Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Musibah


__ADS_3

Abi mengembalikan mobil ibunya setelah mengantar Annisa sampai ke rumah. Ketika berada di rumahnya di bertemu dengan sang ayah. Kebetulan Zidan hari ini pulang cepat, jadi secara tidak sengaja di bertemu ayahnya.


"Kenapa bawa mobil mama?" tanya Zidan.


"Pinjam sebentar," jawab Abizar ketus. Dia memang masih menaruh dendam pada ayahnya karena diusir.


"Untuk apa?" tanya Zidan. Tapi Abizar malas menjawab.


"Pa, aku tidak bisa lama-lama di sini karena Annisa sendirian di rumah. Aku pamit," ucap Abizar.


"Dasar anak tidak sopan," umpat Zidan menatap punggung Abizar yang berjalan semakin menjauh.


Abizar mencari ojek untuk pulang. Ketika di perjalanan, dia melihat Anton. Abizar pun meminta tukang ojek itu berhenti. "Bang Anton!" panggil Abizar dengan suara lantang. Anton tidak menanggapi. Dia masih asyik menikmati gorengan di warung kecil yang ada di pinggir jalan.


"Aku kira abang orang baik-baik ternyata abang menjadikan aku kambing hitam," protes Abizar.


"Aku terpaksa," jawab Anton tanpa menatap wajah Abi.


"Aku tidak akan bekerja lagi di pasar. Aku ke sini hanya ingin mengucapkan terima kasih sudah pernah mengajakku bekerja." Anton diam saja tak menanggapi.


Abizar berjalan menjauh dia harus menemukan ojek lagi agar segera sampai di rumah. Namun, tiba-tiba dua orang yang berbadan besar menghampiri Anton.


Salah satu dari mereka menarik kerah baju Anton kemudian memukulnya. Abizar tak sengaja melihat kejadian itu. Dia tidak bisa tinggal diam. Akhirnya dia berjalan mendekat. Abizar membalas pria itu dan menolong Anton. Suami Annisa itu terlibat perkelahian.


Ketika dua pria itu mulai kalah, salah satu di antaranya mengeluarkan pisau. Dia mengarahkan pisau itu pada Abizar. Abizar yang tidak siap terkena sayatan di bagian lengan.


Tak lama kemudian bantuan datang. Para warga membantu Abizar dan Anton mengusir dua preman itu. "Mas, Anda tidak apa-apa?" tanya seseorang ketika melihat lengan Abizar terluka.


"Bi, lengan lo berdarah," seru Anton.


"Nggak apa-apa, Bang," elaknya. Padahal Abizar menahan perih di bagian lengan kanannya itu.


"Bawa saja ke rumah sakit," usul warga.


"Saya tidak apa-apa. Saya akan pulang saja ke rumah," tolak Abi. Setelah itu dia naik ojek menuju ke rumahnya.


Sementara itu Annisa sangat cemas menanti kedatangan sang suami. "Mas Abi ko nggak pulang-pulang ya." Sedari tadi Annisa mondar-mandir di depan rumah kontrakannya.

__ADS_1


Tak lama kemudian dia melihat Abizar turun dari motor. Usai membayar uang pada tukang ojek tersebut, Abizar berjalan sempoyongan ke arah Annisa. Dia hampir saja terjatuh. Annisa menangkap tubuh suaminya. "Darah?" Annisa melihat tangannya penuh darah.


"Mas, kamu terluka?" tanya Annisa dia menangis melihat keadaan suaminya. Annisa menarik tubuh suaminya sekuat tenaga. Kemudian Annisa mengambil obat luka dan kapas.


"Mas, ini lukanya terlalu lebar. Kita ke rumah sakit ya," bujuk Annisa. Abizar menggeleng.


"Nggak usah. Aku tiduran juga sembuh," tolak Abi. Annisa tidak bisa tinggal diam. Dia memesan taksi online kemudian membawa suaminya ke rumah sakit.


"Pak tolong bantu papah suami saya," kata Annisa ketika taksi online pesanannya sampai sepuluh menit kemudian.


"Baik, Bu."


Abizar hanya pasrah. Dia memang kesakitan. Bahkan bibirnya mulai memucat. Annisa memangku kepala suaminya. Dia masih menangis. "Kamu kenapa bisa sampai begini sih, Mas?" tanya Annisa lirih. Namun, Abizar mulai hilang kesadaran.


Kemudian ketika sampai di rumah sakit, sopir itu memanggil perawat agar membawa Abizar keluar lalu dipindahkan untuk dirawat dan diobati.


Annisa menelepon Safa. Dia mengabari kalau Abizar berada di rumah sakit sekarang. "Hah? Bagaimana bisa?" tanya Safa pada menantunya.


"Aku tidak tahu, Ma. Mas Abi pingsan dia belum sempat cerita," jawab Annisa.


"Ada apa, Ma?" tanya Zidan.


"Abizar ada di rumah sakit, Pa. Mama belum tahu ceritanya tapi kita tanya Annisa nanti." Safa bersiap-siap menuju ke rumah sakit bersama suaminya.


Annisa masih menunggu Abizar di luar. Tak lama kemudian Safa dan Zidan tiba. "Mama." Annisa memeluk ibu mertuanya itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Safa pada menantunya.


"Aku tidak tahu. Pulang-pulang aku melihat darah di lengannya. Kemudian aku menelepon taksi online dan membawa Mas Abi ke sini, Ma," terang Annisa.


"Kita tunggu dokter dulu," sela Zidan.


Sesaat kemudian dokter yang merawat Abizar keluar. "Apa kalian keluarga pasien?" tanya dokter laki-laki itu.


"Ya, kami orang tuanya," jawab Zidan.


"Lukanya tidak terlalu dalam. Tapi dia harus dirawat dulu sampai lukanya membaik," saran dokter tersebut.

__ADS_1


"Baik, terima kasih, Dok."


Mereka menemui Abizar setelah dia dipindahkan ke ruang perawatan. "Mama, kenapa mama bisa ada di sini?" tanya Abi. Dia sudah siuman.


"Kamu bikin panik kami khawatir. Katakan pada mama apa yang terjadi?" tanya Safa.


"Aku tidak tahu tiba-tiba seseorang menyerangku," bohong Abizar.


"Dasar tukang bohong! Kamu pasti punya banyak musuh di luaran sana," tuduh Zidan pada putra bungsunya yang dia kenal suka membuat masalah.


Abizar tersenyum miring. "Papa mana percaya kalau aku sudah berubah,"cibir Abi.


"Benar, Pa. Selama ini aku tidak pernah melihat Mas Abi jahat pada orang lain. Dia tidak pernah membuat masalah, Pa." Annisa membela suaminya.


"Kamu tidak mengenal Abi, Annisa. Dia laki-laki yang sulit diatur makanya papa menikahkan dia dengan kamu," kata Zidan.


"Papa!" Safa memberi kode agar suaminya bisa mengontrol ucapannya.


"Papa punya harapan agar Mas Abi berubah bukan? Dia sudah berubah. Mas Abi yang aku kenal adalah suami yang baik, bertanggung jawab dan hangat," ungkap Annisa. Abizar merasa terharu dengan penuturan sang istri mengenai dirinya.


"Sudah-sudah. Papa biarkan Abi beristirahat. Sebaiknya kita pulang. Annisa kabari kami mengenai perkembangan Abizar!" perintah Safa pada menantunya.


Annisa mengangguk paham. "Hati-hati, Ma."


Setelah kepulangan orang tua Abizar, Annisa menggenggam tangan kiri suaminya. "Jangan membuat aku khawatir lagi. Aku takut terjadi apa-apa pada Mas Abi. Aku tidak mau jadi janda muda," ledek Annisa.


Abizar terkekeh. "Aku bilang juga apa. Malam ini kamu akan capek. Maaf harus membuat kamu berada di sini."


"Mas ngomong apa sih? Sudah tugas aku untuk menjaga kamu. Mas belum cerita padaku, katakan Mas!"


Abizar malah menutup mata dengan sebelah lengannya. "Besok saja aku ngantuk," ucapnya cuek.


"Mas Abi," rengek Annisa.


"Tidur! Sudah malam," perintah Abi. Annisa pun merebahkan diri di sofa panjang yang ada di ruangan itu.


Abi membuka mata ketika suasana sudah hening karena istrinya telah tertidur. "Maaf, aku tidak bisa bercerita," gumam Abi lirih sambil menatap Annisa.

__ADS_1


__ADS_2