Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Perjodohan


__ADS_3

"Raka, ayah ingin mengenalkan kamu pada seseorang," ucap Rahman memberi tahu putranya.


"Siapa?" tanya Raka.


"Bersiaplah! Nanti malam kita akan ke sana." Raka sudah menduga ayahnya akan menjodohkan dia dengan gadis pilihannya.


Malam ini keluarga Pak Hanafi dan Bu Fatimah menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut calon besannya. Annisa sedari tadi hanya cemberut. Dia sebenarnya tidak mau dijodohkan oleh ayahnya. Namun, Pak Hanafi memaksa Annisa untuk segera menikah. Sebagai seorang ayah dia hanya kasian dengan nasib putrinya yang menjadi single parent.


Pak Hanafi berharap laki-laki yang akan dijodohkan dengan Annisa ini sebaik almarhum Abizar.


Tak lama kemudian keluarga Rahman tiba di rumah Pak Hanafi. "Selamat datang, Pak Rahman," sapa Pak Hanafi dengan ramah.


"Senang bisa berkunjung ke rumah Bapak," sambut Pak Rahman. Pak Hanafi melirik pemuda yang mengenakan kemeja batik lengan panjang itu.


"Ini anak sulung saya, Naraka Wijaya." Raka mengangguk sopan. Lalu dia mencium tangan Pak Hanafi.


"Tampan seperti kamu," bisik Pak Hanafi di telinga Rahman Wijaya. Keduanya pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Mana anak kamu?" tanya Rahman.


"Annisa," panggil Pak Hanafi. Mendengar nama Annisa disebut Raka pun menjadi penasaran. Ketika wanita yang memiliki nama itu keluar, Raka semakin yakin Annisa adalah orang yang akan dijodohkan dengan dirinya.


"Ini Annisa, anak bungsuku," ucap Pak Hanafi memperkenalkan putrinya.


Setelah itu keluarga Pak Hanafi mempersilakan keluarga Pak Rahman makan hidangan yang telah disediakan.


"Jadi sesuai kesepakatanku dan Pak Hanafi, hari ini kami bermaksud menjodohkan kalian, Raka dan Annisa," ucap Rahman yang mengarahkan pandangannya bergantian ke arah Raka dan Annisa.


"Aku tahu, tapi aku belum mengatakannya pada Raka," jawab Pak Rahman. Sesaat kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah putranya. "Jadi Raka wanita yang akan menjadi pasangan kamu ini bukan wanita biasa. Dia wanita yang luar biasa kuat karena dia harus menjadi ibu tunggal untuk anaknya yang masih bayi."


Raka terkejut. Bayi? Raka tidak tahu kalau Annisa telah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. "Annisa sudah memiliki anak?" tanya Raka.


"Sudah," jawab Annisa. Dia berdiri dan mengambil Dennis yang sedang dipangku oleh ibunya. "Ini anakku, Dennis." Annisa berharap setelah dia memperlihatkan anaknya, Raka menolak perjodohan ini.


Raka tersenyum tipis. Dia dapat membaca pikiran Annisa. Akan tetapi karena Raka sudah menyukai Annisa sejak awal jadi dia tidak mempermasalahkan statusnya. "Aku menerima perjodohan ini, Yah," ucapnya mantap pada sang ayah. Pak Rahman dan Pak Hanafi saling pandang. Mereka bahagia karena Raka tidak menolak perjodohan itu. Sedangkan Annisa malah meluruhkan bahu. Dia tidak menyangka akan dijodohkan dengan orang yang selama ini dia benci.

__ADS_1


Setelah acara selesai keluarga Pak Rahman berpamitan. "Senang bisa berbesanan dengan Anda, Pak Hanafi," ucap Pak Rahman.


"Saya juga," balas Pak Hanafi sambil memeluk Rahman Wijaya. Setelah itu dia beralih pada Raka. "Annisa termasuk wanita yang keras kepala. Jadi bapak harap kamu bisa lebih sabar menghadapi dia," pesan orang tua Annisa pada pemuda itu.


Raka mengangguk paham. "Saya akan berusaha," jawab Raka dengan yakin. Pak Hanafi menyukai kepercayaan diri Raka. Dia mengangguk setuju.


Annisa mengeluh pada ibunya. "Bu, Annisa belum siap menikah dengan Pak Raka," rengek Annisa.


"Kamu kenal sama dia?" tanya bu Fatimah. Annisa mengangguk.


"Dia itu dosen yang sering menyiksaku di kampus, Bu," ungkap Annisa. Tiba-tiba terdengar suara Pak Hanafi tertawa.


"Ternyata kalian memang jodoh. Raka belum mengetahui bahwa dia akan dijodohkan denganmu. Namun, sepertinya dia sudah naksir kamu duluan," ledek Pak Hanafi. Annisa mengerucutkan bibir.


...***...


Maaf ya aku update tidak menentu karena kesibukan real life. Jadi jangan lupa subscribe ya

__ADS_1


__ADS_2