
"Apa pintunya sudah dikunci?" tanya Annisa. Raka pun mengulum senyum. Dia sudah mendapatkan kode dari istrinya itu. Sesaat Raka melepas pelukannya dan berjalan mendekat ke arah pintu.
Ingin sekali dia berjingkrak. Tapi dia coba menahan diri. Setelah Raka memastikan pintunya terkunci, dia menoleh ke arah istrinya. "Sudah aman," lapor Raka pada Annisa.
Setelah itu dia berjalan mendekat kembali ke sisi ranjang. Raka berjalan setenang mungkin padahal di dalam hatinya dia sangat gugup. Tentu saja karena ini pertama kalinya Raka saat akan melakukan hubungan suami istri.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Raka pada istrinya. Annisa mengangguk malu-malu.
Raka mengusap pipi istrinya dengan lembut. Lalu tangannya beralih menyentuh dagu Annisa. Dia memberikan kecupan singkat di sana. "Teim kasih Annisa sudah menjadi istriku." Sofia tersenyum.
Raka pun membalas senyum Annisa. Lalu tatapan mereka terkunci hingga tanpa sadar keduanya saling menyentuh dalam damba. Raka mengecap bibir Annisa dengan lembut. Bahkan sangat lembut. Annisa hanya menerima tanpa membalas, Raka memakluminya mungkin Annisa sangat malu karena ini pertama kali mereka berhubungan badan.
Tahap demi tahap mereka lakukan tanpa terburu-buru. Raka dan Annisa benar-benar memanfaatkan malam ini dengan sebaik-baiknya. Sebenarnya di dalam hati Annisa masih ada yang mengganjal saat dia berhubungan badan dengan Raka. Dia merasa bersalah pda Abi, tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Raka sebab laki-laki itu saat ini sudah sah menjadi suaminya.
Annisa menerima setiap sentuhan Raka. Dia rasanya lepas kendali ketika Raka mulai bermain di bagian intinya. "Jangan ditahan sayang, lepaskan saja." Annisa merespon dengan anggukan kepala.
Mata Annisa terpejam menikmati permainan suaminya. Raka sungguh membuat dirinya melambung tinggi. Meskipun Raka pemain baru tapi insting laki-lakinya begitu kuat. Dia melakukan semuanya sesuai nalurinya. Annisa pun terlena hingga wanita itu menginginkan lebih.
Raka melakukan penyatuan dengan hati-hati. "Aku sangat mencintaimu Annisa." Annisa mengangguk sambil meneteskan air mata. Saat itu dia merasa sangat bersalah seolah telah mengkhianati almarhum suaminya. Raka yang pengertian kemudian menggenggam erat jemari sang istri. Dia mengira Annisa menangis karena merasa sakit di bagian intinya. Raka juga mendaratkan ciuman ke bibir Annisa untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Apa sakit sekali?" tanya Raka. Pria itu masih berada di atas tubuh Annisa.
"Tidak," jawab Annisa dengan jujur. Raka mengira istrinya berbohong. Dia pun tersenyum nakal. "Apa boleh kita lakukan sekali lagi?" Raka ingin sekali melihat reaksi Annisa.
Raka memeluknya dari samping. "Mas, lepasin ah. Aku mau ke kamar mandi," tolak Annisa sambil menyingkirkan tangan Raka.
Perempuan itu beranjak dari atas ranjang. Dia menggulung selimut ke badannya. Lalu berjalan dengan tertatih. "Apa perlu aku bantu?" tanya Raka.
"Nggak usah," tolak Annisa.
Tiba-tiba Raka berdiri lalu mengangkat tubuh istrinya. "Mas, turunin nggak?" pinta wanita itu.
__ADS_1
"Nggak usah malu. Bagaimana kalau kita lanjutkan di kamar mandi?" usul Raka tapi Annisa berontak.
"Mas turunin!"
"Nggak mau." Annisa akhirnya pasrah lalu dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Raka benar-benar mengajaknya bergulat di kamar mandi.
Keesokan harinya Raka masih tertidur setelah melakukan adegan panas dengan Annisa. Memang ini bukan yang pertama kalinya bagi Annisa berhubungan suami istri. Namun, semalam adalah pertama kalinya dia melakukannya dengan Raka, suami keduanya.
Raka melihat suaminya masih terlelap. Dia memandang wajah tampan itu dari dekat sambil senyum-senyum sendiri.
"Sudah puas memandangku?" sontak suara Raka membuat Annisa gelagapan. Dia cepat-cepat berdiri tapi tangan Raka lebih dulu meraih tangan ramping milik Annisa hingga ia terjatuh di atas dada bidang Raka.
"Lepaskan Mas! Aku mau mandi," kata Annisa.
"Sebentar saja," goda Raka sambil menatap mata Annisa. Sejenak pandangan mereka terkunci. Jantung Annisa berdegub kencang. Wajahnya mulai memerah karena malu.
"Kenapa wajahmu merah, Sayang?" tanya sang suami.
"Di sini gerah apa AC nya mati?" Annisa mengibas-ngibaskan tangannya karena gugup.
Tok tok tok
Suara ketukan itu terdengar dari luar. Annisa melepaskan pagutannya. Dia pun berdiri dan menyambar kerudung yang ada di atas kursi.
"Siapa?" tanya Annisa dengan berteriak.
"Ini mama, Nak. Dennis menangis mencarimu. Bisakah kamu keluar sebentar?" teriak Mama Rahmi.
"Baiklah, Ma. Aku akan segera keluar."
"Eh, aku belum mandi. Mas tolong ajak Dennis masuk ke dalam kamar. Bilang saja sama mama kalau aku sedang mandi."
__ADS_1
"Baiklah, ayo!" Raka lompat dari ranjang.
"Ayo kemana?" tanya Annisa seraya mengerutkan keningnya.
"Ke kamar mandi," ucap Raka di depan wajah Annisa hingga hembusan hangat nafasnya begitu terasa.
"Aku duluan, kamu belakangan," kata Annisa dengan mendorong tubuh Raka sampai suaminya itu terhuyung ke belakang.
"Sayang, kenapa kita tidak mandi bersama saja, pasti akan lebih menyenangkan." Raka sudah membayangkan hal-hal mesum bersama istrinya itu.
"Tidak, aku sudah besar bisa mandi sendiri." Annisa berlari ke kamar mandi kemudian mengunci pintunya agar Raka tidak bisa masuk.
Raka terkekeh saat melihat tingkah Annisa yang seperti anak kecil. Ia membiarkan istrinya itu masuk setelah puas menggodanya. Raka keluar untuk mengambil Dennis dari gendongan ibunya.
"Sudah siang. Ngapian saja kalian?" protes Bu Rahmi.
"Maaf, Ma. Sini, Nak. Sama papa dulu ya. Bunda sedang mandi," ucap Raka sambil mengambil gendongan anaknya dari tangan sang nenek.
Raka mengajak Dennis bermain di atas ranjangnya. Dennis tertawa terpingkal-pingkal saat Raka menggelitiknya. Tak lama kemudian Annisa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian lengkap.
"Lho kok sudah pakai baju aja sih?" goda Raka. Annisa menatap tajam ke arah suaminya.
"Mas Raka mandi sana!"
"Papa mandi dulu ya, Dennis," pamit Raka pada anak sambungnya itu. "Papa akan bikinin kamu adik secepatnya." Ucapan Raka didengar oleh Annisa meskipun dia berkata sangat pelan pada Dennis. Annisa langsung melempar bantal padanya.
"Jangan ngomong jorok di depan anak kecil!" bentak Annisa. Raka hanya terkekeh mendapatkan kemarahan istrinya itu.
"Kamu kalau marah lebih cantik, Nis," ledek Raka sambil menutup pintu. Wajah Annisa bersemu merah.
"Jangan dengarkan apa-apa ya, Sayang," ucapnya pada anak kecil yang belum mengerti apa-apa itu. Dennis hanya menanggapi dengan tawa.
__ADS_1
Apakah sesuai ekspektasi kalian? Atau ada yang mengira Annisa tidak akan mau berhubungan badan dengan Raka karena masih ada bayang-bayang Abizar?
Jangan lupa komen dan like ya