
Abizar pulang setelah mengosongkan jadwal hari ini. Dia mengambil penerbangan yang tercepat agar cepat sampai. Dia ingin meminta maaf pada istrinya. Abizar menaiki taksi menuju ke rumahnya. Namun, saat dia tiba di rumah, Annisa tidak ada.
"Ma, di mana Annisa?" tanya Abi pagi-pagi.Ia
"Ke rumah orang tuanya," jawab Mama Safa.
"Ngapain, Ma?" tanya Abi. Mama Safa menggedikkan bahu. "Ck, kenapa dia malah pergi?" gerutu Abizar.
"Lha kamu pulang udah ngabarin dia belum?" tanya Mama Safa.
"Belum, kan mau bikin surprise Ma," jawab Abi.
"Surprise? Kemaren-kemaren aja kamu mengabaikan telepon sama pesannya. Apa bisa dibilang surprise?" tanya Mama Safa.
"Ya sudah, Ma. Aku mau cari istriku dulu sebelum aku kembali ke sana," pamit Abi seraya mencium tangan ibundanya.
"Jadi kamu nggak menetap di sini?" tanya Mama Safa. Tapi Abi yang terburu-buru hanya melambaikan tangan.
Abizar pun mengambil mobilnya. Dia mengendarai mobil secepat mungkin agar segera sampai di rumah mertua Annisa.
__ADS_1
Sementara itu Annisa yang sudah menginap di rumah orang tuanya sejak kemaren, saat ini sedang menyiram bunga di taman depan rumahnya.
"Annisa, sudah matikan kerannya. Kita sarapan dulu," teriak Bu Fatimah memanggil anaknya.
"Baik, Bu," jawab Annisa. Saat berjalan dia tidak hati-hati sehingga kakinya tersandung batu. Untung saja hanya ujung kukunya yang luka.
Di saat yang bersamaan, mobil Abizar tiba di depan rumah orang tua Annisa. Abizar segera turun ketika melihat Annisa memegang kaki. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Abi.
Annisa malah menangis. Abizar menjadi bingung. "Apa sesakit itu?" tanya Abi dengan lembut. Annisa mengangguk. Abizar pun meniup kaki Annisa di bagian yang terluka.
Annisa tertegun melihat suaminya melakukan hal itu. "Kenapa Mas Abi selalu mengabaikan panggilanku? Bahkan tidak satupun pesan dariku yang kamu balas. Apa kamu sesibuk itu di sana sehingga tak sempat membalas pesan atau menerima panggilanku?"
Annisa mendorong tubuh suaminya. "Gendong aku!" perintah Annisa sambil mengulurkan kedua tangannya. Abizar mengulas senyum tipis. Dia tahu Annisa bukan wanita yang pemarah. Abizar dengan senang hati mengangkat tubuh Annisa.
"Kamu bertambah berat ya?" gurau Abizar.
"Ya beratlah. Kan yang kamu gendong sekarang ada dua nyawa," jawab Annisa. Abizar pun tersenyum. Dia membawa istrinya masuk ke dalam rumah.
"Annisa kenapa kamu?" tanya Bu Fatimah.
__ADS_1
"Cuma luka sedikit, Bu. Tadi pas aku jalan kurang hati-hati," jawab Annisa.
"Untung saja tidak mempengaruhi kandunganmu." Bu Fatimah merasa lega. "Ayo, ajak suamimu makan!"
Abizar menurunkan Annisa. Bu Fatimah memberikan kotak obat pada Abi. "Makasih, Bu," ucap Abi saat menerima kotak obat itu.
"Aw, pelan-pelan, Mas." Annisa meringis kesakitan.
"Iya, ini juga pelan." Abi mengoleskan obat sambil meniup kaki Annisa yang terluka.
"Mas, kamu tinggal berapa lama?" tanya Annisa. Abizar mendongak.
"Nanti malam aku akan kembali. Bersabarlah sebentar lagi. Aku hanya butuh beberapa hari untuk menyelesaikan proyekku," jawab Abizar. Annisa mengangguk.
"Abi, makan dulu! Kamu pasti belum makan kan?" tebak Bu Fatimah. Abizar tersenyum.
Setelah menyelesaikan sarapan, Abizar mengajak Abi pulang ke rumah orang tuanya. Sebelum mereka turun, Abizar menempelkan telinganya di perut Annisa yang masih rata. "Baik-baik di sini sayang. Jangan rewel ya." Abizar mencoba mengajak berbicara anak yang ada di dalam perut Annisa.
"Jangan ingkar janji ya, Mas." Abizar mencium kening sang istri. "Doakan aku supaya bisa cepat menyelesaikan tantangan dari papa," jawab Abi.
__ADS_1