Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Niat lain


__ADS_3

Hari ini Raihan sengaja datang ke kafe milik Annisa. "Annisa, kamu kenapa ada di sini?" tanya Raihan pura-pura tidak tahu.


"Kebetulan kafe ini milikku dan Mas Abi," jawab Annisa.


"Wah, aku tidak menyangka usahamu sudah berkembang. Bagaimana kalau kita bekerja sama. Kebetulan aku bekerja di bidang periklanan. Mungkin kamu butuh banner dan alat promosi lainnya supaya kafe kamu lebih maju mungkin?" tanya Raihan meminta pendapat.


Annisa berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Raihan ada benarnya juga. Dari dulu dia dan Abi ingin menunjukkan pada Zidan jika mereka bisa membangun usaha sendiri. Annisa ingin kafenya berkembang agar suaminya tidak lagi bekerja di perusahaan ayah mertuanya. Entah kenapa setiap melihat Abizar sepulang kerja wajahnya selalu suram. Annisa berpikir Abizar sangat tertekan bekerja di perusahaan itu.


"Boleh juga," jawab Annisa. Raihan mengulas senyum tipis.


"Baiklah, besok aku akan datang dan menjelaskan promosi apa saja yang bisa kamu lakukan untuk membuat usahamu berkembang," pamit Raihan. Annisa mengangguk setuju.


Sebuah kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan oleh Raihan. "Aku harap bisa lebih dekat lagi dengan Annisa. Setelah itu aku baru bisa membalas dendam pada Abizar," gumam Raihan di dalam mobil.


Sementara itu, Abizar sedang serius di kantor cabang tersebut. Dia menempati posisi sebagai kepala sesuai janji sang ayah. Namun, tantangan terbesarnya adalah menyelesaikan masalah perusahaan yang sedang dihadapi.


Abizar ditemani Beni. Zidan telah menceritakan yang sebenarnya pada asisten pribadinya itu tentang status Abizar. Awalnya Beni terkejut karena selama bekerja tiga tahun terakhir dia tidak pernah bertemu dengan anak-anak Zidan. Satu-satunya anggota keluarga Zidan yang Beni kenal adalah Safa, sang istri bos.


"Apa kamu akan di sini selamanya bersamaku?" tanya Abi.

__ADS_1


"Saya hanya akan di sini sampai besok. Setelah itu Anda bisa bekerja dengan bawahan Anda," jawab Beni dengan nada datar.


"Ck, papa benar-benar membuat aku menderita. Setidaknya minta dia kirimkan aku seseorang yang bisa membantu pekerjaanku," protes Abizar.


"Maaf, Pak. Jika Anda menginginkannya, Anda minta sendiri pada Pak Zidan," tolak Beni.


Abi pun menelepon ayahnya. "Pa, kirimkan seseorang untuk membantu pekerjaanku," rengek Abizar.


"Bukankah di sana sudah ada Beni?" tanya Zidan melalui sambungan telepon.


"Bukankah papa menyuruh dia balik besok?" Abizar balik bertanya.


"Baik, aku tidak akan lanjutkan tantangan dari papa. Aku akan kembali malam ini dengan pesawat," ancam Abi.


"Baik, jangan harap kamu akan dapat warisan dari papa." Zidan balik mengancam.


"Tidak masalah, selama ini aku sudah hidup cukup bersama Annisa. Kami juga sudah memiliki usaha sendiri. Jadi apa yang perlu ditakutkan." Abizar semakin menekan ayahnya.


"Baiklah, tunjuk salah seorang pegawai sesuka hatimu untuk menjadi asisten." Pada akhirnya Zidan mengalah.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Beni?" Abizar meminta pendapat.


"Tidak bisa cari yang lain!" tolak Zidan.


"Cih, sebenarnya anak ayah itu aku atau Beni? Kenapa papa lebih mempertahankan dia dibanding aku. Di sana ada karyawan bernama Edo. Aku ingin papa mengirim Edo untuk menemaniku bekerja di sini."


Zidan menghela nafas. "Baiklah, hanya untuk kali ini saja. Lain kali kamu tidak boleh lagi merengek padaku. Kerjakan apa yang aku suruh atau jangan harap kamu bisa kembali ke sini."


Tut tut tut


Zidan memutus panggilan terlebih dulu. Setelah itu Abizar tertawa puas. "Ternyata aku bisa menang dari orang tua itu," gumam Abi merasa bangga.


Sedangkan Beni sejak tadi hanya diam mematung di tempat. Dia hanya ditugaskan oleh atasannya untuk mengajari Abizar. Itupun hanya selama dua hari saja. Saking sibuknya Abi tak sempat memegang handphone. Padahal Annisa mengirim beberapa pesan untuk Abi. Abizar baru membuka pesan itu ketika sampai di tempat tinggalnya saat ini.


Abi melihat jam yang tergantung di dinding. "Sudah larut, sebaiknya aku balas pesan Annisa besok pagi saja," gumam Abizar.


Dia melonggarkan dasi kemudian berbaring di atas tempat tidur. Badannya lelah seharian mengerjakan pekerjaan di depan laptop. "Apa yang harus aku lakukan agar aku cepat mengembangkan perusahaan itu?" gumam Abi sambil melihat ke arah langit-langit kamarnya.


Sekelebat bayangan wajah cantik Annisa melintas di pikirannya. "Apa dia sedang memimpikan aku saat dia tertidur?" tanya Abizar pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2