
Berita tentang status Annisa yang merupakan janda beranak satu santer terdengar. Setiap orang yang melihat di kampus mencibir dirinya. "Anak diakui ponakan, emang nggak ada yang nyangka kalau dia itu udah nggak perawan.
"Perawan? Janda ya! Catet!"
"Udah nikah tapi versi kali."
Mereka menertawakan Annisa. Wanita berhijab itu mencoba menahan diri. Annisa merasa sakit hati dan tersinggung. Dia menangis di taman yang sepi. Tiba-tiba seseorang memberikan sapu tangan untuknya. "Terima kasih."
"Kenapa?" tanya Raka. Annisa menggeleng.
"Aku hanya merasa tidak pantas bersekolah di sini lagi."
"Aku dengar mereka membicarakan dirimu. Kamu tahu aku selalu berpihak padamu jadi jangan takut."
"Justru aku takut aku semakin ditindas jika tahu kita dijodohkan," balas Annisa.
Tiba-tiba Raka menarik tangan Annisa. Dia membawa Annisa ke tengah kampus. "Mulai hari ini kalian tidak boleh membicarakan Annisa di belakang. Kalau kalian mempermasalahkan statusnya yang janda. Tenang saja sebentar lagi dia akan punya suami."
Annisa tidak percaya Raka mengucapkan hal itu di depan orang ramai. Annisa memberikan kode pada Raka agar dia segera melepaskan tangannya. Namun, Raka malah mempererat pegangannya. "Mulai sekarang jangan coba-coba lari dariku. Ke manapun kamu pergi aku akan mengejar cintamu."
__ADS_1
"Apa kamu sadar? Ucapanmu bisa mempermalukan dirimu sendiri."
"Malu? Untuk apa? Aku tidak melakukan kesalahan. Apa berniat menikahimu sebuah kesalahan? Kalau iya itu pun tidak masalah. Karena kesalahan yang paling besar adalah melepaskan wanita seperti dirimu."
Annisa merasa tersentuh ketika mendengar ucapan Raka. Sampai-sampai dia melamun. "Apa aku begitu tampan sehingga kamu terpesona padaku?" goda Raka.
"Tidak, hanya ada jerawat di wajahmu," balas Annisa lalu berjalan melewati Raka. Raka terkikik ketika mendengar jawaban spontan Annisa.
Raka pun mengejar Annisa. "Ayo aku antar pulang sekalian jemput Dennis." Raka menelusupkan jari jemarinya di jari-jari lentik milik Annisa. Annisa terkejut tapi dia senang karena Raka bersikap seperti itu. Annisa memalingkan wajah agar Raka tidak menyadari kalau dirinya tengah malu.
Annisa hanya mengikuti langkah laki-laki itu. Mereka akan menuju ke kediaman orang tua Raka. Di tengah perjalanan, Annisa berpapasan dengan Anton di lampu merah. Saat itu Anton sedang mengamen di samping mobil yang dikendarai Raka.
Annisa membuka kaca jendelanya. "Bang Anton," panggil Annisa.
"Bang, tunggu!" Annisa mengejar Anton tanpa memperdulikan lampu sudah berubah merah.
Raka tidak mengerti kenapa dia mengejar pengamen itu. Raka pun mencari tempat agar dia bisa menepikan mobilnya. Setelah itu dia mengejar Annisa.
"Jangan ikuti aku!" bentak Anton.
__ADS_1
"Bang, Mas Abi sudah meninggal. Apa Bang Anton tahu?" tanya Annisa. Anton terkejut bukan main. Abi yang dia kenal pekerja keras ternyata mati dalam usia yang sangat muda.
"Apa yang kamu katakan?"
"Mas Abizar meninggal dalam perjalanan pulang dari luar kota," kata Annisa memberikan informasi.
Anton mengingat kebaikan Abi padanya. "Kenapa orang baik seperti dia malah meninggal duluan? Harusnya aku yang mati dulu karena aku tidak berguna. Maaf karena banyak menyusahkan kamu dan almarhum Abizar semasa dia hidup."
"Alhamdulillah meski terlambat Bang Anton mau mengakui kesalahan."
Sesaat kemudian Raka mendekat. "Annisa siapa dia?" tanya Raka.
"Annisa dia pacar barumu?" tanya balik Anton sedikit kesal. Anton pikir makam Abi masih basah tapi istri sahabatnya itu berani membawa pasangan lain.
"Iya aku calon suaminya," ucap Raka sambil memegang bahu Annisa. Annisa tampak tegang saat Raka berkata demikian pada orang lain.
"Tidakkah kamu menahan diri agar orang lain tidak salah paham?"
"Annisa aku kecewa padamu. Aku kira kamu setia pada Abizar ternyata kamu sama saja seperti wanita di luar sana." Annisa meneteskan air mata.
__ADS_1
"Jangan samakan aku dengan dirimu. Aku seorang wanita. Apa salah jika aku membutuhkan perlindungan?" Raka tidak menyangka Annisa akan mengakui hubungannya.
"Sebaiknya Bang Anton datang ke makam Mas Abi dan meminta maaf. Aku harap kamu tidak lupa dengan kesalahanmu dulu," ucap Annisa dengan nada dingin. Dia berjalan lebih dulu dan melewati Anton.