Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Istri yang baik


__ADS_3

Annisa membeli oleh-oleh berupa buah segar sebelum dibawa ke rumah orang tuanya. "Assalamualaikum," teriak Annisa ketika dia sampai di rumah orang tuanya.


"Waalaikumsalam." Sang Ibu, Bu Fatimah menjawab salam dari putri bungsunya itu.


"MasyaAllah Annisa kamu pulang?" Bu Fatimah langsung memeluk Annisa karena teramat rindu.


Sesaat kemudian Annisa mengurai pelukannya. "Apa kabar, Bu?"


"Alhamdulillah, baik. Kamu datang sendirian?" tanya Bu Fatimah.


"Iya, Bu. Mas Abi sedang bekerja. Dia titip salam untuk bapak dan ibu," tutur Annisa.


"Iya, salam balik dari kami. Ayo kita ke dapur. Bantu ibu masak!" Ajak Bu Fatimah.


"Bapak ke mana, Bu?" tanya Annisa yang tidak melihat ayahnya.


"Ke kebun, hari ini sedang panen cabai dan tomat," jawab Bu Fatimah.


"Alhamdulillah." Annisa ikut bersyukur karena usaha orang tuanya membuahkan hasil.


"Bagaimana? Apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil? Ini sudah sebulan lebih kamu menikah." Annisa merasa gugup.


'Bagaimana bisa hamil, Bu? Aku tidur terpisah dengan suamiku,' batin Annisa merasa sedih.


Annisa menggeleng. "Doakan kami agar segera mendapatkan momongan ya, Bu."


"Tidak usah bersedih seperti itu. Kalian masih punya banyak waktu untuk berusaha. Dulu ibu juga tidak langsung hamil abangmu. Selang tiga bulan setelah kami menikah barulah dikasih momongan. Maaf, ibu hanya antusias menunggu kabar bahagia dari kalian."


Annisa merasa bersalah karena membohongi ibunya. "Nanti aku tidak bisa berlama-lama di sini, Bu. Mas Abi berpesan agar pulang sebelum dia pulang kerja."


"Iya, seorang istri memang harus menurut pada suaminya. Apa Abi memperlakukan kamu dengan baik? Jujur saja ibu khawatir pernikahan kalian tidak akan berjalan lancar."


Annisa tersenyum. "Ibu tenang saja. Aku dan Mas Abi baik-baik saja. Hanya saja saat ini kami kesulitan materi semenjak orang tua Mas Abi mengusirnya."


"Pasti ada alasan orang tua Abi melakukan hal itu. Bapakmu sudah kenal lama dengan Pak Zidan. Jadi kami tahu kalau Abi berasal dari keluarga baik-baik. Jadi waktu itu kami menerima pinangan orang tua Abi untukmu."

__ADS_1


Annisa menghentikan kegiatannya memotong wortel. Lalu dia menggenggam tangan ibunya. "Ibu tenang saja. Mas Abi selalu baik padaku. Aku juga akan berusaha jadi istri yang baik untuknya."


"Iya, Nak. Ibu selalu mendoakan kebahagiaan kalian."


Usai memasak, Bu Fatimah mengajak Annisa makan bersama. "Bapak kira-kira pulang jam berapa, Bu?" tanya Annisa.


"Bapakmu pulang petang biasanya," jawab Bu Fatimah.


"Kalau begitu nanti salam saja buat bapak. Aku harus mampir ke suatu tempat sebelum kembali ke rumah."


"Ya sudah nanti ibu akan bawakan kamu lauk supaya nanti malam kamu tidak usah masak. Makanlah bersama suamimu." Annisa mengangguk setuju.


Sekitar pukul satu siang, Annisa pamit pulang. "Lain kali Annisa akan datang lagi ke sini. Ibu jaga kesehatan," pesan Annisa pada ibunya.


"Hati-hati di jalan Annisa." Annisa pergi setelah mencium tangan orang yang telah melahirkan dia.


Sebelum kembali ke rumah, Annisa mampir ke minimarket untuk membeli kebutuhan bulanannya. Dia membeli pembalut karena perkiraan menstruasi bulan ini sudah dekat. "Semoga bulan depan aku udah nggak mens selama 9 bulan ke depan," gumam Annisa lirih.


Dia berharap hamil di bulan depan. Ya, meskipun sampai sekarang Abi belum sempat menyentuhnya. Tapi Annisa yakin seiring berjalannya waktu, Abi akan mencintai dirinya.


Annisa berjongkok memungut pembalutnya yang jatuh. "Tidak apa-apa," jawab Annisa.


Pemuda itu terpesona dengan kecantikan Annisa. Dia pun mengulurkan tangan untuk mengajak Annisa berkenalan. "Nama kamu siapa?" tanya Raihan.


Annisa tidak menjawab. "Maaf, saya sudah bersuami. Tidak pantas kalau saya berkenalan dengan seorang laki-laki." Annisa pergi setelah mengatakan itu.


Raihan saja penasaran dengan gadis yang mengaku dirinya telah jadi milik orang itu. "Dia pasti berbohong," gumam Raihan yang tidak percaya kalau Annisa telah menikah.


Annisa pergi dengan naik ojek agar sampai ke rumah dengan cepat. Sesampainya di rumah, Annisa heran saat melihat pintu rumahnya terbuka. "Apa Mas Abi sudah pulang?" gumam Annisa.


Dia pun memberanikan diri untuk mengecek. "Mas Abi," panggil Annisa ketika melihat suaminya tidur di kursi panjang yang ada di ruang tamu.


Abi yang mendengar suara Annisa pun terbangun. "Annisa."


Annisa terkejut melihat wajah suaminya yang lebam. Annisa duduk di samping Abi. "Mas, kenapa dengan wajah kamu? Apa kamu habis berkelahi?" tanya Annisa. Dia begitu cemas pada suaminya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa hanya terjatuh," jawab Abi berbohong.


"Biar aku obati ya?" Abizar menepis tangan Annisa.


"Aku sudah mengobatinya."


"Mas Abi ceritakan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu babak belur seperti ini?" Annisa benar-benar tidak habis pikir. Abi yang selama ini dia kenal tidak pernah kasar tapi mengapa tiba-tiba berantem, pikir Annisa.


"Annisa, tidak ada yang perlu aku ceritakan. Besok juga sembuh," elak Abizar.


"Aku bawa makanan dari ibu. Mari kita makan sama-sama. Mas Abi pasti belum makan bukan?" Annisa mengambilkan piring dan juga minuman untuk suaminya. Dia melayani Abi dengan baik.


"Terima kasih."


Keesokan harinya ketika Abi akan berangkat kerja, Annisa melarang suaminya. "Mas, mau ke mana?" tanya Annisa.


"Aku mau kerja," jawab Abi.


"Tapi Mas Abi bukannya masih sakit. Istirahatlah dulu saja!"


"Aku tidak apa-apa, Nisa. Nanti kalau Mas tidak bekerja kita dapat uang dari mana?" tanya Abi.


Annisa menangis ketika mengingat suaminya mengangkat karung. Apalagi dia dalam keadaan habis dipukuli. "Annisa kenapa kamu menangis?" tanya Abizar.


"Aku hanya sedih karena di saat Mas Abi sakit, Mas masih memaksa bekerja. Aku takut terjadi sesuatu pada Mas Abi," jawabnya sambil menunduk.


Abizar memegang kedua bahu istrinya. "Percaya sama Mas. Kali ini Mas akan lebih berhati-hati."


Annisa mendongak. Di saat yang bersamaan Abi mencium wanita yang halal untuk dia sentuh itu. Abi mencium Annisa di bagian bibir. Kali ini dia tidak sekedar menempelkan bibir tapi Abi menciumnya agak lama.


Annisa hanya pasrah karena dia belum berpengalaman. Namun, sesaat kemudian Abi melepas pagutannya. Dia mengontrol diri agar tidak melakukan lebih. Hatinya belum siap meminta haknya sebagai suami. Abizar sadar kalau Annisa adalah gadis polos yang tidak pantas untuk orang kotor seperti dia.


"Aku berangkat dulu," pamit Abi. Annisa mengangguk.


...***...

__ADS_1


...Mereka mengatakan seseorang hanya perlu tiga hal untuk benar-benar bahagia di dunia ini : seseorang untuk dicintai, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu untuk diharapkan....


__ADS_2