
Jelang persiapan pernikahan Raka dan Annisa, semua orang terlihat sibuk. Bu Fatimah sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Hanya saja dia harus berada di atas kursi roda karena kondisinya belum membaik sepenuhnya.
Acara akad nikah diadakan di halaman belakang rumah Raka yang luas. Kedua pihak keluarga sudah sepakat acara akad dilangsungkan di rumah Raka agar Annisa bisa langsung tinggal di sana. Taman belakang di sulap menjadi cantik karena penuh hiasan dan dekorasi bunga warna putih.
Raka pun menjabat tangan Pak Hanafi kemudian mengucapkan ikrar suci pernikahan meski di acara pernikahan yang sederhana. Raka telah menyiapkan mas kawin berupa satu set perhiasan emas.
Annisa sedang berada di depan meja riasnya. Seorang penata rias sedang menatanya. "Anda cantik sekali," puji penata rias tersebut.
Usai menata kepala Annisa, dia juga memasangkan aksesoris untuk mempercantik tatanan hijab mempelai wanita.
Hari ini hari yang telah ditunggu oleh semua orang terutama pasangan Raka dan Annisa. "Anda deg-degan ya," tebak penata rias itu ketika melihat Annisa sambil memegangi dadanya yang berdebar.
"Kak," sapa Annisa pada Aisyah yang menghampiri dirinya. Aisyah tersenyum. Annisa tampil cantik dengan memakai gaun pengantin warna putih.
Selain itu setelah ijab qobul, rencananya resepsi akan digelar keesokan harinya. Keluarga Rahman Wijaya mengundang teman dan koleganya di acara resepsi besok.
"Sudah sah." Seseorang memberi tahu kepada Annisa. Aisyah mengajak Annisa keluar. Dia berjalan mendekat ke arah suaminya.
Setelah sah dan menandatangani surat nikah Annisa mencium tangan suaminya. Kebahagiaan Raka tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mimpinya menjadikan Annisa sebagai istri menjadi kenyataan.
Annisa meraih tangan Raka lalu menciumnya sebagai tanda bakti seorang istri.
"Cium, cium, cium!" Sorak para tamu yang berkunjung saat itu.
Raka mencium kening Annisa dengan takzim. "Nanti ada saatnya aku mencium bibirmu," bisik Raka dengan seringai liciknya. Setelah itu, satu per satu tamu memberikan ucapan selamat pada mempelai pengantin.
"Nanti diterusin lagi," ledek ayah Raka.
__ADS_1
Mantan mertua Annisa juga hadir dalam pernikahan itu. Ada rasa kecewa di dalam hati mereka ketika mantan menantu mereka menikah lagi tapi mereka tidak bisa menghalangi kebahagiaan Annisa. Setelah acara ijab qobul itu, keduanya langsung pamit pulang.
Semua orang yang hadir mengucapkan selamat pada Annisa dan Raka. Cukup banyak yang diundang karena kedua pihak keluarga mempelai mengundang keluarga besarnya masing-masing.
"Cie, cie yang sudah sah." Fahri seolah gemas kalau tidak menggoda adiknya. Wajah Annisa jadi memerah karena malu. "Selamat Raka. Titip Annisa dan Dennis, jaga mereka baik-baik." Fahri menepuk bahu suami adiknya itu.
"Pasti. Aku akan menjaga adik kesayanganmu yang kini jadi kesayanganku," jawab Raka sambil melirik ke arah Annisa.
"Annisa," panggil Bu Fatimah. Annisa berjongkok dan memeluk ibunya. "Alhamdulillah sayang mulai saat ini kamu sudah ada yang menjaga." Sesaat kemudian Annisa melepas pelukannya.
"Iya, Bu."
"Raka, ibu serahkan Annisa pada kamu." Bu Fatimah meraih tangan Annisa kemudian menyatukannya dengan tangan Raka. "Ibu harap rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, warohmah."
"Amiin," jawab Raka dan Annisa secara kompak.
Setelah itu Pak Hanafi mendekat ke arah putrinya. Raka tersenyum menyambut ayah mertuanya. Pka Hanafi memeluk Raka untuk pertama kalinya. "Jaga putriku baik-baik. Kini aku serahkan tanggung jawab padamu."
Acara pernikahan hari ini pun usai. Semua tamu undangan pulang ke rumah mereka masing-masing. "Annisa, aku pulang dulu. Kamu baik-baik ya di sini," pesan Fahri pada adiknya itu. Annisa mengangguk.
Raka tersenyum pada kakak iparnya itu. "Tidak usah khawatir, fokus saja menjaga kehamilan istrimu. Doakan istriku segera menyusul," bisik Raka di telinga Fahri. Annisa pun tersipu malu.
"Ya buatlah sebanyak yang kamu mau," balas Fahri yang akhirnya mendapat tatapan tajam dari Aisyah karena suaminya itu bicara kurang sopan.
"Uhuk-uhuk." Annisa tersedak ludahnya sendiri ketika dia mendengar ucapan Fahri. Dia bukan anak polos yang tidak mengerti maksud perkataan kakaknya.
"Sayang, ayo kita pulang," ajak Fahri. "Malam ini kita tidak boleh kalah dari pengantin baru ini," godanya pada sang istri.
__ADS_1
"Hei, jangan main kasar pada kakak ipar kalian akan menyakiti janinnya," seru Raka memperingatkan. Annisa ingin sekali menutup kupingnya ketika mendengar omongan absurb suami dan saudaranya itu.
Setelah acara selesai, Raka mengajak Annisa masuk ke dalam kamar. Annisa melepas baju pengantin yang dia kenakan dengan terburu-buru. "Annisa, mau ke mana? Bahkan kamu belum menghapus make upmu," tanya Raka.
"Aku ingin menemui Dennis, Mas. Seharian aku tidak melihatnya," jawab Annisa.
"Sudah ada mama yang menjaganya kamu tenang saja."
"Sebentar saja, Mas. Aku mohon!" Annisa menangkupkan kedua telapak tangannya. Raka mengangguk.
Annisa pun mencari Dennis. Rupanya anaknya itu tengah tertidur di kamar Bu Rahmi. "Kamu tenang saja Annisa. Mama akan menjaganya malam ini. Nikmati saja malam pengantinmu dengan Raka," ucap Bu Rahmi sambil tersenyum. Annisa membalas dengan senyum kikuk.
"Apa tidak sebaiknya Dennis bersama saya saja, Ma?"
"Dia sudah anteng di sini. Takutnya kalau kamu pindahkan dia malah rewel. Mama tahu perasaan kamu sebagai seorang ibu. Namun, saat ini kamu juga sudah resmi menjadi seorang istri. Lakukan kewajibanmu! Jangan membuat suamimu menunggu lama-lama." Annisa mengangguk.
Dia pun kembali ke kamarnya. Annisa menutup pintu dengan perlahan. Saat itu Raka tengah tertidur. Dia tidak mau membangunkan Raka makaAnnisa pun berjalan dengan hati-hati. Annisa masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cukup lama dia berada di dalam sana. Rasanya deg-degan karena saat ini ada Raka di luar. Annisa ragu untuk keluar tapi dia tidak mungkin terus berada di dalam kamar mandi lama-lama.
Annisa keluar dengan memakai baju piyama sehari-hari. Namun, ada yang berbeda. Rambutnya tergerai indah ke bawah. Kali ini dia melepas hijabnya.
Raka ternyata hanya pura-pura tidur. Dia melihat ke arah Annisa dan dia sempat tertegun. Untuk pertama kalinya dia melihat Annisa tanpa mengenakan hijab. Annisa melihat dirinya sendiri. "Apa aku terlihat aneh?" tanya wanita itu pada suaminya.
Raka mengulas senyum tipis. "Aku hanya terpesona dengan kecantikan istriku." Raka menarik tangan Annisa dengan lembut lalu mengajaknya duduk di tepi ranjang.
Tangan Raka mengelus rambut Annisa yang begitu indah. "Aku sangat beruntung memiliki istri secantik kamu," puji Raka dengan suara yang lembut. Wajah Annisa merah merona. Jujur saja sentuhan Raka membuat dirinya meremang.
__ADS_1
Raka memberikan ciuman singkat di bibir Annisa. Annisa tersentak kaget. Tak hanya itu Raka memeluk istrinya secara tiba-tiba. "Apa aku boleh menyentuhmu lebih dari ini?" tanya Raka yang berbisik di telinga istrinya.
Apa jawaban Annisa?