa merasa kecewa karena mendengar kata-kata Abizar yang seolah belum menerima pernikahan ini. Annisa hanya pasrah ketika Abi menarik tangannya agar dia menjauh dari Raihan.
"Dari mana kamu mengenal Raihan?" tanya Abi dengan nada tinggi.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan dia di mini market," jawab Annisa sambil menunduk.
"Jauhi dia!" perintah Abizar pada istrinya.
"Kenapa, Mas?" tanya Annisa.
"Karena kamu sudah jadi istriku," jawab Abizar.
"Tapi bukannya Mas Abi tidak bisa menerima pernikahan ini?" Annisa sudah berderai air mata. Ini pertama kalinya mereka bertengkar sejak menikah.
"Siapa yang tidak mengakui kamu sebagai istriku? Apa perlu aku mengumumkan ke semua orang kalau kamu istriku? Atau aku perlu memasang tulisan di belakang punggungmu. 'Sudah ada yang punya'
Annisa tertawa sambil menangis. Abizar pun memeluk istrinya agar lebih tenang. Dia menyandarkan dagunya di kepala Annisa. "Maaf, aku tidak bermaksud memarahaimu. Aku hanya tidak suka kamu dekat-dekat dengan lelaki lain," ungkapnya.
Annisa membalas pelukan suaminya. "Bilang saja cemburu!" ucap Annisa di sela-sela tangisannya.
Abizar terkekeh. "Terserah apa istilahnya. Yang jelas kamu sudah jadi milikku. Tidak boleh ada laki-laki lain yang mendekati kamu."
"Milik Mas Abi?" tanya Annisa mendongak. Tatapannya bertemu dengan tatapan suaminya. Mereka saling menatap dalam diam hingga entah kapan bibir mereka kembali menempel.
Cukup lama mereka berciuman. Abi melepas pagutannya terlebih dulu. "Maaf aku belum siap memberikan nafkah batin untukmu," ucap Abi dengan penuh penyesalan.
Dada Annisa terasa sesak ketika mendapatkan penolakan dari suaminya. "Tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai Mas Abi siap."
__ADS_1
Abizar kembali memeluk istrinya. Diam-diam Annisa meneteskan air mata dalam pelukan suaminya.
Selamanya adalah waktu yang lama, tapi aku tidak keberatan menghabiskannya di sisimu. (Annisa)