Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Gagal mendapat kerja


__ADS_3

"Apa ini, Ma?" tanya Annisa ketika melihat amplop cokelat yabg dipegang oleh ibu mertuanya.


"Ini uang sebagai pegangan untuk mencukupi kebutuhan kalian sehari-hari," jawab Safa.


"Tidak usah, Ma. Aku nggak mau merepotkan mama," tolak Annisa karena merasa sungkan.


"Jangan begitu Annisa. Mama merasa bersalah padamu karena Abizar tidak bisa memberikan kebahagiaan berupa materi. Lihat kamu malah tinggal di rumah kontrakan sekecil ini," ucap Safa yang merasa bersedih melihat nasib anak dan menantunya.


Annisa merasa terharu. Dia bersyukur memiliki ibu mertua seperti Safa. "Terima kasih, Ma," ucap Annisa sambil menerima amplop tersebut.


Setelah itu Safa pamit. "Lain kali mama akan datang lagi ke sini. Mama usahakan sering-sering menjenguk kamu. Jaga kesehatan ya, sayang. Mama doakan kalian cepat dapat momongan." Annisa mengangguk.


"Hati-hati, Ma." Annisa melambaikan tangan. Kemudian gadis itu memasak sambil menunggu suaminya pulang.


Sementara itu Abizar yang tidak juga mendapatkan pekerjaan berhenti sejenak di sebuah warteg. Ini adalah kali pertama dia membeli makanan di warung sederhana itu.


"Mau beli apa, Mas?" tanya penjual warteg tersebut.


"Abizar melihat banyak pilihan lauk yang tersedia di etalase. Dia menunjuk beberapa lauk kemudian penjual tersebut menyiapkan pesanan Abizar.


Laki-laki itu memakan nasi yang penuh sepiring itu dengan lahap. "Mas, lapar banget ya?" tanya orang di sampingnya. Abizar hanya mengangguk. Mulutnya masih penuh dengan nasi beserta lauknya yang belum selesai dikunyah.


Setelah dia menelan makanannya barulah dia berbicara. "Saya habis nyari kerja tapi tidak ada satu pun perusahaan yang mau menerima saya," ucapnya yang diselingi sesi curhat.


"Emang lulusan apa Mas?" tanya orang itu. Abizar berpikir terlebih dulu sebelum menjawab. Orang itu pasti tidak percaya jika dia lulusan terbaik universitas.


"Lulusan SMA, Pak," jawab Abizar berbohong.


"Cari kerja sekarang memang susah kalau nggak ada koneksi orang dalam. Saya aja yang lulusan S2 hanya jadi kuli."


Abizar terheran-heran. Bagaimana bisa lulusan S2 tidak ada perusahaan yang mau menerima, pikir Abizar. "Mas kuliah di universitas mana? Apa tidak ada rekomendasi dari tempatnya kuliah dulu?" tanya Abizar dengan polosnya.


Lelaki itu tertawa terbahak-bahak. "Maksud saya lulusan SD, SMP," jawabnya menerangkan. Abizar merasa kalau dirinya lebih bodoh dari orang itu.

__ADS_1


Sesaat kemudian terbersit ide untuk menjadi kuli panggul di pasar. Dua hari gagal mendapatkan pekerjaan di banyak perusahaan membuat dirinya frustasi. Dia takut Annisa menganggap dirinya tidak becus menjadi kepala keluarga. Maka Abizar pun berpikir untuk menjadi kuli panggul.


"Mas, ajak saya bekerja!" ucap Abizar dengan mantap.


Lelaki itu terkejut. Dia memindai penampilan Abizar yang begitu rapi tapi meminta pekerjaan padanya. "Kerja apa, Mas? Saya aja kerja serabutan di pasar," jawabnya.


"Ajak saya jadi kuli panggul," jawab Abizar. Lelaki itu menyemburkan kopi yang baru saja dia teguk.


"Yang betul? Mas jangan becanda. Kerja jadi kulo panggul tuh berat lho," jawab laki-laki itu.


"Tidak apa-apa, Mas. Saya hanya ingin membawa pulang uang ke rumah. Saya malu sama istri saya kalau sampai dia tahu saya gagal mendapatkan pekerjaan," jawab Abizar dengan jujur. Dia tidak mau mengecewakan Annisa yang sudah begitu baik padanya.


"Baiklah, besok temui saya jam lima pagi di pasar seberang sana. Saya tunggu di depan." Abizar mengangguk setuju. Dia merasa senang walau jadi kuli panggul sekalipun dia tidak masalah. Asal bisa menghasilkan uang.


Setelah itu Abizar pulang ke rumah. Annisa sudah menunggu di depan rumahnya. "Alhamdulillah akhirnya Mas Abi pulang. Ayo mas masuk. Aku sudah siapkan banyak makanan untukmu." Annisa menarik tangan suaminya. Abizar hanya pasrah mengikuti langkah sang istri.


"Tara..." Annisa menunjukkan banyak makanan yang dia masak.


"Jangan terlalu boros. Kita harus berhemat!" ucapnya dengan ekspresi wajah datar. Annisa meluruhkan bahu.


Dia pun mengangkat dagu gadis berjilbab itu. "Terima kasih sudah menyediakan banyak makanan. Tapi lain kali tidak usah memasak sebanyak ini," ucap Abizar dengan lembut.


Wajah Annisa bersemu merah. Sesaat kemudian dia melepaskan diri. Annisa tidak mau perasaannya pada Abizar semakin mendalam. Dia tahu Abizar belum memiliki perasaan padanya.


"Mas, ayo makan!" Annisa menarik suaminya agar duduk.


"Aku sudah beli makanan di warteg," jawab Abizar sambil mengusap perutnya yang terlihat membuncit.


"Mana mungkin aku menghabiskan semua ini," protes Annisa.


"Ya sudah bagi saja pada tetangga depan tuh," tunjuk Abizar dengan dagunya. Setelah itu dia berlalu ke kamar. Laki-laki itu ingin membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya.


Annisa pun menuruti saran suaminya. Lagi pula selama dia tinggal di rumah kontrakan itu dia belum pernah menyapa tetangga terdekatnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bu," sapa Annisa pada dua orang wanita yang sedang mencari uban.


"Ada apa, Mbak?" tanya salah satu di antara mereka.


"Saya berniat memberikan makanan ini. Kebetulan saya masak banyak jadi mubadzir kalau saya makan sendiri," kata Annisa dengan ragu. Dia takut ibu-ibu itu menolak pemberian darinya.


"Wah rejeki nih. Sini mbak saya mau makanannya. Kebetulan jam segini saya selalu lapar," jawab wanita bernama Rohmah itu.


"Oh ya perkenalkan nama saya Annisa. Saya baru beberapa hari pindah ke sini." Annisa mengulurkan tangan.


Bu Rohmah membalas uluran tangan Annisa. "Saya Rohmah dan ini Bu Siti," jawabnya.


"Kalau begitu saya permisi, Bu," pamit Annisa.


"Lho kok buru-buru, Mbak?" tanya Bu Siti.


"Iya, suami saya baru pulang jadi saya nggak enak kalau jam segini ada di luar rumah," jawab Annisa.


"Oh ya sudah. Lain kali kalau mau main mampir saja," pesan Bu Rohmah. Annisa mengangguk.


"Wah masih muda, cantik, sopan lagi. Andai saja anak saya bisa dapat istri macam dia pasti hidup saya ade ayem, Bu." Bu Rohmah curhat pada Bu Siti.


"Emang si Ela itu bukan tipe menantu idaman Bu Rohmah?" tanya Bu Siti.


"Alah, dia itu bisanya main handphone saja. Memasak buat suaminya saja tidak pernah. Kerjanya cuma ngabisin duit ke salon tapi mukanya masih sama aja," cibir Bu Rohmah.


"Astaghfirullah, saya nggak nyangka menantu ibu sejelek itu sifatnya," jawab Bu Siti.


Sesampainya Annisa di rumah, dia tidak mendengar suara suaminya. Dia memeriksa suaminya di kamar ternyata dia sudah mendengkur. Annisa pun memilih pergi ke kamarnya.


"Sampai kapan aku jadi perawan begini?" gumam Annisa sebelum tidur. Matanya sudah sangat mengantuk sehingga dia pun memilih memejamkan matanya.


Keesokan harinya, ketika Annisa bangun untuk sholat subuh. Dia tidak melihat suaminya di kamar. "Mas, Mas Abi?" teriak Annisa memanggil sang suami tapi tidak ada jawaban. Annisa pun merasa cemas.

__ADS_1


Ketika dia duduk di ruang tamu, Annisa menemukan secarik kertas.


Kira-kira apa ya tulisannya?


__ADS_2