Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Bertengkar


__ADS_3

Abizar mengajak Annisa makan di luar. Mereka makan di sebuah restoran yang tak jauh dari gedung apartemen milik mereka. "Mas, apa tidak sebaiknya kita makan di tempat lain?" Annisa meminta pendapat suaminya.


Abizar tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Tenang saja, Sayang. Uang kita cukup untuk makan di sini," jawab Abi.


Sesaat kemudian seorang laki-laki menghampiri mereka berdua. "Annisa," panggil Arka. Annisa terkejut. Begitu pula dengan Abi yang merasa cemburu.


"Siapa dia?" tanya Abi dengan nada dingin pada sang istri.


Sebelum Annisa menjawab Arka lebih dulu menyela. "Gue Arka mantan pacarnya Annisa," ucap Arka sambil mengulurkan tangan. Annisa terkejut ketika mendengar Arka mengarang cerita. Sedangkan Abizar menatap Annisa dan Arka secara bergantian. Dia tidak membalas uluran tangan Arka.


Annisa menyangkal ucapan Arka dengan menggelengkan kepalanya. "Mas..."


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Arka.


Abizar merasa keberatan. Wajahnya ditekuk dan malah membuang muka. Arka tak peduli dia terus mendekati Annisa. Arka memang berniat mengganggu hubungan Annisa dengan pasangannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Annisa dengan penuh penekanan.


"Aku hanya ingin bergabung denganmu apa tidak boleh?" jawab Arka dengan santainya. Annisa mengepalkan tangan.


"Rupanya kamu tidak pandai membaca situasi. Lalat saja diusir langsung kabur," sindir Abizar sambil tersenyum sinis.


Arka juga membalas dengan senyuman yang sama. "Sayangnya aku bukan lalat. Tapi aku kumbang yang pernah hinggap di bunga yang ada di tanganmu."


Kata-kata Arka mengisyaratkan kalau hubungan pacaran yang dia akui sudah melebihi batas. "Mas, jangan dengarkan dia! Sebaiknya kita pindah." Annisa menarik tangan suaminya agar berdiri.


Abizar mengikuti istrinya, tapi saat di luar Abizar menepis tangan Annisa. "Jelaskan padaku hubungan seperti apa yang kamu jalani semasa pacaran dengan laki-laki itu?" desak Abizar.


"Aku tidak pernah pacaran dengan dia, Mas. Dia itu psikopat. Mana mungkin aku menyukai dia?" ucap Annisa membela diri.


"Kamu tahu kata-katanya memberikan arti kalau dia pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman," tuduh Abizar.


Plak

__ADS_1


Annisa menampar suaminya. "Kamu keterlaluan, Mas. Mulutmu itu telah menyakiti hatiku. Tega sekali kamu menuduh aku seperti itu. Hubunganku dan Arka sangat rumit bahkan Mas Abi tidak akan bisa membayangkannya."


Annisa menghentikan taksi. Dia naik ke dalam taksi terlebih dulu. Annisa menangis karena kecewa terhadap suaminya. "Kamu nggak tahu Mas kalau aku sedang menghindari pembunuh," gumam Annisa di dalam taksi.


Sedangkan Abizar meraup mukanya kasar setelah membuat Annisa pergi meninggalkannya. "Be*go lo, Bi. Kenapa bisa-bisanya elo menuduh Annisa yang bukan-bukan. Padahal elo nggak tahu kebenarannya." Abizar menyalahkan dirinya sendiri.


Di saat yang bersamaan teman-teman Abizar yang kebetulan lewat di depan Abi menggunakan mobil berhenti di hadapannya. Kemudian salah satu dari mereka keluar.


"What's up Bro?" Pria itu mengalungkan tangannya ke leher Abi. Abizar melepas tangan lelaki itu.


"Lo kenapa, Bro? Udah lama nggak main ke bar?" tanya teman Abizar.


"Sorry gue udah tobat. Gue nggak akan lagi datang ke tempat lucknut itu. Asal lo tahu mabuk bikin lo cepet ma*ti tahu nggak?" ucap Abizar.


Pria itu tertawa lantang. "Gue heran apa yang membuat lo jadi berubah kaya gini, Bro?" tanya laki-laki itu.


"Gue sadar kalau gue selama ini melakukan hal yang sia-sia. Dan ada seseorang yang telah membuka mata gue. Sebaiknya kalian juga tobat sebelum ajal menjemput lo lo pada."


"Ajal nggak punya kaki, Bro mana mungkin bisa datang menjemput," bantah teman Abizar. Abizar tidak peduli mereka mau mengikuti nasehatnya atau tidak. Bagi Abi yang jelas dia telah menyampaikan kebenaran.


Abi pun yakin untuk tetap di jalan yang benar. Setelah itu, dia ingat untuk menyusul Annisa. Annisa berniat pulang ke rumahnya lebih dulu. Namun, setelah dia ingat Arka selalu muncul di akhirnya, Annisa memilih untuk mampir ke rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum, Bu," panggil Annisa. Bu Fatimah pun keluar ketika mendengar seseorang yang mengucapkan salam.


"Waalaikumussalam," jawab Bu Fatimah. "Annisa kamu ke sini sama siapa?" tanya Bu Fatimah berbasa-basi yang melihat Annisa datang sendiri.


"Sediri,Bu," jawab Annisa.


"Abi ke mana?' tanya sang ibu pada Annisa.


"Mas Abi sedang ada urusan mendesak, Bu," jawab Annisa berbohong.


Bu Fatimah mengajak Annisa duduk. "Mana mungkin, ini kan sudah malam. Apa kalian bertengkar ya?" tanya Bu Fatimah yang tidak percaya pada ucapan anaknya itu.

__ADS_1


Annisa menghela nafas. "Hanya kesalahpahaman kecil, Bu. Kami bertengkar usai makan malam hari ini," jawab Annisa. Kali ini dia berkata jujur pada ibunya.


"Kalau kalian ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, jangan main kabur seperti ini," sela Pak Hanafi. Annisa menunduk.


Pak Hanafi duduk di samping Annisa sedangkan Bu Fatimah berdiri dari duduknya."Ya sudah ibu buatkan kamu minuman dulu. Tunggu di sini ya!" Annisa mengangguk.


Di tempat lain Abi yang telah sampai di kediamannya, tidak mendapati annisa di mana pun. "Apa dia tidka pulang ke rumah?" tanya Abi pada dirinya sendiri. Abi pun menelepon ke handphone Annisa.


"Annisa, handphone kamu berbunyi terus kenapa tidak di angkat?" tanya Pak Hanafi.


Annisa malas menerima panggilan dari suaminya. "Apa itu dari Abizar?" tebak Pak Hanafi. Annisa tak menjawab.


"Cepat angkat! Minta dia untuk menjemput kamu di sini. Jangan menghindar karena masalah tidak akan selesai kalau kamu tidak membuat keputusan." Pak Hanafi menasehati putri bungsunya itu. Annisa mempertimbangkan ucapan ayahnya.


Akhirnya dia pun mengangkat telepon dari suaminya. "Assalamualaikum, Mas," jawab Annisa.


"Waalaikumsalam, kamu di mana Annisa?" tanya Abi melalui sambungan telepon.


"Aku di rumah bapak, Mas," jawab Annisa.


"Kalau begitu aku jemput kamu ya? Maafkan aku soal yang tadi."


"Iya, Mas. Aku tunggu Mas Abi di sini," jawab Annisa yang sesaat lalu telah memaafkan suaminya.


Usai mengakhiri panggilan itu, Abizar pun berangkat. Tapi dia mampir ke rumah orang tuanya terlebih dulu untuk mengambil mobilnya.


"Abi, ngapain ke sini malam-malam?" tanya Mama Safa.


"Ma, di mana kunci mobilku? Aku butuh sekarang untuk menjemput Annisa di rumah orang taya." ucap Abi sambil menengadahkan tangannya.


"Mama nggak pegang kunci mobil kamu, Bi," jawab Mama Safa.


"Jadi kunci mobil Abi papa yang pegang?" tanya Abizar. Mamanya mengangguk.

__ADS_1


Apakah Abi memiliki keberanian untuk meminta kunci mobil pada papannya?


__ADS_2